Saturday, 27 September 2014

Suatu hari abi ditanyai. Kenapa memilih nama seperti ini. Mereka berpendapat nama umar tidak memiliki arti. Kurang up date untuk masa kini. Kenapa tidak di beri nama sesuai tahun, bulan atau hari yang di kolaborasi? Atau gabungan nama-nama islami yang di kompilasi? Apakah tidak takut terjadi diskriminasi dikemudian hari? 
 
Waktu itu abi belum fasih berbahasa sambas ketika engkau lahir pertama kali. Sehingga pertanyaan yang bertubi-tubi tak bisa di jawab dengan penuh percaya diri. Dan kalaupun abi berani menjawab secara rinci, pasti akan panjang sekali. Dan pasti akan terjadi kontroversi hati disana-sini. Pikir abi. Jika mengingat hal ini, jadi senyum-senyum sendiri. Setelah mempertimbangkan berkali-kali. Akhirnya abi berusaha menuliskan perihal ini. Kelak ketika engkau besar nanti. Jika ada yang menanyakan perkara ini kembali.Bacalah tulisan abi. Semoga engkau bisa menjawab dengan penuh kebesaran hati. Dan dapat menginspirasi. 
 
Nama umar terlintas pertama kali sewaktu abi belum mempunyai istri. Belum pernah melihat ummi. Baik di alam nyata maupun di alam mimpi. Entah mengapa fikiran abi mengembara ke sana. Padahal saat itu masih berstatus mahasiswa. Belum ada gambaran kapan mau wisuda, bekerja apalagi menikah. Kalau tidak salah di tahun 2006 atau 2005 kejadiannya. Abi berimajinasi, kalau punya anak laki-laki, dan diberi nama umar, kira-kira cocok gak ya? Tidak ada tujuan dan maksud apapun jua. Semua hanyalah khayalan tiba-tiba tanpa terencana. Khayalan anak muda yang sedang bimbang hati dan fikirannya. Karena amanah sebagai presiden mahasiswa sedang di goyang di kudeta. Namun, seiring perjalanan waktu, nama itu telah menemukan takdirnya. Ternyata lintasan pikiran itu dikabulkan Allah Subhanahuwwata'ala. Abi benar-benar tak menyangka. Perasaan haru dan suka-cita, menyatu tak terkira. Ketika engkau lahir ke dunia dan ditanya mau diberi nama siapa? Hanya UMAR yang ada di kepala. Alhamdulillah. Puji syukur pada Tuhan yang maha kuasa. Abi sangat bahagia.
 
Tahukah engkau Nak? Nama adalah sebuah doa. Nama adalah sebuah pengharapan orang tua kepada sang pencipta. Dan nama adalah sebuah identitas yang bisa menggambarkan sifat, karakter dan perilaku setiap manusia. Oleh karena itu, abi berharap (PKS) prilaku, karakter dan sikapmu akan sepertinya. Pribadi yang bersahaja apa adanya. Hati dan raga sama, jauh dari citra. Yang di kejar hanyalah karya. Pribadi yang berfikiran terbuka dan lapang dada. Ingatlah. Fikiran terbuka tanpa beban, akan melahirkan kejernihan pemikiran. Ketajaman penglihatan, perasaan yang murni tanpa hambatan. Kalau itu sudah tertanam dikepribadian, abi yakin engkau akan menjadi seorang yang teguh pendirian. Tidak mudah terombang-ambing layaknya buih di lautan. Kokoh laksana Gunung yang menghunjam. Disegani kawan, lawan, bahkan syetan. 
 
Seperti sosok umar ibnul khattab radiyallahu'an. Dalam memutuskan masalah, kemaslahatan bersama adalah prioritas yang paling utama. Tidak ada kepentingan apapun di dalam hatinya. Tidak ada yang bisa mindiktenya. Sehingga ia tidak terbebani oleh pribadi, atau keuntungan yang dicari. Dan ia tidak takut akan segala macam konsekuensi. Semasa muda, kepintarannya diakui oleh tokoh-tokoh ternama. Hal itu terbukti dalam forum-forum diskusi semasa jahili, ia selalu mewakili. Dan tak jarang pendapatnya selalu di hargai dan disetujui. Hanya ini filosofi dari nama yang abi kuasai. Semoga engkau tidak terbebani atas segala keinginan abi dan ummi. Jika engkau ingin mengetahui siapa umar sebenarnya, lengkap dari ia masih jahiliah sampai ia menuju Tuhannya. Bacalah buku yang dilemari kaca rumah kita. Di sana ada biografi umar khalifah ke dua. Dan umar khalifah ke lima generasi berikutnya. Ummi dan abi sudah menyiapkan semenjak lama. Di laptop juga ada filmnya. Terakhir, seandainya nanti. Engkau ditakdirkan menjadi penguasa di muka bumi. Cermati pernyataan ini. 
 
"Wahai manusia! Tugas penguasa yang paling penting terhadap rakyatnya adalah mendahulukan kewajiban mereka kepada Allah Subhanahuwwata'ala. Seperti yang telah dituliskan alquran sebagai petunjuk-Nya. Tugas kami (penguasa) adalah menyediakan apa yang Allah perintahkan kepada mu dalam beribadah. Sehingga engkau menjadi orang yang bertaqwa. Serta menjauhkan kalian dari perbuatan sia-sia. Kami juga harus menerapkan perintah Allah. Dimana mereka diperlakukan sama dalam keadilan yang nyata. Dengan begitu kita memberikan kesempatan kepada orang bodoh untuk belajar. Yang lengah untuk memperhatikan. Dan seorang yang sedang mencari teladan untuk jadi panutan. Wahai manusia! Untuk menjadi orang beriman yang sejati, tidak didapatkan dengan mimpi. Tetapi dengan kerja keras hari demi hari. Makin besar amal perbuatan seseorang makin besar pula balasan dari Tuhan seru sekalian alam. Dan jihad adalah puncaknya amal kebaikan. Dan barangsiapa yang ikut berjihad dan meninggal kan perbuatan dosa. Dan ikhlas terhadapnya. Syurga Balasannya. Sebagian orang menyatakan telah berjihad, tetapi jihad di jalan Allah yang sesungguhnya adalah menjauhkan diri dari dosa-dosa. Tidak ada yang disayangi Allah yang maha perkasa, dan bermanfaat bagi manusia. Dari pada kebaikan penguasa berdasarkan pemahaman yang benar dan wawasan yang menyemesta. Tidak ada yang paling dibenci Allah selain ketidaktahuan dan kebodohan para penguasa. Barang siapa yang diperlakukan tidak adil segera lapor Padaku. Demi Allah yang nyawaku ada di tangannya. Aku akan menegakkan keadilan terhadap kezaliman mereka. Jika aku gagal, aku termasuk orang-orang yang hina. Lebih baik bagi ku mengganti gubernur tiap hari, dari pada membiarkan penguasa zalim sebagai pejabat dalam sejam di dunia ini. Mengganti gubernur lebih mudah daripada merubah rakyatnya. Maka barangsiapa yang mengurusi urusan orang muslim bertakwalah kepada Allah dalam memperlakukannya. Kepada semua penguasa jangan memukuli orang untuk menghinakan mereka. Jangan membunuh mereka dan tidak mengurusinya. Dan jangan menyusahkan mereka sehingga mereka berat menjalani kehidupannya. Mekkah, dzulhijjah 23 Hijriyah, Umar ibnul Khattab.

Surat untuk Umar

at 19:47  |  No comments

Suatu hari abi ditanyai. Kenapa memilih nama seperti ini. Mereka berpendapat nama umar tidak memiliki arti. Kurang up date untuk masa kini. Kenapa tidak di beri nama sesuai tahun, bulan atau hari yang di kolaborasi? Atau gabungan nama-nama islami yang di kompilasi? Apakah tidak takut terjadi diskriminasi dikemudian hari? 
 
Waktu itu abi belum fasih berbahasa sambas ketika engkau lahir pertama kali. Sehingga pertanyaan yang bertubi-tubi tak bisa di jawab dengan penuh percaya diri. Dan kalaupun abi berani menjawab secara rinci, pasti akan panjang sekali. Dan pasti akan terjadi kontroversi hati disana-sini. Pikir abi. Jika mengingat hal ini, jadi senyum-senyum sendiri. Setelah mempertimbangkan berkali-kali. Akhirnya abi berusaha menuliskan perihal ini. Kelak ketika engkau besar nanti. Jika ada yang menanyakan perkara ini kembali.Bacalah tulisan abi. Semoga engkau bisa menjawab dengan penuh kebesaran hati. Dan dapat menginspirasi. 
 
Nama umar terlintas pertama kali sewaktu abi belum mempunyai istri. Belum pernah melihat ummi. Baik di alam nyata maupun di alam mimpi. Entah mengapa fikiran abi mengembara ke sana. Padahal saat itu masih berstatus mahasiswa. Belum ada gambaran kapan mau wisuda, bekerja apalagi menikah. Kalau tidak salah di tahun 2006 atau 2005 kejadiannya. Abi berimajinasi, kalau punya anak laki-laki, dan diberi nama umar, kira-kira cocok gak ya? Tidak ada tujuan dan maksud apapun jua. Semua hanyalah khayalan tiba-tiba tanpa terencana. Khayalan anak muda yang sedang bimbang hati dan fikirannya. Karena amanah sebagai presiden mahasiswa sedang di goyang di kudeta. Namun, seiring perjalanan waktu, nama itu telah menemukan takdirnya. Ternyata lintasan pikiran itu dikabulkan Allah Subhanahuwwata'ala. Abi benar-benar tak menyangka. Perasaan haru dan suka-cita, menyatu tak terkira. Ketika engkau lahir ke dunia dan ditanya mau diberi nama siapa? Hanya UMAR yang ada di kepala. Alhamdulillah. Puji syukur pada Tuhan yang maha kuasa. Abi sangat bahagia.
 
Tahukah engkau Nak? Nama adalah sebuah doa. Nama adalah sebuah pengharapan orang tua kepada sang pencipta. Dan nama adalah sebuah identitas yang bisa menggambarkan sifat, karakter dan perilaku setiap manusia. Oleh karena itu, abi berharap (PKS) prilaku, karakter dan sikapmu akan sepertinya. Pribadi yang bersahaja apa adanya. Hati dan raga sama, jauh dari citra. Yang di kejar hanyalah karya. Pribadi yang berfikiran terbuka dan lapang dada. Ingatlah. Fikiran terbuka tanpa beban, akan melahirkan kejernihan pemikiran. Ketajaman penglihatan, perasaan yang murni tanpa hambatan. Kalau itu sudah tertanam dikepribadian, abi yakin engkau akan menjadi seorang yang teguh pendirian. Tidak mudah terombang-ambing layaknya buih di lautan. Kokoh laksana Gunung yang menghunjam. Disegani kawan, lawan, bahkan syetan. 
 
Seperti sosok umar ibnul khattab radiyallahu'an. Dalam memutuskan masalah, kemaslahatan bersama adalah prioritas yang paling utama. Tidak ada kepentingan apapun di dalam hatinya. Tidak ada yang bisa mindiktenya. Sehingga ia tidak terbebani oleh pribadi, atau keuntungan yang dicari. Dan ia tidak takut akan segala macam konsekuensi. Semasa muda, kepintarannya diakui oleh tokoh-tokoh ternama. Hal itu terbukti dalam forum-forum diskusi semasa jahili, ia selalu mewakili. Dan tak jarang pendapatnya selalu di hargai dan disetujui. Hanya ini filosofi dari nama yang abi kuasai. Semoga engkau tidak terbebani atas segala keinginan abi dan ummi. Jika engkau ingin mengetahui siapa umar sebenarnya, lengkap dari ia masih jahiliah sampai ia menuju Tuhannya. Bacalah buku yang dilemari kaca rumah kita. Di sana ada biografi umar khalifah ke dua. Dan umar khalifah ke lima generasi berikutnya. Ummi dan abi sudah menyiapkan semenjak lama. Di laptop juga ada filmnya. Terakhir, seandainya nanti. Engkau ditakdirkan menjadi penguasa di muka bumi. Cermati pernyataan ini. 
 
"Wahai manusia! Tugas penguasa yang paling penting terhadap rakyatnya adalah mendahulukan kewajiban mereka kepada Allah Subhanahuwwata'ala. Seperti yang telah dituliskan alquran sebagai petunjuk-Nya. Tugas kami (penguasa) adalah menyediakan apa yang Allah perintahkan kepada mu dalam beribadah. Sehingga engkau menjadi orang yang bertaqwa. Serta menjauhkan kalian dari perbuatan sia-sia. Kami juga harus menerapkan perintah Allah. Dimana mereka diperlakukan sama dalam keadilan yang nyata. Dengan begitu kita memberikan kesempatan kepada orang bodoh untuk belajar. Yang lengah untuk memperhatikan. Dan seorang yang sedang mencari teladan untuk jadi panutan. Wahai manusia! Untuk menjadi orang beriman yang sejati, tidak didapatkan dengan mimpi. Tetapi dengan kerja keras hari demi hari. Makin besar amal perbuatan seseorang makin besar pula balasan dari Tuhan seru sekalian alam. Dan jihad adalah puncaknya amal kebaikan. Dan barangsiapa yang ikut berjihad dan meninggal kan perbuatan dosa. Dan ikhlas terhadapnya. Syurga Balasannya. Sebagian orang menyatakan telah berjihad, tetapi jihad di jalan Allah yang sesungguhnya adalah menjauhkan diri dari dosa-dosa. Tidak ada yang disayangi Allah yang maha perkasa, dan bermanfaat bagi manusia. Dari pada kebaikan penguasa berdasarkan pemahaman yang benar dan wawasan yang menyemesta. Tidak ada yang paling dibenci Allah selain ketidaktahuan dan kebodohan para penguasa. Barang siapa yang diperlakukan tidak adil segera lapor Padaku. Demi Allah yang nyawaku ada di tangannya. Aku akan menegakkan keadilan terhadap kezaliman mereka. Jika aku gagal, aku termasuk orang-orang yang hina. Lebih baik bagi ku mengganti gubernur tiap hari, dari pada membiarkan penguasa zalim sebagai pejabat dalam sejam di dunia ini. Mengganti gubernur lebih mudah daripada merubah rakyatnya. Maka barangsiapa yang mengurusi urusan orang muslim bertakwalah kepada Allah dalam memperlakukannya. Kepada semua penguasa jangan memukuli orang untuk menghinakan mereka. Jangan membunuh mereka dan tidak mengurusinya. Dan jangan menyusahkan mereka sehingga mereka berat menjalani kehidupannya. Mekkah, dzulhijjah 23 Hijriyah, Umar ibnul Khattab.

Read More

0 comments:

Pak jokowi yang saya hormati. Semoga Allah selalu menyertai dimana pun anda kini. Dengan segala kerendahan hati dan tidak bermaksud menambah beban pada masa transisi. Apalagi bermaksud untuk menyakiti. Saya ingin sedikit berbagi dan menyampaikan beberapa keresahan hati. Keresahan hati dari pengunjung rumah makan yang tak pernah sepi dari pembeli. Rumah makan yang paling disukai kalangan muda-mudi berseragam merah,biru,abu-abu dengan atasan putih berdasi. Rumah makan yang juga dicintai sebagian kalangan pegawai negeri. Dan rumah makan yang menjadi idola orang-orang seperti kami. Para pendamping petani yang hanya mendapatkan 10 bulan gaji. Pak jokowi presiden kami yang terpilih. 
 
Di warung nasi yang tak pernah sepi ini. Kami masih bisa menikmati makan siang dengan harga murah sekali. 6 rb rupiah satu porsi. Jika dibandingkan di Surakarta atau Yogyakarta, ataupun di kota lainnya, satu porsi 6 rb rupiah, mungkin masih bisa ditemui. Tapi, tatkala harga sembako disini sudah naik berkali-kali, dikala harga barang sudah jauh meninggalkan penghasilan kami dan enggan kembali. Di tambah posisi daerah yang jauh diperbatasan negeri, harga demikian (6rb satu porsi) merupakan harga yang pas dengan kantong kami saat ini. Harga realistis bagi pelajar, anak seorang petani. 
 
Maka dari itu, rumah makan ini sangat digandrungi. Kami sangat bersyukur sekali. Masih ada penjual nasi yang memperhatikan keberadaan kami. Orang-orang yang berpenghasilan cenderung ke kiri (belum mapan). Thanks bu yati. Pak jokowi yg kami cintai. 6rb satu porsi itu, terdiri dari nasi putih, sambal tempe, telur mata sapi + mie. Kami tak perduli di makanan ini apakah ada asupan gizi? Tak terfikirkan lagi harus berapa energi yang dihasilkan dari asupan makanan yang tersaji, agar dapat melanjutkan aktivitas sehari-hari. (I don't think about that). Bagi kami yang terpenting adalah makhluk di perut tidak bereaksi. Yang penting makhluk di perut tidak demonstrasi. Itulah standarisasi pola makan orang-orang kiri seperti kami.

Pak jokowi yang saya kagumi. Berawal dari sini, saya tak henti-henti termenung sendiri. Mulai siang hari sampai keesokannya lagi. Saya berasumsi. Dulu sebelum pak SBY menaikkan harga bbm sebanyak empat kali. Warung nasi 6rb satu porsi menjamur di sana-sini. Tak perlu repot mencari. Kondisi seperti ini sangat kami nikmati. Kini, satu-satunya warung nasi yang melayani 6rb satu porsi di daerah kami, ya cuma ini. Yang saya ceritakan dalam tulisan ini. Kondisi warungnya pun sudah tak kondusif lagi. Mungkin karena jiwa sosial dan rasa ingin melayani bu yati begitu tinggi, sehingga untung-rugi tak diperhatikannya lagi. Kondisi bangunan yang seharusnya diperbesar/diperlebar pun luput dari perhatian. Kalau sudah jam makan siang hari, pasti harus ngantri. 
 
Hati nurani saya bertanya begini. Apakah dikepemimpinan pak jokowi nanti, nasi 6rb satu porsi bu yati, masih bisa kami nikmati? Apakah dikepemimpinan pak jokowi nanti, warung nasi yang melayani pembeli 6rb satu porsi masih bisa kami temui? Saya berdoa semoga Tuhan penguasa langit dan bumi memberi kekuatan agar pak jokowi dapat merealisasikan semua janji-janji. Pak, Kami mendengar di tv, bahwa harga bbm akan dinaikkan lagi. Dengan alasan negara tak mampu lagi mensubsidi. Kata pengamat ekonomi, dan para politisi, subsidi bbm hanya dinikmati orang-orang kaya di negeri yang kita cintai ini. Namun, sebagian para pengamat ekonomi dan para politisi yang lain menolak rencana kebijakan ini. Katanya masih ada solusi. Efek kenaikan bbm dalam negeri akan mengakibatkan inflasi. Harga barang akan melambung tinggi. Jumlah rakyat miskin akan semakin bertambah kembali. Kalau diteruskan terkena ke orang-orang kiri seperti kami. Terus terang pak jokowi, sebagai orang yang tak mengerti, saya tak ingin mencampuri hal seperti ini. Bukan kapasitas saya mendiskusikan hal ini. Saya percayakan saja ke pak jokowi bersama anggota DPR RI terpilih yang akan membahasnya nanti. Namun besar harapan kami, agar kiranya semua kebijakan pak jokowi, tak akan memengaruhi rumah makan yang tinggal satu-satunya di tempat kami. Karena disitulah tempat berkumpulnya orang-orang 'golongan kiri' tuk memperbaharui energi. ‪#‎salam2jari‬#

6 Ribu 1 Porsi

at 19:39  |  No comments

Pak jokowi yang saya hormati. Semoga Allah selalu menyertai dimana pun anda kini. Dengan segala kerendahan hati dan tidak bermaksud menambah beban pada masa transisi. Apalagi bermaksud untuk menyakiti. Saya ingin sedikit berbagi dan menyampaikan beberapa keresahan hati. Keresahan hati dari pengunjung rumah makan yang tak pernah sepi dari pembeli. Rumah makan yang paling disukai kalangan muda-mudi berseragam merah,biru,abu-abu dengan atasan putih berdasi. Rumah makan yang juga dicintai sebagian kalangan pegawai negeri. Dan rumah makan yang menjadi idola orang-orang seperti kami. Para pendamping petani yang hanya mendapatkan 10 bulan gaji. Pak jokowi presiden kami yang terpilih. 
 
Di warung nasi yang tak pernah sepi ini. Kami masih bisa menikmati makan siang dengan harga murah sekali. 6 rb rupiah satu porsi. Jika dibandingkan di Surakarta atau Yogyakarta, ataupun di kota lainnya, satu porsi 6 rb rupiah, mungkin masih bisa ditemui. Tapi, tatkala harga sembako disini sudah naik berkali-kali, dikala harga barang sudah jauh meninggalkan penghasilan kami dan enggan kembali. Di tambah posisi daerah yang jauh diperbatasan negeri, harga demikian (6rb satu porsi) merupakan harga yang pas dengan kantong kami saat ini. Harga realistis bagi pelajar, anak seorang petani. 
 
Maka dari itu, rumah makan ini sangat digandrungi. Kami sangat bersyukur sekali. Masih ada penjual nasi yang memperhatikan keberadaan kami. Orang-orang yang berpenghasilan cenderung ke kiri (belum mapan). Thanks bu yati. Pak jokowi yg kami cintai. 6rb satu porsi itu, terdiri dari nasi putih, sambal tempe, telur mata sapi + mie. Kami tak perduli di makanan ini apakah ada asupan gizi? Tak terfikirkan lagi harus berapa energi yang dihasilkan dari asupan makanan yang tersaji, agar dapat melanjutkan aktivitas sehari-hari. (I don't think about that). Bagi kami yang terpenting adalah makhluk di perut tidak bereaksi. Yang penting makhluk di perut tidak demonstrasi. Itulah standarisasi pola makan orang-orang kiri seperti kami.

Pak jokowi yang saya kagumi. Berawal dari sini, saya tak henti-henti termenung sendiri. Mulai siang hari sampai keesokannya lagi. Saya berasumsi. Dulu sebelum pak SBY menaikkan harga bbm sebanyak empat kali. Warung nasi 6rb satu porsi menjamur di sana-sini. Tak perlu repot mencari. Kondisi seperti ini sangat kami nikmati. Kini, satu-satunya warung nasi yang melayani 6rb satu porsi di daerah kami, ya cuma ini. Yang saya ceritakan dalam tulisan ini. Kondisi warungnya pun sudah tak kondusif lagi. Mungkin karena jiwa sosial dan rasa ingin melayani bu yati begitu tinggi, sehingga untung-rugi tak diperhatikannya lagi. Kondisi bangunan yang seharusnya diperbesar/diperlebar pun luput dari perhatian. Kalau sudah jam makan siang hari, pasti harus ngantri. 
 
Hati nurani saya bertanya begini. Apakah dikepemimpinan pak jokowi nanti, nasi 6rb satu porsi bu yati, masih bisa kami nikmati? Apakah dikepemimpinan pak jokowi nanti, warung nasi yang melayani pembeli 6rb satu porsi masih bisa kami temui? Saya berdoa semoga Tuhan penguasa langit dan bumi memberi kekuatan agar pak jokowi dapat merealisasikan semua janji-janji. Pak, Kami mendengar di tv, bahwa harga bbm akan dinaikkan lagi. Dengan alasan negara tak mampu lagi mensubsidi. Kata pengamat ekonomi, dan para politisi, subsidi bbm hanya dinikmati orang-orang kaya di negeri yang kita cintai ini. Namun, sebagian para pengamat ekonomi dan para politisi yang lain menolak rencana kebijakan ini. Katanya masih ada solusi. Efek kenaikan bbm dalam negeri akan mengakibatkan inflasi. Harga barang akan melambung tinggi. Jumlah rakyat miskin akan semakin bertambah kembali. Kalau diteruskan terkena ke orang-orang kiri seperti kami. Terus terang pak jokowi, sebagai orang yang tak mengerti, saya tak ingin mencampuri hal seperti ini. Bukan kapasitas saya mendiskusikan hal ini. Saya percayakan saja ke pak jokowi bersama anggota DPR RI terpilih yang akan membahasnya nanti. Namun besar harapan kami, agar kiranya semua kebijakan pak jokowi, tak akan memengaruhi rumah makan yang tinggal satu-satunya di tempat kami. Karena disitulah tempat berkumpulnya orang-orang 'golongan kiri' tuk memperbaharui energi. ‪#‎salam2jari‬#

Read More

0 comments:

Sunday, 8 June 2014

Bulan purnama mestinya indah dilihat mata. Utuh sempurna tebarkan pesona. Meremajakan syaraf-syaraf di kepala kita. Menginspirasi semua yang bernyawa. Menentramkan hati yang gundah galau gulana. Pelipur lara,resah dan gelisah. Merayu menggoda seluruh makhluk ciptaanNya. Bulan purnama seharusnya menentramkan jiwa. Apalagi dinikmati bersama seseorang yang kita cinta. Bisa keluarga, bisa teman bervisi sama. Atau bisa juga pasangan yang tak sempat pacaran setelah nikah seperti saya. Intinya, Purnama adalah lukisan indah sang pencipta. Dan akan memberi kedamaian kepada siapa saja yang menatapnya. 

Tapi Ternyata oh ternyata. Tak kusangka tak kuduga. Ku lihat di sana, purnama di surakarta sepertinya berbeda. Cahaya purnama, tertutup awan gunung merapi yang terbangun dari tidur panjangnya. Menghembuskan angin panas yang berbahaya. Cahaya berganti hawa panas di mana-mana. Udara membawa hawa panas masuk di setiap rumah warga. Jadilah malam yang seharusnya indah, bertepatan dengan ulang tahun si dia berubah makna. Rencana ingin menghatamkan malam bersama keluarga, jadi tertunda. Sebagai hamba kami hanya bisa pasrah. Ketika malam yang indah diambil pemilikNya, Allah Subhanahuwwata'ala. 

Sebelumnya memang sudah ada kabar berita bahwa beberapa hari ke depan semua gunung akan mulai bergairah. Diantaranya, Gunung Selamet di spirit of java/surakarta (tak jauh dari tempat ku berada). Begitu pula gunung merapi di jogjakarta. Masuk dalam status siaga.

Saat itu, pendingin ruangan sudah seharian bekerja. Berusaha menstabilkan suasana. Jendela rumah semua terbuka. Hawa panas masih saja terasa. Istriku berkata, kondisi seperti ini, mandi 5x sehari, adalah kegiatan yang biasa. Hawa panas ini berbeda dengan panas di daerah garis katulistiwa. O iya.. saya coba sedikit mengilustrasikanya. Air mendidih, kemudian letakkan tangan anda di atasnya. Rasakan uap air yang membakar dikulit anda. Begitulah kira-kira rasanya. Di tambah lagi dengan kondisi rumah yang berdempetan jaraknya, nyaris tidak ada tanah yang tersisa diantara  tetangga. Akibatnya sirkulasi udara jadi kurang baik kualitasnya. Kedepan mungkin Agus DR harus mengenalkan produk m-panelnya disana (saran saya,mudah-mudahan ia membaca). 

Dalam hatiku bersuara, akhirnya ku menikmati juga bagaimana rasanya hawa panas yang biasa ku dengar di media massa. Ya robbi..dahsyat sekali hawa ini. Detak jantung terasa pindah di ujung jari. Inikah hawa panas yg paling ditakuti dari letupan gunung merapi? Hawa inikah yang mengakhiri nyawa si juru kunci? Batuk, pilek mulai menghampiri.Tenggorokan kering, terasa sakit sekali. Seperti sedang menelan duri. Serasa ada Neraka di rumah sendiri. Obat kimiawi yang biasa muncul di televisi, tuk mengobati rasa sakit ini sudah lama kujauhi. Aku lebih cocok obat alami,yang biasa kugunakan untuk terapi meredakan rasa nyeri. Buah, sayur,dan air putih rupa-rupanya tak juga bereaksi. 

Ya robbi..wahai penguasa langit dan bumi, lindungilah kami. Turunkan hujan, hentikan musibah ini. Pukul 21.00 wib Alhamdulillah, anak-anak sudah bisa tidur dengan kipas mengarah ke muka. Digeser sedikit saja ia terbangun mencari kipasnya. Tak tega. Tapi, lahaulawala kuwwataillaabillah.. Syukurlah rasa kantuk mengobati penderitaannya walau hanya sementara. Cukuplah.

Sungguh, pengalaman yang sangat berharga ini akan selalu teringat sampai mati. Maksud hati ingin menuliskannya segera agar anda para pembaca, bisa merasa dan bantu sambil berdoa. Namun apalah daya, ku tak mampu merangkai kata. Di tambah lagi hampir berbulan-bulan lamanya, ku tak berinteraksi dengan ide dan tulisan yang sudah menumpuk di kepala. Dalam kondisi seperti itu, otak pun tak mampu bekerja paksa. Meski di ajak menulis dan membaca. Membayangkan sesuatu yang indah-indah. Kuyakinkan harapan itu masih ada. Kuyakinkan aku pasti bisa. Masih belum bisa. 

Sungguh malam yang luar biasa. Pukul 00.00 wib aku bisa sedikit memejamkan mata. Aku tak tahu rasa kantuk ataukah hujan yang turun begitu lebatnya, mengakhiri penderitaan kami semua. Ataukah hanya bermimpi melihat fatamorgana. Karena air hujan hanya sedikit menyapu hawa. Tidak panasnya. Tapi Syukur alhamdulillah bumi ternyata basah.

Kalau gak salah 3 hari kami merasakan hawa panasnya. Kalau tidak ada hujan kami tak berani mengira-ngira. Apa yang akan terjadi selanjutnya. Sungguh Allah maha kuasa. Ia tidak akan memberi beban di luar kemampuan setiap hamba. Setelah hujan yang pertama, berturut-turut Allah turunkan hujan berikutnya. Bersamaan dengan itu pula, setelah sekian lama tertunda, beberapa tulisan yang sudah tersimpan lama di kepala, akhirnya ada dihadapan anda. Allhamdulilah...eh salah. alhamdulillah..

Merapi Effect

at 03:52  |  No comments

Bulan purnama mestinya indah dilihat mata. Utuh sempurna tebarkan pesona. Meremajakan syaraf-syaraf di kepala kita. Menginspirasi semua yang bernyawa. Menentramkan hati yang gundah galau gulana. Pelipur lara,resah dan gelisah. Merayu menggoda seluruh makhluk ciptaanNya. Bulan purnama seharusnya menentramkan jiwa. Apalagi dinikmati bersama seseorang yang kita cinta. Bisa keluarga, bisa teman bervisi sama. Atau bisa juga pasangan yang tak sempat pacaran setelah nikah seperti saya. Intinya, Purnama adalah lukisan indah sang pencipta. Dan akan memberi kedamaian kepada siapa saja yang menatapnya. 

Tapi Ternyata oh ternyata. Tak kusangka tak kuduga. Ku lihat di sana, purnama di surakarta sepertinya berbeda. Cahaya purnama, tertutup awan gunung merapi yang terbangun dari tidur panjangnya. Menghembuskan angin panas yang berbahaya. Cahaya berganti hawa panas di mana-mana. Udara membawa hawa panas masuk di setiap rumah warga. Jadilah malam yang seharusnya indah, bertepatan dengan ulang tahun si dia berubah makna. Rencana ingin menghatamkan malam bersama keluarga, jadi tertunda. Sebagai hamba kami hanya bisa pasrah. Ketika malam yang indah diambil pemilikNya, Allah Subhanahuwwata'ala. 

Sebelumnya memang sudah ada kabar berita bahwa beberapa hari ke depan semua gunung akan mulai bergairah. Diantaranya, Gunung Selamet di spirit of java/surakarta (tak jauh dari tempat ku berada). Begitu pula gunung merapi di jogjakarta. Masuk dalam status siaga.

Saat itu, pendingin ruangan sudah seharian bekerja. Berusaha menstabilkan suasana. Jendela rumah semua terbuka. Hawa panas masih saja terasa. Istriku berkata, kondisi seperti ini, mandi 5x sehari, adalah kegiatan yang biasa. Hawa panas ini berbeda dengan panas di daerah garis katulistiwa. O iya.. saya coba sedikit mengilustrasikanya. Air mendidih, kemudian letakkan tangan anda di atasnya. Rasakan uap air yang membakar dikulit anda. Begitulah kira-kira rasanya. Di tambah lagi dengan kondisi rumah yang berdempetan jaraknya, nyaris tidak ada tanah yang tersisa diantara  tetangga. Akibatnya sirkulasi udara jadi kurang baik kualitasnya. Kedepan mungkin Agus DR harus mengenalkan produk m-panelnya disana (saran saya,mudah-mudahan ia membaca). 

Dalam hatiku bersuara, akhirnya ku menikmati juga bagaimana rasanya hawa panas yang biasa ku dengar di media massa. Ya robbi..dahsyat sekali hawa ini. Detak jantung terasa pindah di ujung jari. Inikah hawa panas yg paling ditakuti dari letupan gunung merapi? Hawa inikah yang mengakhiri nyawa si juru kunci? Batuk, pilek mulai menghampiri.Tenggorokan kering, terasa sakit sekali. Seperti sedang menelan duri. Serasa ada Neraka di rumah sendiri. Obat kimiawi yang biasa muncul di televisi, tuk mengobati rasa sakit ini sudah lama kujauhi. Aku lebih cocok obat alami,yang biasa kugunakan untuk terapi meredakan rasa nyeri. Buah, sayur,dan air putih rupa-rupanya tak juga bereaksi. 

Ya robbi..wahai penguasa langit dan bumi, lindungilah kami. Turunkan hujan, hentikan musibah ini. Pukul 21.00 wib Alhamdulillah, anak-anak sudah bisa tidur dengan kipas mengarah ke muka. Digeser sedikit saja ia terbangun mencari kipasnya. Tak tega. Tapi, lahaulawala kuwwataillaabillah.. Syukurlah rasa kantuk mengobati penderitaannya walau hanya sementara. Cukuplah.

Sungguh, pengalaman yang sangat berharga ini akan selalu teringat sampai mati. Maksud hati ingin menuliskannya segera agar anda para pembaca, bisa merasa dan bantu sambil berdoa. Namun apalah daya, ku tak mampu merangkai kata. Di tambah lagi hampir berbulan-bulan lamanya, ku tak berinteraksi dengan ide dan tulisan yang sudah menumpuk di kepala. Dalam kondisi seperti itu, otak pun tak mampu bekerja paksa. Meski di ajak menulis dan membaca. Membayangkan sesuatu yang indah-indah. Kuyakinkan harapan itu masih ada. Kuyakinkan aku pasti bisa. Masih belum bisa. 

Sungguh malam yang luar biasa. Pukul 00.00 wib aku bisa sedikit memejamkan mata. Aku tak tahu rasa kantuk ataukah hujan yang turun begitu lebatnya, mengakhiri penderitaan kami semua. Ataukah hanya bermimpi melihat fatamorgana. Karena air hujan hanya sedikit menyapu hawa. Tidak panasnya. Tapi Syukur alhamdulillah bumi ternyata basah.

Kalau gak salah 3 hari kami merasakan hawa panasnya. Kalau tidak ada hujan kami tak berani mengira-ngira. Apa yang akan terjadi selanjutnya. Sungguh Allah maha kuasa. Ia tidak akan memberi beban di luar kemampuan setiap hamba. Setelah hujan yang pertama, berturut-turut Allah turunkan hujan berikutnya. Bersamaan dengan itu pula, setelah sekian lama tertunda, beberapa tulisan yang sudah tersimpan lama di kepala, akhirnya ada dihadapan anda. Allhamdulilah...eh salah. alhamdulillah..

Read More

0 comments:

Sunday, 16 February 2014

Sambungan ....... (^__^)

Begitulah dahsyatnya cinta. Cinta sangat berpengaruh bagi siapa saja yang mencinta. Cinta sangat luar biasa dan mampu mengubah segalanya. Ia juga bisa memberikan kekuatan seseorang untuk mewujudkan sesuatu dengan tanpa memperhitungkan segala sesuatu disekitarnya. Ia benar-benar bisa berpengaruh dan memengaruhi orang yang dilandanya. Orang yang sedang dilanda cinta akan timbul energi baru dalam dirinya. 

Cinta dapat mengubah seseorang untuk berkarya. Kamu bisa lihat karya-karya besar di dunia, lahir karena dorongan cinta. Lihatlah Taj Mahal di India. Merupakan tanda cinta seorang suami kepada istrinya. Karena cinta,berdiri tegar di Mesir dan Meksiko tumpukan piramida. Karena cinta pula, lahirlah syair-syair homerus, sastrawan Yunani ternama. Dan konon katanya, karya Leonardo da vinci lukisan monalisa, juga hadir karena dorongan cinta. Lihatlah Candi prambanan, mendut, sewu di nusantara. Yang dicipta oleh bandung bandawasa, juga karena cinta. 

Subhanallah...Tak kusangka dan tak kuduga. Ternyata pak haji pandai bersastra juga. Kata-katanya mengena sehingga hati ku jadi berbunga-bunga. Ungkapannya sama persis dengan teori-teori yang pernah kubaca. Ingin ku ungkapkan 'penghargaan' itu kepadanya. Namun ku tak berdaya karena kharismanya. 

Tapi, Pak haji melanjutkan bicaranya, sambil menatap ke luar jendela. Saya melihat dirimu tidak seperti mereka. Aku tersentak penuh tanda tanya? Dalam hatiku berkata, waduh emangnya aku seperti apa? Karena cinta kamu seperti hamba sahaya. Apa? Aku berusaha tetap tenang dan mendengarkannya. Meski kedua telinga sudah mulai panas dan memerah. Padahal sebelumnya kamu adalah raja. Kegarangan istanamu tiada lagi menyertai. Tertinggal di puncak gunung menyendiri sendiri. Pipi tertempel ditanah berdebu. Seakan bantal-bantal sutera untuk bertumpu. Begitulah kehinaan cinta menimpa orang-orang merdeka sekalipun ia raja. Jika cinta melanda, dia laksana hamba sahaya.O...jadi menurut penilaian pak haji saya seperti hamba sahaya? 'Ya'.

Ngomong-ngomong pak haji dapat dari mana ungkapan kata al-Hikam bin Hisyam bin Abdurrahman ad-dakhil seorang raja dari andalusia? Pak haji terkejut sambil mengangkat ke dua kaca matanya. Bapak baca dari buku ini yang tergeletak disana. Kemarin buku ini terjatuh di dekat meja. Karena tak bernama, bapak menyimpannya di rumah. Dan bapak baca tulisan di dalamnya. Kok kamu tahu nama lengkap raja itu? Hahaha...itukan buku saya. O...ya??? Hahaha...kirain buku siapa. Pantas kamu hapal nama lengkap raja itu. Nih saya kembalikan. 

Hahaha...Setelah kejadian hari itu, Pak haji semakin rajin membaca buku. Setiap buku yang kubaca, pak haji selalu memperhatikannya. Bahkan terkadang meminjamnya. Mungkin ia terkenang kembali romantika di masa mudanya, saat-saat cinta membara di dalam dada. Saat-merayakan cinta bersama pasangan sah nya.Bersamaan dengan itu pula, mungkin juga ia sedang mencari kata-kata indah, yang akan dibisikkankan ke istri tercinta. Agar cinta mereka bersemi kembali setelah setengah abad ia menjalani kehidupan berumahtangga. Seperti ungkapan dari Jalaluddin ar rumi di dalam syairnya.
Kata-kata lembut yang kita bisikan pada pasangan kita, tersimpan di suatu tempat rahasia di syurga.
Pada suatu hari, mereka akan berjatuhan bagaikan hujan, lalu tersebar.
Dan misteri cinta akan tumbuh bersemi di segala penjuru bumi. 

Ah...entahlah...aku tak mau menerka-nerka. Yang jelas, dalam diam ku mengamati. Aku kagum dengan pak haji. Meski usia pernikahan mereka telah tua. Mereka masih bisa tetap mesra. Jarang ada orang yang sepertinya. Kemana-mana selalu berdua. Sebelum ke kantor ia sempatkan mengantar istrinya berbelanja. Sebelum dan sesudah ke kantor, tak lupa ia mengecup keningnya. Rutinitas yang biasa kulakukan hanya kalau mau pergi jauh saja. Tak pernah kumendengar masalah serius menerpa rumah tangga mereka. 

Memang betul kata para pujangga. Cinta adalah fitrah yang lekat kuat dalam diri manusia.Cinta dan segala pernak-perniknya tidak akan pernah lenyap sama sekali dari kehidupan seseorang selama apapun usia memakan perasaannya. Sungguh, tak cukup rasanya di ungkapkan melalui kata-kata. 

Untuk mu pak haji. Aku panjatkan doa ini. Kepada penguasa langit dan bumi. 
Ya Allah, sesungguhnya engkau maha mengetahui bahwa hati itu (pak haji dan istrinya) telah berkumpul untuk mencurahkan cinta hanya kepada Mu. Bertemu untuk taat kepada Mu. Bersatu dalam rangka dakwah di jalan Mu. Berjanji setia untuk membela syariat mu. Maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, Ya Allah. Abadikanlah kasih sayangnya. Tunjukkan lah jalannya. Dan penuhilah dengan cahaya Mu yang tak pernah redup. Lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada Mu. Hidupkan lah ia dengan ma'rifah Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-sebaik pelindung dan sebaik-sebaik penolong. Amin

BUKU HARIANKU : complete diary

at 18:44  |  No comments

Sambungan ....... (^__^)

Begitulah dahsyatnya cinta. Cinta sangat berpengaruh bagi siapa saja yang mencinta. Cinta sangat luar biasa dan mampu mengubah segalanya. Ia juga bisa memberikan kekuatan seseorang untuk mewujudkan sesuatu dengan tanpa memperhitungkan segala sesuatu disekitarnya. Ia benar-benar bisa berpengaruh dan memengaruhi orang yang dilandanya. Orang yang sedang dilanda cinta akan timbul energi baru dalam dirinya. 

Cinta dapat mengubah seseorang untuk berkarya. Kamu bisa lihat karya-karya besar di dunia, lahir karena dorongan cinta. Lihatlah Taj Mahal di India. Merupakan tanda cinta seorang suami kepada istrinya. Karena cinta,berdiri tegar di Mesir dan Meksiko tumpukan piramida. Karena cinta pula, lahirlah syair-syair homerus, sastrawan Yunani ternama. Dan konon katanya, karya Leonardo da vinci lukisan monalisa, juga hadir karena dorongan cinta. Lihatlah Candi prambanan, mendut, sewu di nusantara. Yang dicipta oleh bandung bandawasa, juga karena cinta. 

Subhanallah...Tak kusangka dan tak kuduga. Ternyata pak haji pandai bersastra juga. Kata-katanya mengena sehingga hati ku jadi berbunga-bunga. Ungkapannya sama persis dengan teori-teori yang pernah kubaca. Ingin ku ungkapkan 'penghargaan' itu kepadanya. Namun ku tak berdaya karena kharismanya. 

Tapi, Pak haji melanjutkan bicaranya, sambil menatap ke luar jendela. Saya melihat dirimu tidak seperti mereka. Aku tersentak penuh tanda tanya? Dalam hatiku berkata, waduh emangnya aku seperti apa? Karena cinta kamu seperti hamba sahaya. Apa? Aku berusaha tetap tenang dan mendengarkannya. Meski kedua telinga sudah mulai panas dan memerah. Padahal sebelumnya kamu adalah raja. Kegarangan istanamu tiada lagi menyertai. Tertinggal di puncak gunung menyendiri sendiri. Pipi tertempel ditanah berdebu. Seakan bantal-bantal sutera untuk bertumpu. Begitulah kehinaan cinta menimpa orang-orang merdeka sekalipun ia raja. Jika cinta melanda, dia laksana hamba sahaya.O...jadi menurut penilaian pak haji saya seperti hamba sahaya? 'Ya'.

Ngomong-ngomong pak haji dapat dari mana ungkapan kata al-Hikam bin Hisyam bin Abdurrahman ad-dakhil seorang raja dari andalusia? Pak haji terkejut sambil mengangkat ke dua kaca matanya. Bapak baca dari buku ini yang tergeletak disana. Kemarin buku ini terjatuh di dekat meja. Karena tak bernama, bapak menyimpannya di rumah. Dan bapak baca tulisan di dalamnya. Kok kamu tahu nama lengkap raja itu? Hahaha...itukan buku saya. O...ya??? Hahaha...kirain buku siapa. Pantas kamu hapal nama lengkap raja itu. Nih saya kembalikan. 

Hahaha...Setelah kejadian hari itu, Pak haji semakin rajin membaca buku. Setiap buku yang kubaca, pak haji selalu memperhatikannya. Bahkan terkadang meminjamnya. Mungkin ia terkenang kembali romantika di masa mudanya, saat-saat cinta membara di dalam dada. Saat-merayakan cinta bersama pasangan sah nya.Bersamaan dengan itu pula, mungkin juga ia sedang mencari kata-kata indah, yang akan dibisikkankan ke istri tercinta. Agar cinta mereka bersemi kembali setelah setengah abad ia menjalani kehidupan berumahtangga. Seperti ungkapan dari Jalaluddin ar rumi di dalam syairnya.
Kata-kata lembut yang kita bisikan pada pasangan kita, tersimpan di suatu tempat rahasia di syurga.
Pada suatu hari, mereka akan berjatuhan bagaikan hujan, lalu tersebar.
Dan misteri cinta akan tumbuh bersemi di segala penjuru bumi. 

Ah...entahlah...aku tak mau menerka-nerka. Yang jelas, dalam diam ku mengamati. Aku kagum dengan pak haji. Meski usia pernikahan mereka telah tua. Mereka masih bisa tetap mesra. Jarang ada orang yang sepertinya. Kemana-mana selalu berdua. Sebelum ke kantor ia sempatkan mengantar istrinya berbelanja. Sebelum dan sesudah ke kantor, tak lupa ia mengecup keningnya. Rutinitas yang biasa kulakukan hanya kalau mau pergi jauh saja. Tak pernah kumendengar masalah serius menerpa rumah tangga mereka. 

Memang betul kata para pujangga. Cinta adalah fitrah yang lekat kuat dalam diri manusia.Cinta dan segala pernak-perniknya tidak akan pernah lenyap sama sekali dari kehidupan seseorang selama apapun usia memakan perasaannya. Sungguh, tak cukup rasanya di ungkapkan melalui kata-kata. 

Untuk mu pak haji. Aku panjatkan doa ini. Kepada penguasa langit dan bumi. 
Ya Allah, sesungguhnya engkau maha mengetahui bahwa hati itu (pak haji dan istrinya) telah berkumpul untuk mencurahkan cinta hanya kepada Mu. Bertemu untuk taat kepada Mu. Bersatu dalam rangka dakwah di jalan Mu. Berjanji setia untuk membela syariat mu. Maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, Ya Allah. Abadikanlah kasih sayangnya. Tunjukkan lah jalannya. Dan penuhilah dengan cahaya Mu yang tak pernah redup. Lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada Mu. Hidupkan lah ia dengan ma'rifah Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-sebaik pelindung dan sebaik-sebaik penolong. Amin

Read More

0 comments:

Terhitung hampir 14 hari, kabut asap menyambangi daerah ini. Hujan yang ditunggu-tunggu tak lagi bertamu ke tempat kami. Udara dingin menggeratakkan gigi, padahal sudah jam 8 pagi. Mungkin akibat terhalangnya matahari oleh kabut asap berwarna gelap, pikirku dalam hati. Kalau cuaca seperti ini, biasanya tanda-tanda musim akan berganti. 

Kriiiing...kriiiiing...kriiiiing...Alarm di hp berbunyi 3 kali. Masih berselimut putih, kubaca agenda hari ini. 'Selasa, 4 Februari pukul 9 pagi, pertemuan dengan petani sabar menanti'. Terdiam sejenak ku menimbang antara pergi atau memperbaharui janji. Sambil mendengar perdebatan hati, kucoba menenangkan diri. Tiba-tiba ku mendengar 'orasi' di dalam hati dengan kalimat seperti ini. 
" Hai orang yang berselimut! Meski udara kering sampai ke kulit ari. Meski kaki pecah terasa perih sekali. Meski badan pegal memberatkan hati.Tugas melayani petani, jauh lebih penting dari pada merebahkan diri.Bangunlah! Lagi pula agenda hari ini sudah kau jadwalkan jauh-jauh hari. Apapun yang terjadi kau harus menepati janji! "

Ya Allah ya robbi...Wahai yang membolak-balikkan hati, kuatkan diri ini. Suaraku lirih. Ku kumpulkan semua energi. Kupaksakan tubuh ini berdiri. Segera ku bersihkan diri. Lalu berpakaian rapi dan sarapan bubur nasi. Kupanaskan si kuda besi. Kulihat bensin ke dalam tangki. Kupastikan cukup untuk pulang dan pergi. Bismillahi tawakkaltu allallah. 

Kupacu sikuda besi hingga suaranya meninggi. Kuoper gigi sampai 3x. Kupacu kembali gas di tangan hingga tak bisa di putar lagi. Semoga perjalanan ini tercatat sebagai ibadah disisi mu ya robb. 1,5 jam akhirnya sampai di tempat tujuan. Petani ku yang bernama budi sepertinya sudah sampai. 
"Assalamualaikum",..apa kabar pak budi? Sambil cipika-cipiki, kami berbasa-basi.Alhamdulillah... baik pak aziz. Pak budi mangambil sebuah kursi. Gimana diperjalanannya tadi? Luar biasa...Baru saja terkena banjir beberapa hari, jalan sudah rusak di sana sini. Lubang-lubang besar bertambah lagi. Makanya saya jadi telat begini. Ya, semoga pemerintah bisa segera memperbaiki. Amiiin. Sahut pak budi. 

O iya pak, bagaimana dengan masalah administrasi kelompok sabar menanti? Tanya ku kepada pak budi. Nah itu dia pak aziz. Masalah itulah yang akan kita diskusikan pagi ini. Sedikit informasi bahwa minggu lalu kelompok kami, sabar menanti, baru melakukan restrukturisasi atau mutasi. Dan saya diamanatkan menjadi ketua di kelompok ini. Emm...Oleh karena itu, saya kan orang baru. Tolong pak aziz jelaskan kepada saya, bagaimana secara teknis syarat-syarat administrasinya? O..begitu ya...insya Allah. Sambil menikmati segelas kopi, dan sedikit roti yang tadi ku beli, ku jelaskan secara rinci, apa saja syarat-syarat yang mesti dipenuhi. Agar bantuan pupuk dan benih padi bisa didapatkan kelompok sabar menanti. 

Hampir 2 jam kami berdiskusi. Ternyata pak budi belum juga mengerti.Aku tak memahami apa yang disusahkan pak budi. Padahal semuanya simpel sekali. Setelah ditelusuri, ternyata ilmu komputer tak menguasai. Hal itu baru kuketahui ketika ia berkata begini, "terus terang saya angkat tangan. Jangankan komputerisasi, megang pulpen pun saya tak pernah lagi. Jadi, saya minta tolong pak aziz saja yang melengkapi semua berkas ini. Kalau ada uang ngetik dan uang ngeprint pak aziz dulu yang talangi. Nanti setelah selesai saya ganti". MasyaAllah...kenapa tidak dari tadi pak budi ngusulkan seperti ini. Coba di awal diskusi pak budi mengusulkan solusi tadi. Tak perlu 2 jam kita bicara ngalor-ngidul kesana-kemari. Hihihi tertawa tertahan pak budi. 

Awalnya saya berfikiran begitu tadi. Setelah dipikir-pikir, dari pada pak aziz melamun sendiri nanti. Lebih baik saya ajak diskusi. Maklum, semenjak di tinggal istri, katanya pak aziz sering senyum-senyum sendiri. Seharusnya pak aziz berterima kasih, karena sudah saya temani! Lagian kalau terjadi apa-apa dengan pak aziz, saya juga yang rugi. Bisa-bisa bantuan pupuk dan benih padi di kelompok kami ndak bisa teralisasi. Pak budi membela diri. Hah? bisa diulangi? Ndak salah apa yang saya dengar barusan pak budi? Kata siapa saya sering senyum-senyum sendiri? tanya ku risih. Tuh kata pak haji (kepala kantor) yang sedang berjalan membawa sebuah buku, bergabung bersama kami. Waah pak haji ini memang jago mendramatisir situasi dan kondisi pak budi. Kalau beliau ngomong, harus dicerna kembali!

