Friday, 10 January 2014

Ik Hou Van Jou (Bag. 1)

at 05:10  |  No comments

Tak terasa sudah 6 tahun waktu berlalu. Rasanya baru minggu lalu kita bertemu. Di rumah itu yang difasilitasi oleh murobbiahmu. Pukul 7 kau datang lebih dulu, memakai jaket berwarna biru. Aku juga datang memakai baju berwarna sama denganmu. Belakangan baru ku tau. Warna kesukaanmu dan kesukaanku, sama-sama biru. Saat dipertemuan itu, kau tak berani menatapku. Karena memang Tuhanmu dan Tuhanku melarang hal itu. 
 
Sambil tertunduk malu, kau bertanya, apa motivasiku ingin menikahi mu. Awalnya ingin kukatakan karena aku menyukai mu. Aku tak bisa membohongi diri. Aku jatuh hati ketika melihat mu pertama kali. Tapi aku tau diri. Kusembunyikan di dalam hati. Memilihmu adalah pilihan sadar tanpa ada sebuah paksaan. Pilihan sadar dari suara hati yang paling dominan. Tapi kutau bukan itu jawaban yg kau tunggu. Dan akupun takkan mampu mengungkap rasa itu. 
 
Menyebut namamu pun aku tak mampu. Tersihir oleh kharisma dan kedewasaanmu. Dengan sedikit ilmu dan ragu, karena aku belum pernah sekalipun membaca buku-buku tentang itu. Kupaksakan menjawab pertanyaanmu. "Untuk mengubah dunia yang penuh dengan kegelapan, harus ada tahapan yang kita lakukan. Salah satunya melalui pernikahan". Kulihat semua orang yang ada disitu tersenyum tersipu. Aku tak tau arti senyuman itu. Apakah tanda setuju atau 'menghina' jawabanku yang ambigu. Aku malu jika mengingat hal itu.Seharusnya kujelaskan satu persatu, agar kau tau arah dan maksud dari jawabanku. Tapi...ya sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu.

Mudah-mudahan jadi pelajaran untuk anak-cucu. Dalam kesendirian, kadang-kadang timbul pertanyaan, apa yang membuat dirimu menerima orang seperti ku? Padahal saat itu, dari segi ilmu kau melebihiku. Dari segi pendidikan dan kepintaran, kau lumayan. Dari segi pekerjaan kau sudah cukup mapan. Dari segi rizqi, gajimu lebih tinggi. Bahkan kau sudah jadi pegawai negeri. Emm...Apakah karena aku tampan? Atau waktu itu memang tak ada lagi pilihan? Ah..Mudah-mudahan bukan yang terakhir ini yang menjadi alasan. Mudah-mudahan alasan yang pertama dan semata-mata untuk beribadah kepada Tuhan.

Ah...sudahlah nanti saja langsung kutanya kan. O...iya, kukira ini adalah saat yang tepat untuk memberitahu tentang bagaimana perjalanan sebelum pertemuan yang pertama itu? Untuk mendapatkan persetujuan dari beberapa kalangan, bahwa engkaulah yang menjadi pilihan, aku harus melewati berbagai macam perjuangan. Perjuangan untuk sebuah keyakinan. Perjuangan untuk sebuah kepasrahan. Dari berbagai macam perjuangan yang kutemukan, satu yang sangat berat kurasakan. Yaitu ketika menyatukan kemauan dengan pemegang kebijakan. Kemauanku dan kemauan pemegang kebijakan pada saat itu ternyata berlainan. Aku sadar sebagai murid dan bawahan memang harus patuh atas segala macam keputusan. Namun, masalah rasa bisakah dipaksakan? Masalah selera bisakah disamakan? Sungguh pergolakan batin yang sangat menyengsarakan. Semuanya tak kusampaikan. Semuanya kupendam dalam-dalam. Biarlah aku saja dan Tuhan yang merasakan.

Aku diberi waktu seminggu untuk mempertimbangkan. Sejak kumengetahui bukan namamu yang direkomendasikan, aku langsung menghadap Tuhan seru sekalian alam. Selama seminggu, di waktu-waktu doa terkabulkan namamu kuajukan. Dengan berbagai cara namamu ku'dzikir'kan. Dengan berbagai alasan kucari pembenaran. Aku tak peduli apabila cara ini di luar tuntunan nabi. Saat itu hanya namamu yang terpatri. Kupasrahkan semua kepada Robbul Izzati. Wahai Yang Maha Mengetahui... (bersambung...)

Share
Posted by Unknown
About the Author

Write admin description here..

0 comments:

    Popular Posts

Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.