Masih kisah di surakarta. Sepenggal peristiwa, di restoran spirit of java. Restoran asal surabaya, yang digemari kalangan tua dan muda. Digemari karena banyak menu pilihannya. Digemari karena aroma masakan yang menggugah selera. Digemari karena tempatnya indah menenangkan mata. Dan akhirnya hargapun tinggi di atas rata2.
Pengunjung di sana adalah orang2 kaya. Bisa dilihat dari mobil mewah yang mereka bawa. Land Cruiser, Fortuner, Hammer. Camry, MERCY, Audi, ada juga lamborghini. Sedangkan aku dan istri, sebenarnya tak sengaja berada di sini. Siang itu kami seharian mencari barang titipan kawan. Ee...pas mau pulang. Kehujanan. Dari siang sampai malam perut belum terisi makanan. Setelah melihat, menimbang dan memperhatikan, ternyata tak ada lagi pilihan. Ya...dari pada perut keroncongan, akhirnya kami memutuskan untuk singgah dan memesan.
Pukul 18.25 wiba disinilah kisah itu bermula. Satu keluarga yang terdiri dari 2 anak dan seorang ayah, tanpa sosok ibu didekatnya. Duduk di meja nomor 03. Keluarga ini memang sedikit berbeda. Tampang dan pakaiannya terkesan sedikit 'dipaksa'. Dipaksa menyesuaikan pengunjung yang ada di sana maksudnya. Mungkin keluarga itu sudah tau, siapa2 saja yang biasa berkunjung di restoran itu.Aku juga kurang tau. Apakah mereka datang karena terjebak hujan seperti ku. Atau hanya ingin merayakan sesuatu yang sudah diniatkan keluarga itu sedari dulu.
Ah sudahlah...bukankah semua orang berhak makan dimana saja? Yang penting uang ada, tak jadi masalah penampilan mau seperti apa. Pikirku sambil memejamkan mata. Tak banyak kata, setelah duduk dimeja nomor 03, pelayanpun tiba sebari menyodorkan buku menu yang telah dibawa. Si ayah menyerahkan buku menu itu kepada anaknya, 'Ayah pesan yang mana?' Kata anak yg rambutnya dikepang dua. kira2 11thn umurnya.Sepertinya ia anak yang pertama. Terserah kamu nak, ayah ikut saja! Tak perlu menunggu lama makanan yang dipesanpun sudah tiba.Tapi yang datang baru dua.Dengan serta merta anak2 itupun langsung melahapnya. Sedangkan si ayah menunggu disamping mereka, terlihat memainkan hp nokia model lama.
Setelah 10 menit berlalu, si ayah yang tadi menunggu,kini tertunduk membisu dan sepertinya sedang menikmati sesuatu. Coba lihat bapak itu! Bisik istriku,sambil mencubit lembut lenganku. Bapak yang pakai baju biru makan makanan sisa, ke 2 anak itu! Sebenarnya aku tau kejadian itu, tapi semuanya kuanggap angin lalu. Aku masih saja menikmati hidangan ku.
Setelah terdiam beberapa waktu, kulihat ada yang mengalir dimata istriku. Aku heran dan bertanya lugu, ada apa dengan mu? 'Diam tertunduk lesu'. Ya robbi...kenapa selalu harus diawali dengan tetesan air mata..Apakah itu memang syarat agar hati ini bisa terbuka? Ya robbi...sudah 2x melalui peristiwa kau ingatkan hamba...2x itu pula hamba lupa mengambil makna... Masih membekas di dalam dada. 20 september yang belum lama. Kini kau ingatkan lagi dengan sosok bapak di meja nomor 03. Ya...robbi apakah memang sudah sudah engkau rencanakan. Dengan cara ini engkau ingin mengatakan. Beginilah caranya menjaga amanah Tuhan! Beginiloh cara memberi kasih sayang! Prioritaskan anak dulu, baru pikirkan dirimu! Berikan apa yang terbaik untuk buah hati! Jangan tinggalkan generasi lemah dikemudian hari! Sejak saat itu aku baru tau, apa yang membuat istriku terharu. Seketika itu rasa 'cemburu' menyelimuti kalbu.
