Wednesday, 22 January 2014

Pesawat Garuda nomor 333 tujuan Jakarta, berangkat pukul 11.55 wiba. (Informasi yg tertera di layar tv bandara). Angin kencang menerjang mata. Kulihat matahari belum berani tampakkan muka. Terhijab awan menghalanginya. Setelah dua hari tercuci hujan begitu lama. Awan gelap masih setia mendampinginya. Cuaca pagi ini tidak jelas maunya apa. Alhamdulillah...

Pukul 08.33 aku tiba di bandara. Pagi-pagi sudah berangkat dari rumah. Aku khawatir pakaianku basah jika hujan turun tiba-tiba. Maklum, ke bandara hanya menggunakan kendaraan roda dua. Di temani 'ojek' yang selalu setia mengantar kemana saja.

Ya...Hari ini aku akan pergi ke jakarta. Meski datang keawalan aku selalu menikmatinya. Aku tak mempermasalahkannya. Karena sudah terbiasa berada disana, seolah-olah bandara sudah menjadi rumah yang kedua. Akhirnya berlama-lama disana suatu pekerjaan yang kusuka. Suka bisa melihat bermacam-macam perilaku manusia. Suka karena bisa melamun dan merenungkan sebuah makna. Dan yang terutama suka karena hati bahagia akan berjumpa seseorang yang jauh disana. Masih ada waktu dua jam setengah aku di bandara. Karena masih lama, kugunakan waktu yang ada agar tidak jadi sia-sia. Kugunakan untuk melanjutkan tulisan yang telah lama tertunda. Tertunda karena ide hilang entah kemana rimbanya. Kucoba mencarinya. Mungkin tersapu angin saat menuju bandara, atau tercecer di jalan raya, atau tinggal di saku celana. Ha..ha..hanya bercanda. Kembali ke cerita.

Kumulai semuanya dengan Bismillah. Kulihat tulisan pertama, masih bercerita tentang cinta. Dari halaman satu sampai halaman 3, kuedit kata-kata yang salah. Kutambah kata-kata yang terlupa. Tapi masih juga aku belum bisa meneruskannya. Kutunggu beberapa lama. Berharap bisa merangkai kata menjadi sebuah kalimat indah. Sambil mengamati pesawat garuda, apakah sudah tiba. Ternyata masih belum juga ada ide yg tercipta. Kalau sudah begini aku menyerah. Takkan kupaksa otak ini bekerja. Aku tak ingin membebaninya. Lagian kalau menulis disertai dengan paksaan hasilnya kurang memuaskan. Mengecewakan. Akhirnya aktivitas kualihkan. Kubuka tas dan kuambil buku yg akan kubaca. Buku yang ditulis oleh M. Anis matta. Aku suka membaca tulisannya. Aku senang dengan sosoknya.

Kata-katanya memotivasi. Tulisannya bergizi mengundang energi. Bahasanya tinggi tapi mudah dipahami. Gayanya natural tanpa politisasi. Kalau lama-lama diamati, perawakannya seperti jet Li. (Asumsi pribadi).  Ketika sedang asyik menikmati, kudengar ada yang ngaji dikursi sebelah kiri. Kusimak surah ini. Karena ku tahu beberapa arti didalamnya. Kucoba utk meresapi.

Kaaf Haa Yaa 'Ain Shaad.
(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.
Ia berkata "Yaa Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, yaa Tuhanku.
Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera,
Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, yaa Tuhanku, seorang yang diridhai".
Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.
Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua".
Tuhan berfirman: "Demikianlah". Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali".
Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat".

Kulihat siapa yang membaca surat ke 19 ini. Subhanallah!.. Itukan anis matta? Terkejut. Masih tak percaya. Syukurlah ada simbol nomor 3 dibajunya. Kudekati dan memberanikan diri untuk berbasa-basi. Assalamualaikum. Pak Jen, Astagfirullah. Maaf, Ust. Anis kan ya? Dari mana mau ke mana? Iya...saya Anis Matta. Ini dari pontianak mau pulang ke Jakarta. O iya..kenalkan saya aziz. Saya juga mau ke jakarta. Cuma nanti langsung ke surakarta. Menemui istri kuliah disana. 
 