Ya..wong saya lagi baca buku, kebetulan ada cerita lucunya. Wajar dong kalau saya senyum-senyum sendiri. Hahaha...tawa pak haji dan pak budi. Ok lah kalau begitu pak aziz, saya mau pamit. Kampung tengah sudah nuntut minta rizki, terima kasih, ya. O iya sama-sama. Nanti kalau sudah selesai, pak budi saya hubungi. Iya. Assalamualaikum...
Waalaikumsalam...

Suasana kantor hening kembali. Tinggal aku dan pak haji yang sibuk dengan urusan pribadi. Setelah beberapa menit berlalu, sambil membaca sebuah buku, tiba-tiba pak haji bertanya kpd ku. Ziz kapan ke solo lagi? O iya besok pak. Sekalian saya mau nyampaikan izin pemberitahuan.Perasaan baru kemarin kamu pergi? pak haji bertanya kembali. Maaf pak haji. Kucoba mencurahkan isi hati. 

Berkata Sean covey, ucapanku terhenti, untuk tahu nilai 1 minggu tanyakan kepada editor majalah mingguan. Untuk tahu nilai 1 hari, tanyakan pada buruh harian yang punya enam anak yang harus diberi makan. Untuk tahu nilai 1 jam.Tanyakan pada kekasih yang menanti saat-saat pertemuan menjelang. Maksudnya ziz? serobot pak haji. Bapak belum paham? Pak..,ku coba menjelaskan. Kalau bapak seorang editor mingguan dan seorang buruh. Waktu 1 minggu dan 1 hari, akan sangat berharga. Saking berharganya, kalau bisa minta ditambah. Tapi, jika Bapak sedang terpisah dengan kekasih tercinta, waktu 1 jam adalah waktu yang sangat lama terasa.Apalagi 1 minggu atau 1 bulan menunggunya, pasti sangat menyiksa! Emm...saya percaya! pak haji memulai 'ceramah'nya. 

bersambung.... (^__^)

BUKU HARIANKU

at 18:20  |  No comments

Terhitung hampir 14 hari, kabut asap menyambangi daerah ini. Hujan yang ditunggu-tunggu tak lagi bertamu ke tempat kami. Udara dingin menggeratakkan gigi, padahal sudah jam 8 pagi. Mungkin akibat terhalangnya matahari oleh kabut asap berwarna gelap, pikirku dalam hati. Kalau cuaca seperti ini, biasanya tanda-tanda musim akan berganti. 

Kriiiing...kriiiiing...kriiiiing...Alarm di hp berbunyi 3 kali. Masih berselimut putih, kubaca agenda hari ini. 'Selasa, 4 Februari pukul 9 pagi, pertemuan dengan petani sabar menanti'. Terdiam sejenak ku menimbang antara pergi atau memperbaharui janji. Sambil mendengar perdebatan hati, kucoba menenangkan diri. Tiba-tiba ku mendengar 'orasi' di dalam hati dengan kalimat seperti ini. 
" Hai orang yang berselimut! Meski udara kering sampai ke kulit ari. Meski kaki pecah terasa perih sekali. Meski badan pegal memberatkan hati.Tugas melayani petani, jauh lebih penting dari pada merebahkan diri.Bangunlah! Lagi pula agenda hari ini sudah kau jadwalkan jauh-jauh hari. Apapun yang terjadi kau harus menepati janji! "

Ya Allah ya robbi...Wahai yang membolak-balikkan hati, kuatkan diri ini. Suaraku lirih. Ku kumpulkan semua energi. Kupaksakan tubuh ini berdiri. Segera ku bersihkan diri. Lalu berpakaian rapi dan sarapan bubur nasi. Kupanaskan si kuda besi. Kulihat bensin ke dalam tangki. Kupastikan cukup untuk pulang dan pergi. Bismillahi tawakkaltu allallah. 

Kupacu sikuda besi hingga suaranya meninggi. Kuoper gigi sampai 3x. Kupacu kembali gas di tangan hingga tak bisa di putar lagi. Semoga perjalanan ini tercatat sebagai ibadah disisi mu ya robb. 1,5 jam akhirnya sampai di tempat tujuan. Petani ku yang bernama budi sepertinya sudah sampai. 
"Assalamualaikum",..apa kabar pak budi? Sambil cipika-cipiki, kami berbasa-basi.Alhamdulillah... baik pak aziz. Pak budi mangambil sebuah kursi. Gimana diperjalanannya tadi? Luar biasa...Baru saja terkena banjir beberapa hari, jalan sudah rusak di sana sini. Lubang-lubang besar bertambah lagi. Makanya saya jadi telat begini. Ya, semoga pemerintah bisa segera memperbaiki. Amiiin. Sahut pak budi. 

O iya pak, bagaimana dengan masalah administrasi kelompok sabar menanti? Tanya ku kepada pak budi. Nah itu dia pak aziz. Masalah itulah yang akan kita diskusikan pagi ini. Sedikit informasi bahwa minggu lalu kelompok kami, sabar menanti, baru melakukan restrukturisasi atau mutasi. Dan saya diamanatkan menjadi ketua di kelompok ini. Emm...Oleh karena itu, saya kan orang baru. Tolong pak aziz jelaskan kepada saya, bagaimana secara teknis syarat-syarat administrasinya? O..begitu ya...insya Allah. Sambil menikmati segelas kopi, dan sedikit roti yang tadi ku beli, ku jelaskan secara rinci, apa saja syarat-syarat yang mesti dipenuhi. Agar bantuan pupuk dan benih padi bisa didapatkan kelompok sabar menanti. 

Hampir 2 jam kami berdiskusi. Ternyata pak budi belum juga mengerti.Aku tak memahami apa yang disusahkan pak budi. Padahal semuanya simpel sekali. Setelah ditelusuri, ternyata ilmu komputer tak menguasai. Hal itu baru kuketahui ketika ia berkata begini, "terus terang saya angkat tangan. Jangankan komputerisasi, megang pulpen pun saya tak pernah lagi. Jadi, saya minta tolong pak aziz saja yang melengkapi semua berkas ini. Kalau ada uang ngetik dan uang ngeprint pak aziz dulu yang talangi. Nanti setelah selesai saya ganti". MasyaAllah...kenapa tidak dari tadi pak budi ngusulkan seperti ini. Coba di awal diskusi pak budi mengusulkan solusi tadi. Tak perlu 2 jam kita bicara ngalor-ngidul kesana-kemari. Hihihi tertawa tertahan pak budi. 

Awalnya saya berfikiran begitu tadi. Setelah dipikir-pikir, dari pada pak aziz melamun sendiri nanti. Lebih baik saya ajak diskusi. Maklum, semenjak di tinggal istri, katanya pak aziz sering senyum-senyum sendiri. Seharusnya pak aziz berterima kasih, karena sudah saya temani! Lagian kalau terjadi apa-apa dengan pak aziz, saya juga yang rugi. Bisa-bisa bantuan pupuk dan benih padi di kelompok kami ndak bisa teralisasi. Pak budi membela diri. Hah? bisa diulangi? Ndak salah apa yang saya dengar barusan pak budi? Kata siapa saya sering senyum-senyum sendiri? tanya ku risih. Tuh kata pak haji (kepala kantor) yang sedang berjalan membawa sebuah buku, bergabung bersama kami. Waah pak haji ini memang jago mendramatisir situasi dan kondisi pak budi. Kalau beliau ngomong, harus dicerna kembali!

Ya..wong saya lagi baca buku, kebetulan ada cerita lucunya. Wajar dong kalau saya senyum-senyum sendiri. Hahaha...tawa pak haji dan pak budi. Ok lah kalau begitu pak aziz, saya mau pamit. Kampung tengah sudah nuntut minta rizki, terima kasih, ya. O iya sama-sama. Nanti kalau sudah selesai, pak budi saya hubungi. Iya. Assalamualaikum...
Waalaikumsalam...

Suasana kantor hening kembali. Tinggal aku dan pak haji yang sibuk dengan urusan pribadi. Setelah beberapa menit berlalu, sambil membaca sebuah buku, tiba-tiba pak haji bertanya kpd ku. Ziz kapan ke solo lagi? O iya besok pak. Sekalian saya mau nyampaikan izin pemberitahuan.Perasaan baru kemarin kamu pergi? pak haji bertanya kembali. Maaf pak haji. Kucoba mencurahkan isi hati. 

Berkata Sean covey, ucapanku terhenti, untuk tahu nilai 1 minggu tanyakan kepada editor majalah mingguan. Untuk tahu nilai 1 hari, tanyakan pada buruh harian yang punya enam anak yang harus diberi makan. Untuk tahu nilai 1 jam.Tanyakan pada kekasih yang menanti saat-saat pertemuan menjelang. Maksudnya ziz? serobot pak haji. Bapak belum paham? Pak..,ku coba menjelaskan. Kalau bapak seorang editor mingguan dan seorang buruh. Waktu 1 minggu dan 1 hari, akan sangat berharga. Saking berharganya, kalau bisa minta ditambah. Tapi, jika Bapak sedang terpisah dengan kekasih tercinta, waktu 1 jam adalah waktu yang sangat lama terasa.Apalagi 1 minggu atau 1 bulan menunggunya, pasti sangat menyiksa! Emm...saya percaya! pak haji memulai 'ceramah'nya. 

bersambung.... (^__^)

Read More

0 comments:

Wednesday, 22 January 2014

Pesawat Garuda nomor 333 tujuan Jakarta, berangkat pukul 11.55 wiba. (Informasi yg tertera di layar tv bandara). Angin kencang menerjang mata. Kulihat matahari belum berani tampakkan muka. Terhijab awan menghalanginya. Setelah dua hari tercuci hujan begitu lama. Awan gelap masih setia mendampinginya. Cuaca pagi ini tidak jelas maunya apa. Alhamdulillah...

Pukul 08.33 aku tiba di bandara. Pagi-pagi sudah berangkat dari rumah. Aku khawatir pakaianku basah jika hujan turun tiba-tiba. Maklum, ke bandara hanya menggunakan kendaraan roda dua. Di temani 'ojek' yang selalu setia mengantar kemana saja.

Ya...Hari ini aku akan pergi ke jakarta. Meski datang keawalan aku selalu menikmatinya. Aku tak mempermasalahkannya. Karena sudah terbiasa berada disana, seolah-olah bandara sudah menjadi rumah yang kedua. Akhirnya berlama-lama disana suatu pekerjaan yang kusuka. Suka bisa melihat bermacam-macam perilaku manusia. Suka karena bisa melamun dan merenungkan sebuah makna. Dan yang terutama suka karena hati bahagia akan berjumpa seseorang yang jauh disana. Masih ada waktu dua jam setengah aku di bandara. Karena masih lama, kugunakan waktu yang ada agar tidak jadi sia-sia. Kugunakan untuk melanjutkan tulisan yang telah lama tertunda. Tertunda karena ide hilang entah kemana rimbanya. Kucoba mencarinya. Mungkin tersapu angin saat menuju bandara, atau tercecer di jalan raya, atau tinggal di saku celana. Ha..ha..hanya bercanda. Kembali ke cerita.

Kumulai semuanya dengan Bismillah. Kulihat tulisan pertama, masih bercerita tentang cinta. Dari halaman satu sampai halaman 3, kuedit kata-kata yang salah. Kutambah kata-kata yang terlupa. Tapi masih juga aku belum bisa meneruskannya. Kutunggu beberapa lama. Berharap bisa merangkai kata menjadi sebuah kalimat indah. Sambil mengamati pesawat garuda, apakah sudah tiba. Ternyata masih belum juga ada ide yg tercipta. Kalau sudah begini aku menyerah. Takkan kupaksa otak ini bekerja. Aku tak ingin membebaninya. Lagian kalau menulis disertai dengan paksaan hasilnya kurang memuaskan. Mengecewakan. Akhirnya aktivitas kualihkan. Kubuka tas dan kuambil buku yg akan kubaca. Buku yang ditulis oleh M. Anis matta. Aku suka membaca tulisannya. Aku senang dengan sosoknya.

Kata-katanya memotivasi. Tulisannya bergizi mengundang energi. Bahasanya tinggi tapi mudah dipahami. Gayanya natural tanpa politisasi. Kalau lama-lama diamati, perawakannya seperti jet Li. (Asumsi pribadi).  Ketika sedang asyik menikmati, kudengar ada yang ngaji dikursi sebelah kiri. Kusimak surah ini. Karena ku tahu beberapa arti didalamnya. Kucoba utk meresapi.

Kaaf Haa Yaa 'Ain Shaad.
(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.
Ia berkata "Yaa Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, yaa Tuhanku.
Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera,
Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, yaa Tuhanku, seorang yang diridhai".
Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.
Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua".
Tuhan berfirman: "Demikianlah". Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali".
Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat".

Kulihat siapa yang membaca surat ke 19 ini. Subhanallah!.. Itukan anis matta? Terkejut. Masih tak percaya. Syukurlah ada simbol nomor 3 dibajunya. Kudekati dan memberanikan diri untuk berbasa-basi. Assalamualaikum. Pak Jen, Astagfirullah. Maaf, Ust. Anis kan ya? Dari mana mau ke mana? Iya...saya Anis Matta. Ini dari pontianak mau pulang ke Jakarta. O iya..kenalkan saya aziz. Saya juga mau ke jakarta. Cuma nanti langsung ke surakarta. Menemui istri kuliah disana. 
 
(Ust anis menutup alqurannya) 
"maaf ustadz jadi terganggu tilawahnya."
" O..tidak apa-apa sudah selesai kok."
" Maaf ust. Emm...saya mau minta nasehat dari ustadz. Itupun kalau boleh"
" Bolehlah...Kenapa tidak. Nasehat apa?"
" Terserah ustadz, nasehat yang diberikan kepada anak ustadz ketika sedang galau juga bolehlah!"
" Ha..ha..bisa saja antum ini. Begini! Saya ingin mulai dari sebuah pertanyaan sederhana"
" Apa itu ustadz? "
" Berapa kali dalam sehari antum mengucapkan 'aku cinta padamu' pada istri? "
" Ha! Kok masalah ini sih?" Keluhku dalam hati. Seraya mengerutkan dahi. " Maaf ustadz seberapa pentingkah pertanyaan itu harus saya jawab? Perlukah ungkapan perasaan itu diketahui oleh istri? Bukankah rasa itu telah terwakilkan setiap hari? Dengan bekerjanya seorang suami, mengantarnya kepasar untuk belanja kebutuhan sehari-hari dan selalu mendampingi kemanapun ia pergi, apakah itu belum cukup bukti? "
 " Begini akhi...Kita semua dari waktu ke waktu, membutuhkan kepastian. Kepastian agar kita tidak salah menterjemahkan isyarat yang diberikan. Bukankah kepastian juga diminta nabi zakaria di surah yang tadi saya baca? ketika mengetahui Allah mengabulkan permintaannya untuk mendapatkan seorang putera, Nabi zakaria berkata "berikan aku tanda!". QS.19.10. Tidak hanya nabi zakaria, nabi Ibrahim pun sama. Ia juga meminta 'tanda' agar lebih yakin bahwa Tuhan maha kuasa. Kuasa menghidupkan dan mematikan setiap yang bernyawa. "

Akhi, antum harus mengerti. Dari suasana ketidakpastian itulah biasanya setan masuk ke hati. Karena salah satu misi besar setan kata ibnul qoyyim al jauzi adalah memisahkan orang yang saling mencintai. "Dan mereka belajar dari keduanya sesuatu yang dengannya mereka dapat memisahkan seseorang dari pasangannya."(QS.2:102).
 
Dari bab ini,ungkapan verbal berupa kata menemukan maknanya. Bahkan sesungguhnya, ada begitu banyak kekurangan dalam perbuatan yang 'beban psikologisnya' dapat terkurangi hanya dengan kata. Di dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa suatu ketika ada sahabat nabi yang sedang duduk disebelahnya. Kemudian ia berkata "ya rasulullah, sesungguhnya aku mencintai dia." 'Sudahkah engkau menyatakan cintamu ke padanya?'."Belum, ya rasulullah, kata sahabat itu."Pergilah menemui orang itu dan katakan bahwa kamu mencintainya. Kata rasulullah. Nah jika kepada sesama sahabat atau ikhwah saja rasa cinta harus diungkapkan secara verbal, dapatkah kita membayangkan, seperti apakah verbalnya ungkapan rasa cinta yang semestinya kita berikan kepada 'pasangan' (istri)? 
 
Mataku mulai berkaca-kaca. Tapi aku tidak mau ia melihatnya. Aku pura-pura. Seolah-olah ada serangga masuk ke mata, hingga aku bisa menyekanya. Ia lanjut berkata. Ditengah kesulitan ekonomi seperti sekarang ini, tidak banyak di antara kita yang sanggup memenuhi kebutuhan rumah tangga secara ideal. Kita harus lebih banyak berlapang dada dan toleransi. Minimal 'berkata lah yang baik' untuk mengurangi efek psikologi yang ditimbulkan oleh ketidakmampuan kita memenuhi kewajiban istri. Antum mungkin melihat, betapa lelahnya istri menyelesaikan pekerjaan rumah, kuliah, menjemput dan mengantar anak ke sekolah. 
 
Apakah kerja berat itu disertai dengan sarana teknologi yang mungkin memudahkannya, akhi? Apakah hanya karena istri kita seorang daiyah dan seorang mujahidah sehingga tak butuh ungkapan ini? (i love you). Atau kita sudah sama-sama tahu, sama-sama paham, atau karena kita sudah sama-sama tua dan karenanya tidak cocok menggunakan cara-cara 'anak muda' menyatakan cinta? Setan apakah yang telah membuat kita begitu rupa, pelit untuk memberikan sesuatu yang manis walaupun itu hanya sebatas 'kata'? Setan apakah yang telah membuat kita angkuh untuk merendah dan membuka rahasia hati kita yang sesungguhnya? Menyatakannya secara sederhana dan tanpa ada kepentingan dibelakangnya? Aku Terdiam. Aku menangis sejadi-jadinya. Di dalam hati beristighfar tak henti-hentinya. Sudah! cukup ustadz!. Cukup...cukup...cukup. !
 
Tapi mungkin juga ada situasi begini. Antum mencintai istri, tidak terhambat dengan keangkuhan untuk menyatakannya berulang-ulang. Masalahnya hanya satu. Antum tak bisa melakukan itu. Dan itu membuat antum jadi kaku. Jika antum adalah golongan orang semacam ini. maka tulislah puisi sapardi djoko damono ini. Berikan kepada istri.
Aku ingin..
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat di ucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Pak...pak. bangun pak! Semua orang menatapku. Seorang security dihadapanku.Ternyata aku menangis di dalam tidur menderu-deru dan mengganggu. Astagfirullah hal'adziim..segera ku buka headseat di telingaku. Murottal kumatikan dari hpku. Ternyata sudah sampai surah maryam ayat 90. Ku ambil pensil dan buku. Kusambung tulisan yang tertunda waktu itu. Kuberi judul ik hou van jou.

"KETEMU" ANIS MATTA

at 17:49  |  No comments

Pesawat Garuda nomor 333 tujuan Jakarta, berangkat pukul 11.55 wiba. (Informasi yg tertera di layar tv bandara). Angin kencang menerjang mata. Kulihat matahari belum berani tampakkan muka. Terhijab awan menghalanginya. Setelah dua hari tercuci hujan begitu lama. Awan gelap masih setia mendampinginya. Cuaca pagi ini tidak jelas maunya apa. Alhamdulillah...

Pukul 08.33 aku tiba di bandara. Pagi-pagi sudah berangkat dari rumah. Aku khawatir pakaianku basah jika hujan turun tiba-tiba. Maklum, ke bandara hanya menggunakan kendaraan roda dua. Di temani 'ojek' yang selalu setia mengantar kemana saja.

Ya...Hari ini aku akan pergi ke jakarta. Meski datang keawalan aku selalu menikmatinya. Aku tak mempermasalahkannya. Karena sudah terbiasa berada disana, seolah-olah bandara sudah menjadi rumah yang kedua. Akhirnya berlama-lama disana suatu pekerjaan yang kusuka. Suka bisa melihat bermacam-macam perilaku manusia. Suka karena bisa melamun dan merenungkan sebuah makna. Dan yang terutama suka karena hati bahagia akan berjumpa seseorang yang jauh disana. Masih ada waktu dua jam setengah aku di bandara. Karena masih lama, kugunakan waktu yang ada agar tidak jadi sia-sia. Kugunakan untuk melanjutkan tulisan yang telah lama tertunda. Tertunda karena ide hilang entah kemana rimbanya. Kucoba mencarinya. Mungkin tersapu angin saat menuju bandara, atau tercecer di jalan raya, atau tinggal di saku celana. Ha..ha..hanya bercanda. Kembali ke cerita.

Kumulai semuanya dengan Bismillah. Kulihat tulisan pertama, masih bercerita tentang cinta. Dari halaman satu sampai halaman 3, kuedit kata-kata yang salah. Kutambah kata-kata yang terlupa. Tapi masih juga aku belum bisa meneruskannya. Kutunggu beberapa lama. Berharap bisa merangkai kata menjadi sebuah kalimat indah. Sambil mengamati pesawat garuda, apakah sudah tiba. Ternyata masih belum juga ada ide yg tercipta. Kalau sudah begini aku menyerah. Takkan kupaksa otak ini bekerja. Aku tak ingin membebaninya. Lagian kalau menulis disertai dengan paksaan hasilnya kurang memuaskan. Mengecewakan. Akhirnya aktivitas kualihkan. Kubuka tas dan kuambil buku yg akan kubaca. Buku yang ditulis oleh M. Anis matta. Aku suka membaca tulisannya. Aku senang dengan sosoknya.

Kata-katanya memotivasi. Tulisannya bergizi mengundang energi. Bahasanya tinggi tapi mudah dipahami. Gayanya natural tanpa politisasi. Kalau lama-lama diamati, perawakannya seperti jet Li. (Asumsi pribadi).  Ketika sedang asyik menikmati, kudengar ada yang ngaji dikursi sebelah kiri. Kusimak surah ini. Karena ku tahu beberapa arti didalamnya. Kucoba utk meresapi.

Kaaf Haa Yaa 'Ain Shaad.
(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.
Ia berkata "Yaa Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, yaa Tuhanku.
Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera,
Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, yaa Tuhanku, seorang yang diridhai".
Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.
Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua".
Tuhan berfirman: "Demikianlah". Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali".
Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat".

Kulihat siapa yang membaca surat ke 19 ini. Subhanallah!.. Itukan anis matta? Terkejut. Masih tak percaya. Syukurlah ada simbol nomor 3 dibajunya. Kudekati dan memberanikan diri untuk berbasa-basi. Assalamualaikum. Pak Jen, Astagfirullah. Maaf, Ust. Anis kan ya? Dari mana mau ke mana? Iya...saya Anis Matta. Ini dari pontianak mau pulang ke Jakarta. O iya..kenalkan saya aziz. Saya juga mau ke jakarta. Cuma nanti langsung ke surakarta. Menemui istri kuliah disana. 
 
(Ust anis menutup alqurannya) 
"maaf ustadz jadi terganggu tilawahnya."
" O..tidak apa-apa sudah selesai kok."
" Maaf ust. Emm...saya mau minta nasehat dari ustadz. Itupun kalau boleh"
" Bolehlah...Kenapa tidak. Nasehat apa?"
" Terserah ustadz, nasehat yang diberikan kepada anak ustadz ketika sedang galau juga bolehlah!"
" Ha..ha..bisa saja antum ini. Begini! Saya ingin mulai dari sebuah pertanyaan sederhana"
" Apa itu ustadz? "
" Berapa kali dalam sehari antum mengucapkan 'aku cinta padamu' pada istri? "
" Ha! Kok masalah ini sih?" Keluhku dalam hati. Seraya mengerutkan dahi. " Maaf ustadz seberapa pentingkah pertanyaan itu harus saya jawab? Perlukah ungkapan perasaan itu diketahui oleh istri? Bukankah rasa itu telah terwakilkan setiap hari? Dengan bekerjanya seorang suami, mengantarnya kepasar untuk belanja kebutuhan sehari-hari dan selalu mendampingi kemanapun ia pergi, apakah itu belum cukup bukti? "
 " Begini akhi...Kita semua dari waktu ke waktu, membutuhkan kepastian. Kepastian agar kita tidak salah menterjemahkan isyarat yang diberikan. Bukankah kepastian juga diminta nabi zakaria di surah yang tadi saya baca? ketika mengetahui Allah mengabulkan permintaannya untuk mendapatkan seorang putera, Nabi zakaria berkata "berikan aku tanda!". QS.19.10. Tidak hanya nabi zakaria, nabi Ibrahim pun sama. Ia juga meminta 'tanda' agar lebih yakin bahwa Tuhan maha kuasa. Kuasa menghidupkan dan mematikan setiap yang bernyawa. "

Akhi, antum harus mengerti. Dari suasana ketidakpastian itulah biasanya setan masuk ke hati. Karena salah satu misi besar setan kata ibnul qoyyim al jauzi adalah memisahkan orang yang saling mencintai. "Dan mereka belajar dari keduanya sesuatu yang dengannya mereka dapat memisahkan seseorang dari pasangannya."(QS.2:102).
 
Dari bab ini,ungkapan verbal berupa kata menemukan maknanya. Bahkan sesungguhnya, ada begitu banyak kekurangan dalam perbuatan yang 'beban psikologisnya' dapat terkurangi hanya dengan kata. Di dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa suatu ketika ada sahabat nabi yang sedang duduk disebelahnya. Kemudian ia berkata "ya rasulullah, sesungguhnya aku mencintai dia." 'Sudahkah engkau menyatakan cintamu ke padanya?'."Belum, ya rasulullah, kata sahabat itu."Pergilah menemui orang itu dan katakan bahwa kamu mencintainya. Kata rasulullah. Nah jika kepada sesama sahabat atau ikhwah saja rasa cinta harus diungkapkan secara verbal, dapatkah kita membayangkan, seperti apakah verbalnya ungkapan rasa cinta yang semestinya kita berikan kepada 'pasangan' (istri)? 
 
Mataku mulai berkaca-kaca. Tapi aku tidak mau ia melihatnya. Aku pura-pura. Seolah-olah ada serangga masuk ke mata, hingga aku bisa menyekanya. Ia lanjut berkata. Ditengah kesulitan ekonomi seperti sekarang ini, tidak banyak di antara kita yang sanggup memenuhi kebutuhan rumah tangga secara ideal. Kita harus lebih banyak berlapang dada dan toleransi. Minimal 'berkata lah yang baik' untuk mengurangi efek psikologi yang ditimbulkan oleh ketidakmampuan kita memenuhi kewajiban istri. Antum mungkin melihat, betapa lelahnya istri menyelesaikan pekerjaan rumah, kuliah, menjemput dan mengantar anak ke sekolah. 
 
Apakah kerja berat itu disertai dengan sarana teknologi yang mungkin memudahkannya, akhi? Apakah hanya karena istri kita seorang daiyah dan seorang mujahidah sehingga tak butuh ungkapan ini? (i love you). Atau kita sudah sama-sama tahu, sama-sama paham, atau karena kita sudah sama-sama tua dan karenanya tidak cocok menggunakan cara-cara 'anak muda' menyatakan cinta? Setan apakah yang telah membuat kita begitu rupa, pelit untuk memberikan sesuatu yang manis walaupun itu hanya sebatas 'kata'? Setan apakah yang telah membuat kita angkuh untuk merendah dan membuka rahasia hati kita yang sesungguhnya? Menyatakannya secara sederhana dan tanpa ada kepentingan dibelakangnya? Aku Terdiam. Aku menangis sejadi-jadinya. Di dalam hati beristighfar tak henti-hentinya. Sudah! cukup ustadz!. Cukup...cukup...cukup. !
 
Tapi mungkin juga ada situasi begini. Antum mencintai istri, tidak terhambat dengan keangkuhan untuk menyatakannya berulang-ulang. Masalahnya hanya satu. Antum tak bisa melakukan itu. Dan itu membuat antum jadi kaku. Jika antum adalah golongan orang semacam ini. maka tulislah puisi sapardi djoko damono ini. Berikan kepada istri.
Aku ingin..
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat di ucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Pak...pak. bangun pak! Semua orang menatapku. Seorang security dihadapanku.Ternyata aku menangis di dalam tidur menderu-deru dan mengganggu. Astagfirullah hal'adziim..segera ku buka headseat di telingaku. Murottal kumatikan dari hpku. Ternyata sudah sampai surah maryam ayat 90. Ku ambil pensil dan buku. Kusambung tulisan yang tertunda waktu itu. Kuberi judul ik hou van jou.

Read More

0 comments:

Friday, 10 January 2014

Alhamdulillah...
Sudah ada beberapa mobil di halaman...
Pekerjaan tetap sudah didapatkan...
Pendidikan sudah melebihi dari yang ditargetkan...
Sudah ada rumah mewah yang telah lama kuimpikan...
Rumah mewah dihiasi lukisan dan perabotan...
Di dalamnya ada taman dan kolam ikan...
Cukuplah untuk sekedar beristirahat dan menghilangkan beban.
Dibandingkan dengan yang lain, Rumah ku cukup lumayan...

Meskipun demikian, sepertinya masih ada yang kurang...
Sepertinya ada sesuatu yang telah hilang...
Membuat hati jadi tak tenang...
Bentuknya susah untuk didefinisikan...
Yang pasti, ia dicari semua orang...
Dan hanya orang-orang tertentu yang mendapatkan.

Kucoba merekonstruksi ulang...
Kemana barang itu kuletakkan...
Coba bertanya pada orang-orang disekitar...
Kukatakan, kalau bapak, ibu bisa menemukan dan mengembalikan...
Imbalannya ditukar dengan rumah yang telah lama saya idam-idamkan...
Atau dengan beberapa mobil yang berada di halaman.

Sehari, seminggu, sebulan
Masih belum kutemukan.
Orang-orang yang kumintai bantuan pun belum melaporkan perkembangan.
Akhirnya kucari sendirian.
Aku coba berfikir tenang.

Alhamdulillah...
Puja-puji langsung kupanjatkan...
Aku senang bukan kepalang.
Akhirnya barang yang hilang telah kutemukan...
Barang yang hilang itu adalah sumber kebahagian, ketenangan...
Barang itu adalah iman.
Dari sini kudapatkan suatu pelajaran.
Kekayaan tidak menjamin hadirnya kebahagiaan dan ketenangan...
Benarlah apa yang tercantum di dalam alquran.
'...dengan mengingat ku hati akan menjadi tenang'.

Iman Sumber Kebahagiaan

at 05:46  |  No comments

Alhamdulillah...
Sudah ada beberapa mobil di halaman...
Pekerjaan tetap sudah didapatkan...
Pendidikan sudah melebihi dari yang ditargetkan...
Sudah ada rumah mewah yang telah lama kuimpikan...
Rumah mewah dihiasi lukisan dan perabotan...
Di dalamnya ada taman dan kolam ikan...
Cukuplah untuk sekedar beristirahat dan menghilangkan beban.
Dibandingkan dengan yang lain, Rumah ku cukup lumayan...

Meskipun demikian, sepertinya masih ada yang kurang...
Sepertinya ada sesuatu yang telah hilang...
Membuat hati jadi tak tenang...
Bentuknya susah untuk didefinisikan...
Yang pasti, ia dicari semua orang...
Dan hanya orang-orang tertentu yang mendapatkan.

Kucoba merekonstruksi ulang...
Kemana barang itu kuletakkan...
Coba bertanya pada orang-orang disekitar...
Kukatakan, kalau bapak, ibu bisa menemukan dan mengembalikan...
Imbalannya ditukar dengan rumah yang telah lama saya idam-idamkan...
Atau dengan beberapa mobil yang berada di halaman.

Sehari, seminggu, sebulan
Masih belum kutemukan.
Orang-orang yang kumintai bantuan pun belum melaporkan perkembangan.
Akhirnya kucari sendirian.
Aku coba berfikir tenang.

Alhamdulillah...
Puja-puji langsung kupanjatkan...
Aku senang bukan kepalang.
Akhirnya barang yang hilang telah kutemukan...
Barang yang hilang itu adalah sumber kebahagian, ketenangan...
Barang itu adalah iman.
Dari sini kudapatkan suatu pelajaran.
Kekayaan tidak menjamin hadirnya kebahagiaan dan ketenangan...
Benarlah apa yang tercantum di dalam alquran.
'...dengan mengingat ku hati akan menjadi tenang'.

Read More

0 comments:

Aku butuh dukungan. Aku butuh keajaiban. Tunjukkan aku jalan. Suara lirih dari dalam hati. Akhirnya, datanglah waktu yang telah disepakati (7 hari). Murobbi datang menemui. Ketika matahari sepenggalahan tinggi. Sambil duduk dikursi. Dan tanpa basa-basi ia berkata begini "antum akan diproses dengan Reny Husnawati (istriku kini). Proposal yang pertama ditarik kembali. 'Ha..apa yang terjadi?' Pokoknya antum ikuti saja keputusan ini. Mengerti?

Masih terduduk di kursi. Kuberucap di dalam hati. Subhanallah! Maha Suci Engkau Yaa Robbi. Puja dan puji kupanjatkan kepada pemilik taqdir ini. Ternyata benarlah mimpiku dinihari tadi. Aku bermimpi orangtuamu tersenyum manis sekali, tanda merestui. Tiba-tiba kuterjaga oleh suara merdu. Kumendengar sayup-sayup sebuah lagu. Lagu yang terkenal saat masih mahasiswa dulu. Rasa-rasaya aku pernah mendengar lagu itu...

Desir pasir di padang tandus
segersang pemikiran hati
terkisah ku di antara
cinta yang rumit
bila keyakinanku datang
kasih bukan sekadar cinta
pengorbanan cinta yang agung
ku pertaruhkan
     reff:
     maafkan bila ku tak sempurna
     cinta ini tak mungkin ku cegah
     ayat-ayat cinta bercerita
     cintaku padamu
     bila bahagia mulai menyentuh
     seakan ku bisa hidup lebih lama
     namun harus ku tinggalkan cinta
     ketika ku bersujud
     bila keyakinanku datang
     kasih bukan sekedar cinta
     pengorbanan cinta yang agung
     ku pertaruhkan 
(Ayat-ayat Cinta - Rossa).
***
 
Istriku, Maafkan aku, kalau selama ini aku terkesan kaku. Maafkan aku kalau selama ini aku tak pernah mengatakan I Love You kepadamu. Bukan karena aku tak mau. Bukan, bukan itu. Tapi, Lidah ku kelu, mulutku gagu, dan membisu ketika menatap kedua bola matamu yang sayu. Aku berani bermain kata hanya di dunia maya saja. Tidak di alam nyata dan tidak juga 4 mata. Keberanianku di dunia maya ini pun terinspirasi dari tulisan ustadz Cahyadi yang berjudul 'pernak-pernik rumah tangga islami' yang sudah lama kau beli.

Di bab 2, hal 163 tema nyatakan cinta dengan bahasa.
Maafkan aku kalau selama ini aku terkesan kurang romantis seperti pasangan selebritis. Termasuk pada hari ini ku menulis. Seharusnya kuberikan tulisan ini bertepatan dengan jadwal dan tanggal berlangsungnya pernikahan. Tapi aku tak kuasa menahan. Menahan perasaan yang telah lama ingin kusampaikan. Meskipun hanya lewat tulisan. Semoga bisa mewakili perasaan.

Ik hou van jou-(belanda)
Ya tebya liubliu-(russia)
Ya tabe kahayu-(belarussia)
Es tave muliu-(lithuania)
Anata ga daisuki desu
Aishiteru-(jepang)
I love you-(inggris)
Saya cintakan kamu- (malaysia)
Aku cinta padamu-(Indonesia)
 
(selesai)

Ik Hou Van Jou (Bag. 2)

at 05:26  |  No comments

Aku butuh dukungan. Aku butuh keajaiban. Tunjukkan aku jalan. Suara lirih dari dalam hati. Akhirnya, datanglah waktu yang telah disepakati (7 hari). Murobbi datang menemui. Ketika matahari sepenggalahan tinggi. Sambil duduk dikursi. Dan tanpa basa-basi ia berkata begini "antum akan diproses dengan Reny Husnawati (istriku kini). Proposal yang pertama ditarik kembali. 'Ha..apa yang terjadi?' Pokoknya antum ikuti saja keputusan ini. Mengerti?

Masih terduduk di kursi. Kuberucap di dalam hati. Subhanallah! Maha Suci Engkau Yaa Robbi. Puja dan puji kupanjatkan kepada pemilik taqdir ini. Ternyata benarlah mimpiku dinihari tadi. Aku bermimpi orangtuamu tersenyum manis sekali, tanda merestui. Tiba-tiba kuterjaga oleh suara merdu. Kumendengar sayup-sayup sebuah lagu. Lagu yang terkenal saat masih mahasiswa dulu. Rasa-rasaya aku pernah mendengar lagu itu...

Desir pasir di padang tandus
segersang pemikiran hati
terkisah ku di antara
cinta yang rumit
bila keyakinanku datang
kasih bukan sekadar cinta
pengorbanan cinta yang agung
ku pertaruhkan
     reff:
     maafkan bila ku tak sempurna
     cinta ini tak mungkin ku cegah
     ayat-ayat cinta bercerita
     cintaku padamu
     bila bahagia mulai menyentuh
     seakan ku bisa hidup lebih lama
     namun harus ku tinggalkan cinta
     ketika ku bersujud
     bila keyakinanku datang
     kasih bukan sekedar cinta
     pengorbanan cinta yang agung
     ku pertaruhkan 
(Ayat-ayat Cinta - Rossa).
***
 
Istriku, Maafkan aku, kalau selama ini aku terkesan kaku. Maafkan aku kalau selama ini aku tak pernah mengatakan I Love You kepadamu. Bukan karena aku tak mau. Bukan, bukan itu. Tapi, Lidah ku kelu, mulutku gagu, dan membisu ketika menatap kedua bola matamu yang sayu. Aku berani bermain kata hanya di dunia maya saja. Tidak di alam nyata dan tidak juga 4 mata. Keberanianku di dunia maya ini pun terinspirasi dari tulisan ustadz Cahyadi yang berjudul 'pernak-pernik rumah tangga islami' yang sudah lama kau beli.

Di bab 2, hal 163 tema nyatakan cinta dengan bahasa.
Maafkan aku kalau selama ini aku terkesan kurang romantis seperti pasangan selebritis. Termasuk pada hari ini ku menulis. Seharusnya kuberikan tulisan ini bertepatan dengan jadwal dan tanggal berlangsungnya pernikahan. Tapi aku tak kuasa menahan. Menahan perasaan yang telah lama ingin kusampaikan. Meskipun hanya lewat tulisan. Semoga bisa mewakili perasaan.

Ik hou van jou-(belanda)
Ya tebya liubliu-(russia)
Ya tabe kahayu-(belarussia)
Es tave muliu-(lithuania)
Anata ga daisuki desu
Aishiteru-(jepang)
I love you-(inggris)
Saya cintakan kamu- (malaysia)
Aku cinta padamu-(Indonesia)
 
(selesai)

Read More

0 comments:

Tak terasa sudah 6 tahun waktu berlalu. Rasanya baru minggu lalu kita bertemu. Di rumah itu yang difasilitasi oleh murobbiahmu. Pukul 7 kau datang lebih dulu, memakai jaket berwarna biru. Aku juga datang memakai baju berwarna sama denganmu. Belakangan baru ku tau. Warna kesukaanmu dan kesukaanku, sama-sama biru. Saat dipertemuan itu, kau tak berani menatapku. Karena memang Tuhanmu dan Tuhanku melarang hal itu. 
 
Sambil tertunduk malu, kau bertanya, apa motivasiku ingin menikahi mu. Awalnya ingin kukatakan karena aku menyukai mu. Aku tak bisa membohongi diri. Aku jatuh hati ketika melihat mu pertama kali. Tapi aku tau diri. Kusembunyikan di dalam hati. Memilihmu adalah pilihan sadar tanpa ada sebuah paksaan. Pilihan sadar dari suara hati yang paling dominan. Tapi kutau bukan itu jawaban yg kau tunggu. Dan akupun takkan mampu mengungkap rasa itu. 
 
Menyebut namamu pun aku tak mampu. Tersihir oleh kharisma dan kedewasaanmu. Dengan sedikit ilmu dan ragu, karena aku belum pernah sekalipun membaca buku-buku tentang itu. Kupaksakan menjawab pertanyaanmu. "Untuk mengubah dunia yang penuh dengan kegelapan, harus ada tahapan yang kita lakukan. Salah satunya melalui pernikahan". Kulihat semua orang yang ada disitu tersenyum tersipu. Aku tak tau arti senyuman itu. Apakah tanda setuju atau 'menghina' jawabanku yang ambigu. Aku malu jika mengingat hal itu.Seharusnya kujelaskan satu persatu, agar kau tau arah dan maksud dari jawabanku. Tapi...ya sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu.

Mudah-mudahan jadi pelajaran untuk anak-cucu. Dalam kesendirian, kadang-kadang timbul pertanyaan, apa yang membuat dirimu menerima orang seperti ku? Padahal saat itu, dari segi ilmu kau melebihiku. Dari segi pendidikan dan kepintaran, kau lumayan. Dari segi pekerjaan kau sudah cukup mapan. Dari segi rizqi, gajimu lebih tinggi. Bahkan kau sudah jadi pegawai negeri. Emm...Apakah karena aku tampan? Atau waktu itu memang tak ada lagi pilihan? Ah..Mudah-mudahan bukan yang terakhir ini yang menjadi alasan. Mudah-mudahan alasan yang pertama dan semata-mata untuk beribadah kepada Tuhan.

Ah...sudahlah nanti saja langsung kutanya kan. O...iya, kukira ini adalah saat yang tepat untuk memberitahu tentang bagaimana perjalanan sebelum pertemuan yang pertama itu? Untuk mendapatkan persetujuan dari beberapa kalangan, bahwa engkaulah yang menjadi pilihan, aku harus melewati berbagai macam perjuangan. Perjuangan untuk sebuah keyakinan. Perjuangan untuk sebuah kepasrahan. Dari berbagai macam perjuangan yang kutemukan, satu yang sangat berat kurasakan. Yaitu ketika menyatukan kemauan dengan pemegang kebijakan. Kemauanku dan kemauan pemegang kebijakan pada saat itu ternyata berlainan. Aku sadar sebagai murid dan bawahan memang harus patuh atas segala macam keputusan. Namun, masalah rasa bisakah dipaksakan? Masalah selera bisakah disamakan? Sungguh pergolakan batin yang sangat menyengsarakan. Semuanya tak kusampaikan. Semuanya kupendam dalam-dalam. Biarlah aku saja dan Tuhan yang merasakan.

Aku diberi waktu seminggu untuk mempertimbangkan. Sejak kumengetahui bukan namamu yang direkomendasikan, aku langsung menghadap Tuhan seru sekalian alam. Selama seminggu, di waktu-waktu doa terkabulkan namamu kuajukan. Dengan berbagai cara namamu ku'dzikir'kan. Dengan berbagai alasan kucari pembenaran. Aku tak peduli apabila cara ini di luar tuntunan nabi. Saat itu hanya namamu yang terpatri. Kupasrahkan semua kepada Robbul Izzati. Wahai Yang Maha Mengetahui... (bersambung...)

Ik Hou Van Jou (Bag. 1)

at 05:10  |  No comments

Tak terasa sudah 6 tahun waktu berlalu. Rasanya baru minggu lalu kita bertemu. Di rumah itu yang difasilitasi oleh murobbiahmu. Pukul 7 kau datang lebih dulu, memakai jaket berwarna biru. Aku juga datang memakai baju berwarna sama denganmu. Belakangan baru ku tau. Warna kesukaanmu dan kesukaanku, sama-sama biru. Saat dipertemuan itu, kau tak berani menatapku. Karena memang Tuhanmu dan Tuhanku melarang hal itu. 
 
Sambil tertunduk malu, kau bertanya, apa motivasiku ingin menikahi mu. Awalnya ingin kukatakan karena aku menyukai mu. Aku tak bisa membohongi diri. Aku jatuh hati ketika melihat mu pertama kali. Tapi aku tau diri. Kusembunyikan di dalam hati. Memilihmu adalah pilihan sadar tanpa ada sebuah paksaan. Pilihan sadar dari suara hati yang paling dominan. Tapi kutau bukan itu jawaban yg kau tunggu. Dan akupun takkan mampu mengungkap rasa itu. 
 
Menyebut namamu pun aku tak mampu. Tersihir oleh kharisma dan kedewasaanmu. Dengan sedikit ilmu dan ragu, karena aku belum pernah sekalipun membaca buku-buku tentang itu. Kupaksakan menjawab pertanyaanmu. "Untuk mengubah dunia yang penuh dengan kegelapan, harus ada tahapan yang kita lakukan. Salah satunya melalui pernikahan". Kulihat semua orang yang ada disitu tersenyum tersipu. Aku tak tau arti senyuman itu. Apakah tanda setuju atau 'menghina' jawabanku yang ambigu. Aku malu jika mengingat hal itu.Seharusnya kujelaskan satu persatu, agar kau tau arah dan maksud dari jawabanku. Tapi...ya sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu.

Mudah-mudahan jadi pelajaran untuk anak-cucu. Dalam kesendirian, kadang-kadang timbul pertanyaan, apa yang membuat dirimu menerima orang seperti ku? Padahal saat itu, dari segi ilmu kau melebihiku. Dari segi pendidikan dan kepintaran, kau lumayan. Dari segi pekerjaan kau sudah cukup mapan. Dari segi rizqi, gajimu lebih tinggi. Bahkan kau sudah jadi pegawai negeri. Emm...Apakah karena aku tampan? Atau waktu itu memang tak ada lagi pilihan? Ah..Mudah-mudahan bukan yang terakhir ini yang menjadi alasan. Mudah-mudahan alasan yang pertama dan semata-mata untuk beribadah kepada Tuhan.

Ah...sudahlah nanti saja langsung kutanya kan. O...iya, kukira ini adalah saat yang tepat untuk memberitahu tentang bagaimana perjalanan sebelum pertemuan yang pertama itu? Untuk mendapatkan persetujuan dari beberapa kalangan, bahwa engkaulah yang menjadi pilihan, aku harus melewati berbagai macam perjuangan. Perjuangan untuk sebuah keyakinan. Perjuangan untuk sebuah kepasrahan. Dari berbagai macam perjuangan yang kutemukan, satu yang sangat berat kurasakan. Yaitu ketika menyatukan kemauan dengan pemegang kebijakan. Kemauanku dan kemauan pemegang kebijakan pada saat itu ternyata berlainan. Aku sadar sebagai murid dan bawahan memang harus patuh atas segala macam keputusan. Namun, masalah rasa bisakah dipaksakan? Masalah selera bisakah disamakan? Sungguh pergolakan batin yang sangat menyengsarakan. Semuanya tak kusampaikan. Semuanya kupendam dalam-dalam. Biarlah aku saja dan Tuhan yang merasakan.

Aku diberi waktu seminggu untuk mempertimbangkan. Sejak kumengetahui bukan namamu yang direkomendasikan, aku langsung menghadap Tuhan seru sekalian alam. Selama seminggu, di waktu-waktu doa terkabulkan namamu kuajukan. Dengan berbagai cara namamu ku'dzikir'kan. Dengan berbagai alasan kucari pembenaran. Aku tak peduli apabila cara ini di luar tuntunan nabi. Saat itu hanya namamu yang terpatri. Kupasrahkan semua kepada Robbul Izzati. Wahai Yang Maha Mengetahui... (bersambung...)

Read More

0 comments:

Thursday, 9 January 2014

Masih kisah di surakarta. Sepenggal peristiwa, di restoran spirit of java. Restoran asal surabaya, yang digemari kalangan tua dan muda. Digemari karena banyak menu pilihannya. Digemari karena aroma masakan yang menggugah selera. Digemari karena tempatnya indah menenangkan mata. Dan akhirnya hargapun tinggi di atas rata2.

Pengunjung di sana adalah orang2 kaya. Bisa dilihat dari mobil mewah yang mereka bawa. Land Cruiser, Fortuner, Hammer. Camry, MERCY, Audi, ada juga lamborghini. Sedangkan aku dan istri, sebenarnya tak sengaja berada di sini. Siang itu kami seharian mencari barang titipan kawan. Ee...pas mau pulang. Kehujanan. Dari siang sampai malam perut belum terisi makanan. Setelah melihat, menimbang dan memperhatikan, ternyata tak ada lagi pilihan. Ya...dari pada perut keroncongan, akhirnya kami memutuskan untuk singgah dan memesan.

Pukul 18.25 wiba disinilah kisah itu bermula. Satu keluarga yang terdiri dari 2 anak dan seorang ayah, tanpa sosok ibu didekatnya. Duduk di meja nomor 03. Keluarga ini memang sedikit berbeda. Tampang dan pakaiannya terkesan sedikit 'dipaksa'. Dipaksa menyesuaikan pengunjung yang ada di sana maksudnya. Mungkin keluarga itu sudah tau, siapa2 saja yang biasa berkunjung di restoran itu.Aku juga kurang tau. Apakah mereka datang karena terjebak hujan seperti ku. Atau hanya ingin merayakan sesuatu yang sudah diniatkan keluarga itu sedari dulu.

Ah sudahlah...bukankah semua orang berhak makan dimana saja? Yang penting uang ada, tak jadi masalah penampilan mau seperti apa. Pikirku sambil memejamkan mata. Tak banyak kata, setelah duduk dimeja nomor 03, pelayanpun tiba sebari menyodorkan buku menu yang telah dibawa. Si ayah menyerahkan buku menu itu kepada anaknya, 'Ayah pesan yang mana?' Kata anak yg rambutnya dikepang dua. kira2 11thn umurnya.Sepertinya ia anak yang pertama. Terserah kamu nak, ayah ikut saja! Tak perlu menunggu lama makanan yang dipesanpun sudah tiba.Tapi yang datang baru dua.Dengan serta merta anak2 itupun langsung melahapnya. Sedangkan si ayah menunggu disamping mereka, terlihat memainkan hp nokia model lama.

Setelah 10 menit berlalu, si ayah yang tadi menunggu,kini tertunduk membisu dan sepertinya sedang menikmati sesuatu. Coba lihat bapak itu! Bisik istriku,sambil mencubit lembut lenganku. Bapak yang pakai baju biru makan makanan sisa, ke 2 anak itu! Sebenarnya aku tau kejadian itu, tapi semuanya kuanggap angin lalu. Aku masih saja menikmati hidangan ku.

Setelah terdiam beberapa waktu, kulihat ada yang mengalir dimata istriku. Aku heran dan bertanya lugu, ada apa dengan mu? 'Diam tertunduk lesu'. Ya robbi...kenapa selalu harus diawali dengan tetesan air mata..Apakah itu memang syarat agar hati ini bisa terbuka? Ya robbi...sudah 2x melalui peristiwa kau ingatkan hamba...2x itu pula hamba lupa mengambil makna... Masih membekas di dalam dada. 20 september yang belum lama. Kini kau ingatkan lagi dengan sosok bapak di meja nomor 03. Ya...robbi apakah memang sudah sudah engkau rencanakan. Dengan cara ini engkau ingin mengatakan. Beginilah caranya menjaga amanah Tuhan! Beginiloh cara memberi kasih sayang! Prioritaskan anak dulu, baru pikirkan dirimu! Berikan apa yang terbaik untuk buah hati! Jangan tinggalkan generasi lemah dikemudian hari! Sejak saat itu aku baru tau, apa yang membuat istriku terharu. Seketika itu rasa 'cemburu' menyelimuti kalbu.