Cemburu atas kelebihan yang diperlihatkan bapak itu. Dan aku cemburu karena belum bisa seperti bapak yang berbaju biru. Buru2 kuhabiskan makanan ku. Segera aku pulang dan mengatakan sesuatu kepada kedua anakku, yang ternyata telah menunggu lama di depan pintu. Maafkan abi ya nak, abi belum bisa seperti bapak 'itu'. Abi belum bisa memberikan yang terbaik untuk mu. Berikan abi waktu! Semoga menjadi orangtua yang mengerti akan hak2 mu. Mudah2an tahun ini abi bisa lebih baik dari tahun lalu
Pengunjung di sana adalah orang2 kaya. Bisa dilihat dari mobil mewah yang mereka bawa. Land Cruiser, Fortuner, Hammer. Camry, MERCY, Audi, ada juga lamborghini. Sedangkan aku dan istri, sebenarnya tak sengaja berada di sini. Siang itu kami seharian mencari barang titipan kawan. Ee...pas mau pulang. Kehujanan. Dari siang sampai malam perut belum terisi makanan. Setelah melihat, menimbang dan memperhatikan, ternyata tak ada lagi pilihan. Ya...dari pada perut keroncongan, akhirnya kami memutuskan untuk singgah dan memesan.
Pukul 18.25 wiba disinilah kisah itu bermula. Satu keluarga yang terdiri dari 2 anak dan seorang ayah, tanpa sosok ibu didekatnya. Duduk di meja nomor 03. Keluarga ini memang sedikit berbeda. Tampang dan pakaiannya terkesan sedikit 'dipaksa'. Dipaksa menyesuaikan pengunjung yang ada di sana maksudnya. Mungkin keluarga itu sudah tau, siapa2 saja yang biasa berkunjung di restoran itu.Aku juga kurang tau. Apakah mereka datang karena terjebak hujan seperti ku. Atau hanya ingin merayakan sesuatu yang sudah diniatkan keluarga itu sedari dulu.
Ah sudahlah...bukankah semua orang berhak makan dimana saja? Yang penting uang ada, tak jadi masalah penampilan mau seperti apa. Pikirku sambil memejamkan mata. Tak banyak kata, setelah duduk dimeja nomor 03, pelayanpun tiba sebari menyodorkan buku menu yang telah dibawa. Si ayah menyerahkan buku menu itu kepada anaknya, 'Ayah pesan yang mana?' Kata anak yg rambutnya dikepang dua. kira2 11thn umurnya.Sepertinya ia anak yang pertama. Terserah kamu nak, ayah ikut saja! Tak perlu menunggu lama makanan yang dipesanpun sudah tiba.Tapi yang datang baru dua.Dengan serta merta anak2 itupun langsung melahapnya. Sedangkan si ayah menunggu disamping mereka, terlihat memainkan hp nokia model lama.
Setelah 10 menit berlalu, si ayah yang tadi menunggu,kini tertunduk membisu dan sepertinya sedang menikmati sesuatu. Coba lihat bapak itu! Bisik istriku,sambil mencubit lembut lenganku. Bapak yang pakai baju biru makan makanan sisa, ke 2 anak itu! Sebenarnya aku tau kejadian itu, tapi semuanya kuanggap angin lalu. Aku masih saja menikmati hidangan ku.
Setelah terdiam beberapa waktu, kulihat ada yang mengalir dimata istriku. Aku heran dan bertanya lugu, ada apa dengan mu? 'Diam tertunduk lesu'. Ya robbi...kenapa selalu harus diawali dengan tetesan air mata..Apakah itu memang syarat agar hati ini bisa terbuka? Ya robbi...sudah 2x melalui peristiwa kau ingatkan hamba...2x itu pula hamba lupa mengambil makna... Masih membekas di dalam dada. 20 september yang belum lama. Kini kau ingatkan lagi dengan sosok bapak di meja nomor 03. Ya...robbi apakah memang sudah sudah engkau rencanakan. Dengan cara ini engkau ingin mengatakan. Beginilah caranya menjaga amanah Tuhan! Beginiloh cara memberi kasih sayang! Prioritaskan anak dulu, baru pikirkan dirimu! Berikan apa yang terbaik untuk buah hati! Jangan tinggalkan generasi lemah dikemudian hari! Sejak saat itu aku baru tau, apa yang membuat istriku terharu. Seketika itu rasa 'cemburu' menyelimuti kalbu.
Cemburu atas kelebihan yang diperlihatkan bapak itu. Dan aku cemburu karena belum bisa seperti bapak yang berbaju biru. Buru2 kuhabiskan makanan ku. Segera aku pulang dan mengatakan sesuatu kepada kedua anakku, yang ternyata telah menunggu lama di depan pintu. Maafkan abi ya nak, abi belum bisa seperti bapak 'itu'. Abi belum bisa memberikan yang terbaik untuk mu. Berikan abi waktu! Semoga menjadi orangtua yang mengerti akan hak2 mu. Mudah2an tahun ini abi bisa lebih baik dari tahun lalu
0 comments: