Sunday, 16 February 2014

BUKU HARIANKU

at 18:20  |  No comments

Terhitung hampir 14 hari, kabut asap menyambangi daerah ini. Hujan yang ditunggu-tunggu tak lagi bertamu ke tempat kami. Udara dingin menggeratakkan gigi, padahal sudah jam 8 pagi. Mungkin akibat terhalangnya matahari oleh kabut asap berwarna gelap, pikirku dalam hati. Kalau cuaca seperti ini, biasanya tanda-tanda musim akan berganti. 

Kriiiing...kriiiiing...kriiiiing...Alarm di hp berbunyi 3 kali. Masih berselimut putih, kubaca agenda hari ini. 'Selasa, 4 Februari pukul 9 pagi, pertemuan dengan petani sabar menanti'. Terdiam sejenak ku menimbang antara pergi atau memperbaharui janji. Sambil mendengar perdebatan hati, kucoba menenangkan diri. Tiba-tiba ku mendengar 'orasi' di dalam hati dengan kalimat seperti ini. 
" Hai orang yang berselimut! Meski udara kering sampai ke kulit ari. Meski kaki pecah terasa perih sekali. Meski badan pegal memberatkan hati.Tugas melayani petani, jauh lebih penting dari pada merebahkan diri.Bangunlah! Lagi pula agenda hari ini sudah kau jadwalkan jauh-jauh hari. Apapun yang terjadi kau harus menepati janji! "

Ya Allah ya robbi...Wahai yang membolak-balikkan hati, kuatkan diri ini. Suaraku lirih. Ku kumpulkan semua energi. Kupaksakan tubuh ini berdiri. Segera ku bersihkan diri. Lalu berpakaian rapi dan sarapan bubur nasi. Kupanaskan si kuda besi. Kulihat bensin ke dalam tangki. Kupastikan cukup untuk pulang dan pergi. Bismillahi tawakkaltu allallah. 

Kupacu sikuda besi hingga suaranya meninggi. Kuoper gigi sampai 3x. Kupacu kembali gas di tangan hingga tak bisa di putar lagi. Semoga perjalanan ini tercatat sebagai ibadah disisi mu ya robb. 1,5 jam akhirnya sampai di tempat tujuan. Petani ku yang bernama budi sepertinya sudah sampai. 
"Assalamualaikum",..apa kabar pak budi? Sambil cipika-cipiki, kami berbasa-basi.Alhamdulillah... baik pak aziz. Pak budi mangambil sebuah kursi. Gimana diperjalanannya tadi? Luar biasa...Baru saja terkena banjir beberapa hari, jalan sudah rusak di sana sini. Lubang-lubang besar bertambah lagi. Makanya saya jadi telat begini. Ya, semoga pemerintah bisa segera memperbaiki. Amiiin. Sahut pak budi. 

O iya pak, bagaimana dengan masalah administrasi kelompok sabar menanti? Tanya ku kepada pak budi. Nah itu dia pak aziz. Masalah itulah yang akan kita diskusikan pagi ini. Sedikit informasi bahwa minggu lalu kelompok kami, sabar menanti, baru melakukan restrukturisasi atau mutasi. Dan saya diamanatkan menjadi ketua di kelompok ini. Emm...Oleh karena itu, saya kan orang baru. Tolong pak aziz jelaskan kepada saya, bagaimana secara teknis syarat-syarat administrasinya? O..begitu ya...insya Allah. Sambil menikmati segelas kopi, dan sedikit roti yang tadi ku beli, ku jelaskan secara rinci, apa saja syarat-syarat yang mesti dipenuhi. Agar bantuan pupuk dan benih padi bisa didapatkan kelompok sabar menanti. 

Hampir 2 jam kami berdiskusi. Ternyata pak budi belum juga mengerti.Aku tak memahami apa yang disusahkan pak budi. Padahal semuanya simpel sekali. Setelah ditelusuri, ternyata ilmu komputer tak menguasai. Hal itu baru kuketahui ketika ia berkata begini, "terus terang saya angkat tangan. Jangankan komputerisasi, megang pulpen pun saya tak pernah lagi. Jadi, saya minta tolong pak aziz saja yang melengkapi semua berkas ini. Kalau ada uang ngetik dan uang ngeprint pak aziz dulu yang talangi. Nanti setelah selesai saya ganti". MasyaAllah...kenapa tidak dari tadi pak budi ngusulkan seperti ini. Coba di awal diskusi pak budi mengusulkan solusi tadi. Tak perlu 2 jam kita bicara ngalor-ngidul kesana-kemari. Hihihi tertawa tertahan pak budi. 

Awalnya saya berfikiran begitu tadi. Setelah dipikir-pikir, dari pada pak aziz melamun sendiri nanti. Lebih baik saya ajak diskusi. Maklum, semenjak di tinggal istri, katanya pak aziz sering senyum-senyum sendiri. Seharusnya pak aziz berterima kasih, karena sudah saya temani! Lagian kalau terjadi apa-apa dengan pak aziz, saya juga yang rugi. Bisa-bisa bantuan pupuk dan benih padi di kelompok kami ndak bisa teralisasi. Pak budi membela diri. Hah? bisa diulangi? Ndak salah apa yang saya dengar barusan pak budi? Kata siapa saya sering senyum-senyum sendiri? tanya ku risih. Tuh kata pak haji (kepala kantor) yang sedang berjalan membawa sebuah buku, bergabung bersama kami. Waah pak haji ini memang jago mendramatisir situasi dan kondisi pak budi. Kalau beliau ngomong, harus dicerna kembali!

Ya..wong saya lagi baca buku, kebetulan ada cerita lucunya. Wajar dong kalau saya senyum-senyum sendiri. Hahaha...tawa pak haji dan pak budi. Ok lah kalau begitu pak aziz, saya mau pamit. Kampung tengah sudah nuntut minta rizki, terima kasih, ya. O iya sama-sama. Nanti kalau sudah selesai, pak budi saya hubungi. Iya. Assalamualaikum...
Waalaikumsalam...

Suasana kantor hening kembali. Tinggal aku dan pak haji yang sibuk dengan urusan pribadi. Setelah beberapa menit berlalu, sambil membaca sebuah buku, tiba-tiba pak haji bertanya kpd ku. Ziz kapan ke solo lagi? O iya besok pak. Sekalian saya mau nyampaikan izin pemberitahuan.Perasaan baru kemarin kamu pergi? pak haji bertanya kembali. Maaf pak haji. Kucoba mencurahkan isi hati. 

Berkata Sean covey, ucapanku terhenti, untuk tahu nilai 1 minggu tanyakan kepada editor majalah mingguan. Untuk tahu nilai 1 hari, tanyakan pada buruh harian yang punya enam anak yang harus diberi makan. Untuk tahu nilai 1 jam.Tanyakan pada kekasih yang menanti saat-saat pertemuan menjelang. Maksudnya ziz? serobot pak haji. Bapak belum paham? Pak..,ku coba menjelaskan. Kalau bapak seorang editor mingguan dan seorang buruh. Waktu 1 minggu dan 1 hari, akan sangat berharga. Saking berharganya, kalau bisa minta ditambah. Tapi, jika Bapak sedang terpisah dengan kekasih tercinta, waktu 1 jam adalah waktu yang sangat lama terasa.Apalagi 1 minggu atau 1 bulan menunggunya, pasti sangat menyiksa! Emm...saya percaya! pak haji memulai 'ceramah'nya. 

bersambung.... (^__^)

Share
Posted by Unknown
About the Author

Write admin description here..

0 comments:

    Popular Posts

Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.