Cemburu atas kelebihan yang diperlihatkan bapak itu. Dan aku cemburu karena belum bisa seperti bapak yang berbaju biru. Buru2 kuhabiskan makanan ku. Segera aku pulang dan mengatakan sesuatu kepada kedua anakku, yang ternyata telah menunggu lama di depan pintu. Maafkan abi ya nak, abi belum bisa seperti bapak 'itu'. Abi belum bisa memberikan yang terbaik untuk mu. Berikan abi waktu! Semoga menjadi orangtua yang mengerti akan hak2 mu. Mudah2an tahun ini abi bisa lebih baik dari tahun lalu

Meja Kosong Tiga

at 00:01  |  No comments

Masih kisah di surakarta. Sepenggal peristiwa, di restoran spirit of java. Restoran asal surabaya, yang digemari kalangan tua dan muda. Digemari karena banyak menu pilihannya. Digemari karena aroma masakan yang menggugah selera. Digemari karena tempatnya indah menenangkan mata. Dan akhirnya hargapun tinggi di atas rata2.

Pengunjung di sana adalah orang2 kaya. Bisa dilihat dari mobil mewah yang mereka bawa. Land Cruiser, Fortuner, Hammer. Camry, MERCY, Audi, ada juga lamborghini. Sedangkan aku dan istri, sebenarnya tak sengaja berada di sini. Siang itu kami seharian mencari barang titipan kawan. Ee...pas mau pulang. Kehujanan. Dari siang sampai malam perut belum terisi makanan. Setelah melihat, menimbang dan memperhatikan, ternyata tak ada lagi pilihan. Ya...dari pada perut keroncongan, akhirnya kami memutuskan untuk singgah dan memesan.

Pukul 18.25 wiba disinilah kisah itu bermula. Satu keluarga yang terdiri dari 2 anak dan seorang ayah, tanpa sosok ibu didekatnya. Duduk di meja nomor 03. Keluarga ini memang sedikit berbeda. Tampang dan pakaiannya terkesan sedikit 'dipaksa'. Dipaksa menyesuaikan pengunjung yang ada di sana maksudnya. Mungkin keluarga itu sudah tau, siapa2 saja yang biasa berkunjung di restoran itu.Aku juga kurang tau. Apakah mereka datang karena terjebak hujan seperti ku. Atau hanya ingin merayakan sesuatu yang sudah diniatkan keluarga itu sedari dulu.

Ah sudahlah...bukankah semua orang berhak makan dimana saja? Yang penting uang ada, tak jadi masalah penampilan mau seperti apa. Pikirku sambil memejamkan mata. Tak banyak kata, setelah duduk dimeja nomor 03, pelayanpun tiba sebari menyodorkan buku menu yang telah dibawa. Si ayah menyerahkan buku menu itu kepada anaknya, 'Ayah pesan yang mana?' Kata anak yg rambutnya dikepang dua. kira2 11thn umurnya.Sepertinya ia anak yang pertama. Terserah kamu nak, ayah ikut saja! Tak perlu menunggu lama makanan yang dipesanpun sudah tiba.Tapi yang datang baru dua.Dengan serta merta anak2 itupun langsung melahapnya. Sedangkan si ayah menunggu disamping mereka, terlihat memainkan hp nokia model lama.

Setelah 10 menit berlalu, si ayah yang tadi menunggu,kini tertunduk membisu dan sepertinya sedang menikmati sesuatu. Coba lihat bapak itu! Bisik istriku,sambil mencubit lembut lenganku. Bapak yang pakai baju biru makan makanan sisa, ke 2 anak itu! Sebenarnya aku tau kejadian itu, tapi semuanya kuanggap angin lalu. Aku masih saja menikmati hidangan ku.

Setelah terdiam beberapa waktu, kulihat ada yang mengalir dimata istriku. Aku heran dan bertanya lugu, ada apa dengan mu? 'Diam tertunduk lesu'. Ya robbi...kenapa selalu harus diawali dengan tetesan air mata..Apakah itu memang syarat agar hati ini bisa terbuka? Ya robbi...sudah 2x melalui peristiwa kau ingatkan hamba...2x itu pula hamba lupa mengambil makna... Masih membekas di dalam dada. 20 september yang belum lama. Kini kau ingatkan lagi dengan sosok bapak di meja nomor 03. Ya...robbi apakah memang sudah sudah engkau rencanakan. Dengan cara ini engkau ingin mengatakan. Beginilah caranya menjaga amanah Tuhan! Beginiloh cara memberi kasih sayang! Prioritaskan anak dulu, baru pikirkan dirimu! Berikan apa yang terbaik untuk buah hati! Jangan tinggalkan generasi lemah dikemudian hari! Sejak saat itu aku baru tau, apa yang membuat istriku terharu. Seketika itu rasa 'cemburu' menyelimuti kalbu.

Cemburu atas kelebihan yang diperlihatkan bapak itu. Dan aku cemburu karena belum bisa seperti bapak yang berbaju biru. Buru2 kuhabiskan makanan ku. Segera aku pulang dan mengatakan sesuatu kepada kedua anakku, yang ternyata telah menunggu lama di depan pintu. Maafkan abi ya nak, abi belum bisa seperti bapak 'itu'. Abi belum bisa memberikan yang terbaik untuk mu. Berikan abi waktu! Semoga menjadi orangtua yang mengerti akan hak2 mu. Mudah2an tahun ini abi bisa lebih baik dari tahun lalu

Read More

0 comments:

Abi...
Air mata ku membasahi pipi.Ketika suara itu teringat kembali. Bahkan saat tulisan ini dibuat, air mataku tak kunjung berhenti. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi? Semuanya berawal dari sini...
Umar, seperti itulah ia kuberi nama. Nama yang sudah kusiapkan ketika masih berstatus mahasiswa. Aku berharap nama itu akan berguna ketika kelak ia tumbuh dewasa.

Ia anak ku yang pertama,tinggi-besar perawakannya.Ketika ia lahir aku tak bisa menemaninya. Karena melaksanakan tugas sebagai setengah abdi negara...Sekarang 4 thn sudah umurnya. Ia sekolah di tkit taqiya, kira-kira 20 menit-lah jaraknya dari rumah. Namun,sejak setahun yang lalu kami tak lagi hidup serumah, ia tinggal di surakarta beserta adik dan uminya yang sedang melanjutkan studi di sana...
20 Seprt 2013 aku tiba di surakarta, dengan maksud mengunjunginya. Karena ini kedatangan yang pertama, istri & anak2 rencananya akan menjemput ku di bandara.

Abi...
Di bandara Umar memanggil ku sambil berlari tunjukkan wajah yang sempurna. Abi capek ya? Ia tanya keadanku bagaimana? Ia tawarkan membawa tas yang ku bawa.Kujawab ia dengan anggukan dan gelengan kepala. Ya...Sebagai orang tua aku memang selalu menampilkan muka yang tak ramah. Jarang senyum dan terkadang keras kepadanya.Aku berharap dengan sikap seperti ini ia tumbuh menjadi anak berwibawa dan berkharisma seperti maksud dan tujuan ku memberi nama. Dan karena ini jualah aku jarang sekali mengajaknya bercanda, bercerita, jalan2 ketempat wisata, membelikan mainan yang ia suka, dan berusaha memahami, mendengarkan apa saja keinginannya.

Aku punya pemahaman, sikap kelemahlembutan seperti memberikan pelukan, memberikan ciuman, mengungkapkan ketakutan dan kesedihan hanya untuk anak perempuan. Tak ada dalam kamusku, laki2 harus diperlakukan seperti itu. Singkat kata, singkat cerita, tak terasa ternyata sudah 7 hari lamanya di surakarta. Artinya, aku harus pulang dan kembali bekerja. Segera kusiapkan barang2 yang akan di bawa. Nasi, buah dan sebotol aqua bawaan yang harus ada. Sebab kali ini, perjalanan ku akan memakan waktu yang cukup lama. Dari surakarta harus transit dulu di jakarta. Belum lagi masalah delay yang seperti membudaya..

Tibalah hari di mana aku harus meninggalkan kota spirit of java. Ketika hendak melangkah, umar marah2 tak tahu kenapa. Tidak mau mandi dan tidak mau ke sekolah. Padahal pagi itu aku harus segera ke bandara yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Umar masih saja bertingkah. Setelah sekian lama menunggu, ditawari ini dan itu ia masih tak mau melepaskan tangan dan kaki ku. Aku tak bisa berbuat apa2, ingin marah tak enak dengan tetangga sebelah. Istriku berkata cobalah peluk dan cium dia!. Cobalah sekali2 sikapi sikapnya dengan cinta!. Batin ku berkata "bukan begitu caranya! Nanti ia tumbuh menjadi anak yang manja!".
Tapi aku juga tak tahu harus bagaimana? Aku diam tak melakukan apa2. Kulihat waktu terus berlalu & membayangi pikiran ku. Akhirnya dengan sedikit terpaksa meski batin terus menolaknya, saran istriku akhirnya kulakukan juga.

Pertama2 aku menggendongnya. Kucoba bicara dengannya, kutanya keinginannya. kami saling bertatap mata. Ia memeluk dan mencium pipiku, dan berkata; "hati2 ya bi..., pulangnya jgn lama2. "Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Sambil melangkah ke dalam taxi yang sudah menunggu di depan rumah aku terdiam 1000 bahasa. Aku terbawa oleh suasana. Seketika pandangan ku kabur semua. Ada sesuatu yang menghalangi di kelopak mata. Lalu keluar dan ku tak kuasa menahannya. Dalam hatiku bertanya kenapa? Kenapa aku tak peka? Sudah begitu keras kah hati? Sampai2 keinginan anak sesederhana ini pun tak kau mengerti?. Kau ajarkan kemarahan apakah engkau menginginkan anakmu hidup dipenuhi rasa permusuhan? Kau ajarkan anakmu ketakutan apakah engkau menginginkan anakmu hidup dipenuhi rasa kegelisahan? Apakah kau lupa tak akan masuk syurga orang yang tidak menyayangi anaknya? Apakah kau lupa, seorang anak tumbuh menjadi dewasa tergantung bagaimana orang tua membiasakan mereka? Hatinya masih suci bagaikan tambang asli yang bersih dari corak dan warna. Astagfirullah hal 'adzim...Aku sampai di bandara dan Pesawat ku sudah dari tadi tiba. Dengan langkah hampa plus berkecamuknya perasaan bersalah, ku panjatkan doa "ya Tuhan kami, anugrahkan kepada kami istri2 kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati dan jadikan kami imam bagi orang2 yang bertaqwa".

Maafkan Abi Yaa Nak

at 00:00  |  No comments

Abi...
Air mata ku membasahi pipi.Ketika suara itu teringat kembali. Bahkan saat tulisan ini dibuat, air mataku tak kunjung berhenti. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi? Semuanya berawal dari sini...
Umar, seperti itulah ia kuberi nama. Nama yang sudah kusiapkan ketika masih berstatus mahasiswa. Aku berharap nama itu akan berguna ketika kelak ia tumbuh dewasa.

Ia anak ku yang pertama,tinggi-besar perawakannya.Ketika ia lahir aku tak bisa menemaninya. Karena melaksanakan tugas sebagai setengah abdi negara...Sekarang 4 thn sudah umurnya. Ia sekolah di tkit taqiya, kira-kira 20 menit-lah jaraknya dari rumah. Namun,sejak setahun yang lalu kami tak lagi hidup serumah, ia tinggal di surakarta beserta adik dan uminya yang sedang melanjutkan studi di sana...
20 Seprt 2013 aku tiba di surakarta, dengan maksud mengunjunginya. Karena ini kedatangan yang pertama, istri & anak2 rencananya akan menjemput ku di bandara.

Abi...
Di bandara Umar memanggil ku sambil berlari tunjukkan wajah yang sempurna. Abi capek ya? Ia tanya keadanku bagaimana? Ia tawarkan membawa tas yang ku bawa.Kujawab ia dengan anggukan dan gelengan kepala. Ya...Sebagai orang tua aku memang selalu menampilkan muka yang tak ramah. Jarang senyum dan terkadang keras kepadanya.Aku berharap dengan sikap seperti ini ia tumbuh menjadi anak berwibawa dan berkharisma seperti maksud dan tujuan ku memberi nama. Dan karena ini jualah aku jarang sekali mengajaknya bercanda, bercerita, jalan2 ketempat wisata, membelikan mainan yang ia suka, dan berusaha memahami, mendengarkan apa saja keinginannya.

Aku punya pemahaman, sikap kelemahlembutan seperti memberikan pelukan, memberikan ciuman, mengungkapkan ketakutan dan kesedihan hanya untuk anak perempuan. Tak ada dalam kamusku, laki2 harus diperlakukan seperti itu. Singkat kata, singkat cerita, tak terasa ternyata sudah 7 hari lamanya di surakarta. Artinya, aku harus pulang dan kembali bekerja. Segera kusiapkan barang2 yang akan di bawa. Nasi, buah dan sebotol aqua bawaan yang harus ada. Sebab kali ini, perjalanan ku akan memakan waktu yang cukup lama. Dari surakarta harus transit dulu di jakarta. Belum lagi masalah delay yang seperti membudaya..

Tibalah hari di mana aku harus meninggalkan kota spirit of java. Ketika hendak melangkah, umar marah2 tak tahu kenapa. Tidak mau mandi dan tidak mau ke sekolah. Padahal pagi itu aku harus segera ke bandara yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Umar masih saja bertingkah. Setelah sekian lama menunggu, ditawari ini dan itu ia masih tak mau melepaskan tangan dan kaki ku. Aku tak bisa berbuat apa2, ingin marah tak enak dengan tetangga sebelah. Istriku berkata cobalah peluk dan cium dia!. Cobalah sekali2 sikapi sikapnya dengan cinta!. Batin ku berkata "bukan begitu caranya! Nanti ia tumbuh menjadi anak yang manja!".
Tapi aku juga tak tahu harus bagaimana? Aku diam tak melakukan apa2. Kulihat waktu terus berlalu & membayangi pikiran ku. Akhirnya dengan sedikit terpaksa meski batin terus menolaknya, saran istriku akhirnya kulakukan juga.

Pertama2 aku menggendongnya. Kucoba bicara dengannya, kutanya keinginannya. kami saling bertatap mata. Ia memeluk dan mencium pipiku, dan berkata; "hati2 ya bi..., pulangnya jgn lama2. "Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Sambil melangkah ke dalam taxi yang sudah menunggu di depan rumah aku terdiam 1000 bahasa. Aku terbawa oleh suasana. Seketika pandangan ku kabur semua. Ada sesuatu yang menghalangi di kelopak mata. Lalu keluar dan ku tak kuasa menahannya. Dalam hatiku bertanya kenapa? Kenapa aku tak peka? Sudah begitu keras kah hati? Sampai2 keinginan anak sesederhana ini pun tak kau mengerti?. Kau ajarkan kemarahan apakah engkau menginginkan anakmu hidup dipenuhi rasa permusuhan? Kau ajarkan anakmu ketakutan apakah engkau menginginkan anakmu hidup dipenuhi rasa kegelisahan? Apakah kau lupa tak akan masuk syurga orang yang tidak menyayangi anaknya? Apakah kau lupa, seorang anak tumbuh menjadi dewasa tergantung bagaimana orang tua membiasakan mereka? Hatinya masih suci bagaikan tambang asli yang bersih dari corak dan warna. Astagfirullah hal 'adzim...Aku sampai di bandara dan Pesawat ku sudah dari tadi tiba. Dengan langkah hampa plus berkecamuknya perasaan bersalah, ku panjatkan doa "ya Tuhan kami, anugrahkan kepada kami istri2 kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati dan jadikan kami imam bagi orang2 yang bertaqwa".

Read More

0 comments:

Wednesday, 8 January 2014

Di suatu pagi, ketika sedang duduk2 dikursi,Pandanganku tertuju kesebuah lemari. Lemari kuning yg diatasnya terdapat hiasan kaligrafi. Hiasan kaligrafi yang berisi ayat kursi. Setelah lama menatapi lemari, setelah puas berdiskusi sendiri, setelah berusaha mendengarkan bisikan hati, apa yang akan dilakukan hari ini? akhirnya kuputuskan untuk mendekati lemari yang telah puluhan tahun berdiri.

Kubuka kaca lemari, kucari buku ringan, menyenangkan dan tentunya bisa memotivasi. O iya...Kupilih buku motivasi karena beberapa hari ini waktu seolah2 berhenti. Kebosanan menjadi teman setiap pagi. Pagi ke pagi terasa begitu lambat berganti.

Kembali ke lemari!
Dari sekian banyak buku motivasi, terselip buku yang berjudul 'karakteristik sahabat nabi'. Masih Sambil berdiri, kubuka daftar isi, ternyata ada 60 sahabat yang diceritakan dibuku ini. Tak termasuk Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali.

Saat itu juga kuputuskan buku yang akan dibaca pagi ini. Ku bawa buku itu ke kursi, ditemani sebotol air putih plus hp samsung galaxy mini (yang masih hutang sama bang jupri). Ku coba utk menikmati buku yg telah lama tersimpan rapi ini. Mudah2an buku ini bisa membuang jauh2 kebosanan yang menghantui. 'Lirihku dalam hati'.

Aku membaca dari sahabat yang bernama Salman Al Farisi. Di buku ini, ia digambarkan memiliki perawakan tinggi, rambutnya lebat dan sangat dihormati.Salman berasal dari desa yg bernama"JI". Ia termasuk warga negara yang disegani. Ia di beri tugas sebagai penjaga api. Simbol kepercayaan agama majusi. Sedangkan Bapaknya sendiri adalah seorang bupati. Saya tidak tau, jabatan apa yang membuat ia disegani. Apakah sebagai anak bupati ataukah sebagai penjaga api (mungkin jabatan seperti ini setara MUI. kali...). Kalau di Indonesia sendiri, anak seorang bupati tentu lebih disegani dibandingkan anak seorang pejabat MUI. Meskipun bapaknya bergelar KH.

Kita lanjutkan!
Perjalanan Salman menuju islam sungguh menakjubkan. Ia tinggalkan kampung halaman, ia tinggalkan pangkat dan kedudukan. Ia pergi ke tempat yang belum dikenal, menemui segala macam rintangan dan hambatan. Demi menjawab kegelisahan hati, ia tinggalkan kesenangan duniawi yang telah lama ia miliki. Padahal waktu itu ia cuma mendengar informasi yang belum pasti!

Bacaan ku terhenti. Otak dan hatiku berdiskusi. Aku berandai2, dan memposisikan diri. Misalkan sekarang posisiku seperti Salman. Jelas, ku tak mampu melakukan. Menempuh perjalanan jauh yang penuh rintangan. Seorang diri tanpa tau situasi dan kondisi daerah yang akan dikunjungi. Sungguh Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki. Betullah apa yang dikatakan imam Al Ghazali ' jika ingin membuktikan kebenaran, kita harus mengenalinya sendiri. Tidak melalui orang yang menekuni '. Contohlah Salman Al Farisi. Lamunan ku berhenti. Ternyata adzan zhuhur telah selesai dari tadi. Dengan sedikit berlari ku penuhi seruan ilahi. Sambil berdoa dalam hati. Ya robbi, beri aku kekuatan tuk meneladani sahabat nabi yang bernama salman al farisi...!!!

Inspirasi : Salman Al Farisi

at 23:58  |  No comments

Di suatu pagi, ketika sedang duduk2 dikursi,Pandanganku tertuju kesebuah lemari. Lemari kuning yg diatasnya terdapat hiasan kaligrafi. Hiasan kaligrafi yang berisi ayat kursi. Setelah lama menatapi lemari, setelah puas berdiskusi sendiri, setelah berusaha mendengarkan bisikan hati, apa yang akan dilakukan hari ini? akhirnya kuputuskan untuk mendekati lemari yang telah puluhan tahun berdiri.

Kubuka kaca lemari, kucari buku ringan, menyenangkan dan tentunya bisa memotivasi. O iya...Kupilih buku motivasi karena beberapa hari ini waktu seolah2 berhenti. Kebosanan menjadi teman setiap pagi. Pagi ke pagi terasa begitu lambat berganti.

Kembali ke lemari!
Dari sekian banyak buku motivasi, terselip buku yang berjudul 'karakteristik sahabat nabi'. Masih Sambil berdiri, kubuka daftar isi, ternyata ada 60 sahabat yang diceritakan dibuku ini. Tak termasuk Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali.

Saat itu juga kuputuskan buku yang akan dibaca pagi ini. Ku bawa buku itu ke kursi, ditemani sebotol air putih plus hp samsung galaxy mini (yang masih hutang sama bang jupri). Ku coba utk menikmati buku yg telah lama tersimpan rapi ini. Mudah2an buku ini bisa membuang jauh2 kebosanan yang menghantui. 'Lirihku dalam hati'.

Aku membaca dari sahabat yang bernama Salman Al Farisi. Di buku ini, ia digambarkan memiliki perawakan tinggi, rambutnya lebat dan sangat dihormati.Salman berasal dari desa yg bernama"JI". Ia termasuk warga negara yang disegani. Ia di beri tugas sebagai penjaga api. Simbol kepercayaan agama majusi. Sedangkan Bapaknya sendiri adalah seorang bupati. Saya tidak tau, jabatan apa yang membuat ia disegani. Apakah sebagai anak bupati ataukah sebagai penjaga api (mungkin jabatan seperti ini setara MUI. kali...). Kalau di Indonesia sendiri, anak seorang bupati tentu lebih disegani dibandingkan anak seorang pejabat MUI. Meskipun bapaknya bergelar KH.

Kita lanjutkan!
Perjalanan Salman menuju islam sungguh menakjubkan. Ia tinggalkan kampung halaman, ia tinggalkan pangkat dan kedudukan. Ia pergi ke tempat yang belum dikenal, menemui segala macam rintangan dan hambatan. Demi menjawab kegelisahan hati, ia tinggalkan kesenangan duniawi yang telah lama ia miliki. Padahal waktu itu ia cuma mendengar informasi yang belum pasti!

Bacaan ku terhenti. Otak dan hatiku berdiskusi. Aku berandai2, dan memposisikan diri. Misalkan sekarang posisiku seperti Salman. Jelas, ku tak mampu melakukan. Menempuh perjalanan jauh yang penuh rintangan. Seorang diri tanpa tau situasi dan kondisi daerah yang akan dikunjungi. Sungguh Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki. Betullah apa yang dikatakan imam Al Ghazali ' jika ingin membuktikan kebenaran, kita harus mengenalinya sendiri. Tidak melalui orang yang menekuni '. Contohlah Salman Al Farisi. Lamunan ku berhenti. Ternyata adzan zhuhur telah selesai dari tadi. Dengan sedikit berlari ku penuhi seruan ilahi. Sambil berdoa dalam hati. Ya robbi, beri aku kekuatan tuk meneladani sahabat nabi yang bernama salman al farisi...!!!

Read More

0 comments:

Muhammad bin Abdullah.
3 tahun diangkat menjadi nabi...
Di bukit shafa ia berorasi..
Untuk menjelaskan agama baru ini...
'Celakalah engkau hari ini,
Hanya utk inikah kau kumpulkan kami?'...
Kata yang keluar dari mulut pamannya sendiri...

Muhammad bin Abdullah.
Ia hidup sebatang kara... Tidak memiliki harta-tahta-senjata...
Marabahaya selalu mengintainya...
Namun, rakyat jelata berlindung kepadanya...

Muhammad bin Abdullah.
Ia menjanjikan penaklukan negara2 adidaya...
Padahal negaranya hanya ada pasir gersang dan tanah membara...
Batu panas bak lambaian neraka...
Pohon2 kering pucuknya seperti kepala setan yang dirajam siksa...
Namun, orang2 beriman selalu bertambah...
Bernaung di bawah panji2 bendera dakwah...

Muhammad bin Abdullah.
Suatu hari ia pergi ke thaif untuk berdakwah...
Ternyata penduduk thaif lebih kejam dari penduduk mekah...
Penduduk thaif mengepung dan melemparinya...
Seketika itu tangannya menengadah seraya berdoa: Ya Allah, kuadukan kepada Mu kelemahan tenaga, Kekurangan usaha...
Serta kerendahan ku dihadapan manusia...
Ya Allah Engkaulah pelindung orang2 lemah... Kepada siapa diri ini Kau serahkan aku pasrah... Apakah kepada orang bermuka masam atau kepada musuh yang kejam. Asal Kau tak murka aku rela..

Muhammad bin Abdullah.
Amr bin Ash berkata...
Disaat ajal kan menjemputnya...
Pada mulanya aku ini kafir harbi...
Orang yang amat keras permusuhannya kepada nabi...
Sampai nabi berdoa agar siksa menimpa kami...

Tapi...
Setelah di bai'at tidak ada seorang manusia pun yang lebih kucintai...
Bahkan dari diri ku sendiri..
Dialah sebaik2 manusia yang pernah kujumpai...
Dia lah sebaik2 sahabat yang kumiliki...

Jika aku diminta...
Tuk melukiskan kepribadiannya...
Aku tak kuasa menggambarkannya...
Aku tak sanggup menatap sepenuh mata...
Semoga sholawat tetap tercurah keatasnya...
Allah humma sholli'ala Muhammad.

Muhammad bin Abdullah

at 23:56  |  No comments

Muhammad bin Abdullah.
3 tahun diangkat menjadi nabi...
Di bukit shafa ia berorasi..
Untuk menjelaskan agama baru ini...
'Celakalah engkau hari ini,
Hanya utk inikah kau kumpulkan kami?'...
Kata yang keluar dari mulut pamannya sendiri...

Muhammad bin Abdullah.
Ia hidup sebatang kara... Tidak memiliki harta-tahta-senjata...
Marabahaya selalu mengintainya...
Namun, rakyat jelata berlindung kepadanya...

Muhammad bin Abdullah.
Ia menjanjikan penaklukan negara2 adidaya...
Padahal negaranya hanya ada pasir gersang dan tanah membara...
Batu panas bak lambaian neraka...
Pohon2 kering pucuknya seperti kepala setan yang dirajam siksa...
Namun, orang2 beriman selalu bertambah...
Bernaung di bawah panji2 bendera dakwah...

Muhammad bin Abdullah.
Suatu hari ia pergi ke thaif untuk berdakwah...
Ternyata penduduk thaif lebih kejam dari penduduk mekah...
Penduduk thaif mengepung dan melemparinya...
Seketika itu tangannya menengadah seraya berdoa: Ya Allah, kuadukan kepada Mu kelemahan tenaga, Kekurangan usaha...
Serta kerendahan ku dihadapan manusia...
Ya Allah Engkaulah pelindung orang2 lemah... Kepada siapa diri ini Kau serahkan aku pasrah... Apakah kepada orang bermuka masam atau kepada musuh yang kejam. Asal Kau tak murka aku rela..

Muhammad bin Abdullah.
Amr bin Ash berkata...
Disaat ajal kan menjemputnya...
Pada mulanya aku ini kafir harbi...
Orang yang amat keras permusuhannya kepada nabi...
Sampai nabi berdoa agar siksa menimpa kami...

Tapi...
Setelah di bai'at tidak ada seorang manusia pun yang lebih kucintai...
Bahkan dari diri ku sendiri..
Dialah sebaik2 manusia yang pernah kujumpai...
Dia lah sebaik2 sahabat yang kumiliki...

Jika aku diminta...
Tuk melukiskan kepribadiannya...
Aku tak kuasa menggambarkannya...
Aku tak sanggup menatap sepenuh mata...
Semoga sholawat tetap tercurah keatasnya...
Allah humma sholli'ala Muhammad.

Read More

0 comments:


Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Bukankah rizqi telah kuberikan dari bayi hingga sekarang?
Bahkan sudah sejak dari kandungan?
Dengan rizki itu kau penuhi kebutuhan sandang, pangan, papan?
Tapi kenapa kau masih meragukan?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Kebebasan telah Ku berikan.
Kau kuasai bumi yang Ku ciptakan.
Kau bebas tuk lakukan perbuatan baik atau kerusakan.
Aku tidak menghukummu kecuali dengan maksud dan satu tujuan. Kebaikan.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Kau minta Jabatan Aku berikan.
Agar kau leluasa beramar ma'ruf nahi mungkar.
Dengan jabatan itu kau ditinggikan.
Dengan jabatan itu pula kau khianati Tuhan.
Kau tebarkan kemiskinan, kelaparan, kebodohan dan ketakutan.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Ku halau engkau dari tempat yang membahayakan.
Ku tuntun engkau ketempat yang memuaskan.
Ku perlihatkan engkau hikmah dari setiap kejadian.
Aku hanya minta kau bersabar barang sebentar.
Kenapa engkau tidak memperhatikan?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Beberapa do'a telah Ku perkenankan.
Sebagian lagi Aku tangguhkan.
Untuk simpanan dikehidupan yang akan datang.
Engkau malah menganggap Ku yang bukan - bukan.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Orang lain kau sadarkan.
Sanak saudaramu kau biarkan.
Bukankah sudah Ku katakan. Jagalah diri dan keluarga mu dari siksaan?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Jumlah rakaat solat sudah Ku kurangkan.
Kalau tak bisa berdiri, duduk, berbaring sesuai kemampuan.
Jika dalam perjalanan kau bisa ringkas, diawalkan atau diakhirkan.
Masih berat kah untuk dilaksanakan?
Amalan apalagi yang bisa diandalkan.
Jika sholat pun dilalaikan?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Sudah kukatakan kepada kalian didalam alquran berulang-ulang.
Kalian tidak akan mampu melaksanakan perintah kalau bukan aku yang menggerakkan.
Mari sini mendekatlah kepada Ku.
Jangan malu-malu.
Minta tolonglah pasti Aku bantu.
Meskipun Aku sudah tau apa yang kau mau.
Tapi Aku ingin melihat engkau tertunduk rapuh di hadapan Ku.
Aku ingin mendengar engkau mengeluh.
Aku ingin mendengar engkau menangis tersedu2.
Kembali lah kepada Ku.
Wahai hamba Ku.

Maka Nikmat Tuhan Kamu Yang Manakah Yang Kamu Dustakan?

at 22:59  |  No comments


Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Bukankah rizqi telah kuberikan dari bayi hingga sekarang?
Bahkan sudah sejak dari kandungan?
Dengan rizki itu kau penuhi kebutuhan sandang, pangan, papan?
Tapi kenapa kau masih meragukan?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Kebebasan telah Ku berikan.
Kau kuasai bumi yang Ku ciptakan.
Kau bebas tuk lakukan perbuatan baik atau kerusakan.
Aku tidak menghukummu kecuali dengan maksud dan satu tujuan. Kebaikan.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Kau minta Jabatan Aku berikan.
Agar kau leluasa beramar ma'ruf nahi mungkar.
Dengan jabatan itu kau ditinggikan.
Dengan jabatan itu pula kau khianati Tuhan.
Kau tebarkan kemiskinan, kelaparan, kebodohan dan ketakutan.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Ku halau engkau dari tempat yang membahayakan.
Ku tuntun engkau ketempat yang memuaskan.
Ku perlihatkan engkau hikmah dari setiap kejadian.
Aku hanya minta kau bersabar barang sebentar.
Kenapa engkau tidak memperhatikan?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Beberapa do'a telah Ku perkenankan.
Sebagian lagi Aku tangguhkan.
Untuk simpanan dikehidupan yang akan datang.
Engkau malah menganggap Ku yang bukan - bukan.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Orang lain kau sadarkan.
Sanak saudaramu kau biarkan.
Bukankah sudah Ku katakan. Jagalah diri dan keluarga mu dari siksaan?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Jumlah rakaat solat sudah Ku kurangkan.
Kalau tak bisa berdiri, duduk, berbaring sesuai kemampuan.
Jika dalam perjalanan kau bisa ringkas, diawalkan atau diakhirkan.
Masih berat kah untuk dilaksanakan?
Amalan apalagi yang bisa diandalkan.
Jika sholat pun dilalaikan?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Sudah kukatakan kepada kalian didalam alquran berulang-ulang.
Kalian tidak akan mampu melaksanakan perintah kalau bukan aku yang menggerakkan.
Mari sini mendekatlah kepada Ku.
Jangan malu-malu.
Minta tolonglah pasti Aku bantu.
Meskipun Aku sudah tau apa yang kau mau.
Tapi Aku ingin melihat engkau tertunduk rapuh di hadapan Ku.
Aku ingin mendengar engkau mengeluh.
Aku ingin mendengar engkau menangis tersedu2.
Kembali lah kepada Ku.
Wahai hamba Ku.

Read More

0 comments:

Ya robbi...
Kami bukan Nabi.
Juga bukan orang suci.
Kami adalah orang yang selalu menzolimi...
Bahkan kepada diri kami sendiri...

Ya robbi...
Kami tau takdir telah di catat dengan rapi...
50rb thn sebelum penciptaan langit dan bumi...
Namun, kami berharap seraya merendahkan diri...

Di tahun baru nanti...
Anugerahkan kepada kami pemimpin yang mengayomi..
Pelayan negri yang menyayangi kami...
Tambahkan kepada kami kesabaran, ketaatan, keimanan...
Beri kami hati yang dipenuhi keikhlasan...
Untuk menerima segala sesuatu yang telah ditetapkan...
Beri kami kebahagiaan di awal, pertengahan, di akhir kehidupan...
Dan Hunian yang penuh kedamaian di masa depan...
Kabulkan segala doa dan harapan...
Keberkahan umur, rizki dan keturunan...
Kenikmatan melakukan apa yang Kau perintahkan...
Jauhkan kami dari hal kesia-siaan...

Ya robbi...
Tidak ada daya dan upaya yang dapat kulakukan kalau tidak Engkau beri kekuatan...

Doa : Malam Satu Muharram

at 22:57  |  No comments

Ya robbi...
Kami bukan Nabi.
Juga bukan orang suci.
Kami adalah orang yang selalu menzolimi...
Bahkan kepada diri kami sendiri...

Ya robbi...
Kami tau takdir telah di catat dengan rapi...
50rb thn sebelum penciptaan langit dan bumi...
Namun, kami berharap seraya merendahkan diri...

Di tahun baru nanti...
Anugerahkan kepada kami pemimpin yang mengayomi..
Pelayan negri yang menyayangi kami...
Tambahkan kepada kami kesabaran, ketaatan, keimanan...
Beri kami hati yang dipenuhi keikhlasan...
Untuk menerima segala sesuatu yang telah ditetapkan...
Beri kami kebahagiaan di awal, pertengahan, di akhir kehidupan...
Dan Hunian yang penuh kedamaian di masa depan...
Kabulkan segala doa dan harapan...
Keberkahan umur, rizki dan keturunan...
Kenikmatan melakukan apa yang Kau perintahkan...
Jauhkan kami dari hal kesia-siaan...

Ya robbi...
Tidak ada daya dan upaya yang dapat kulakukan kalau tidak Engkau beri kekuatan...

Read More

0 comments:

    Popular Posts

Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.