(Ust anis menutup alqurannya) 
"maaf ustadz jadi terganggu tilawahnya."
" O..tidak apa-apa sudah selesai kok."
" Maaf ust. Emm...saya mau minta nasehat dari ustadz. Itupun kalau boleh"
" Bolehlah...Kenapa tidak. Nasehat apa?"
" Terserah ustadz, nasehat yang diberikan kepada anak ustadz ketika sedang galau juga bolehlah!"
" Ha..ha..bisa saja antum ini. Begini! Saya ingin mulai dari sebuah pertanyaan sederhana"
" Apa itu ustadz? "
" Berapa kali dalam sehari antum mengucapkan 'aku cinta padamu' pada istri? "
" Ha! Kok masalah ini sih?" Keluhku dalam hati. Seraya mengerutkan dahi. " Maaf ustadz seberapa pentingkah pertanyaan itu harus saya jawab? Perlukah ungkapan perasaan itu diketahui oleh istri? Bukankah rasa itu telah terwakilkan setiap hari? Dengan bekerjanya seorang suami, mengantarnya kepasar untuk belanja kebutuhan sehari-hari dan selalu mendampingi kemanapun ia pergi, apakah itu belum cukup bukti? "
 " Begini akhi...Kita semua dari waktu ke waktu, membutuhkan kepastian. Kepastian agar kita tidak salah menterjemahkan isyarat yang diberikan. Bukankah kepastian juga diminta nabi zakaria di surah yang tadi saya baca? ketika mengetahui Allah mengabulkan permintaannya untuk mendapatkan seorang putera, Nabi zakaria berkata "berikan aku tanda!". QS.19.10. Tidak hanya nabi zakaria, nabi Ibrahim pun sama. Ia juga meminta 'tanda' agar lebih yakin bahwa Tuhan maha kuasa. Kuasa menghidupkan dan mematikan setiap yang bernyawa. "

Akhi, antum harus mengerti. Dari suasana ketidakpastian itulah biasanya setan masuk ke hati. Karena salah satu misi besar setan kata ibnul qoyyim al jauzi adalah memisahkan orang yang saling mencintai. "Dan mereka belajar dari keduanya sesuatu yang dengannya mereka dapat memisahkan seseorang dari pasangannya."(QS.2:102).
 
Dari bab ini,ungkapan verbal berupa kata menemukan maknanya. Bahkan sesungguhnya, ada begitu banyak kekurangan dalam perbuatan yang 'beban psikologisnya' dapat terkurangi hanya dengan kata. Di dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa suatu ketika ada sahabat nabi yang sedang duduk disebelahnya. Kemudian ia berkata "ya rasulullah, sesungguhnya aku mencintai dia." 'Sudahkah engkau menyatakan cintamu ke padanya?'."Belum, ya rasulullah, kata sahabat itu."Pergilah menemui orang itu dan katakan bahwa kamu mencintainya. Kata rasulullah. Nah jika kepada sesama sahabat atau ikhwah saja rasa cinta harus diungkapkan secara verbal, dapatkah kita membayangkan, seperti apakah verbalnya ungkapan rasa cinta yang semestinya kita berikan kepada 'pasangan' (istri)? 
 
Mataku mulai berkaca-kaca. Tapi aku tidak mau ia melihatnya. Aku pura-pura. Seolah-olah ada serangga masuk ke mata, hingga aku bisa menyekanya. Ia lanjut berkata. Ditengah kesulitan ekonomi seperti sekarang ini, tidak banyak di antara kita yang sanggup memenuhi kebutuhan rumah tangga secara ideal. Kita harus lebih banyak berlapang dada dan toleransi. Minimal 'berkata lah yang baik' untuk mengurangi efek psikologi yang ditimbulkan oleh ketidakmampuan kita memenuhi kewajiban istri. Antum mungkin melihat, betapa lelahnya istri menyelesaikan pekerjaan rumah, kuliah, menjemput dan mengantar anak ke sekolah. 
 
Apakah kerja berat itu disertai dengan sarana teknologi yang mungkin memudahkannya, akhi? Apakah hanya karena istri kita seorang daiyah dan seorang mujahidah sehingga tak butuh ungkapan ini? (i love you). Atau kita sudah sama-sama tahu, sama-sama paham, atau karena kita sudah sama-sama tua dan karenanya tidak cocok menggunakan cara-cara 'anak muda' menyatakan cinta? Setan apakah yang telah membuat kita begitu rupa, pelit untuk memberikan sesuatu yang manis walaupun itu hanya sebatas 'kata'? Setan apakah yang telah membuat kita angkuh untuk merendah dan membuka rahasia hati kita yang sesungguhnya? Menyatakannya secara sederhana dan tanpa ada kepentingan dibelakangnya? Aku Terdiam. Aku menangis sejadi-jadinya. Di dalam hati beristighfar tak henti-hentinya. Sudah! cukup ustadz!. Cukup...cukup...cukup. !
 
Tapi mungkin juga ada situasi begini. Antum mencintai istri, tidak terhambat dengan keangkuhan untuk menyatakannya berulang-ulang. Masalahnya hanya satu. Antum tak bisa melakukan itu. Dan itu membuat antum jadi kaku. Jika antum adalah golongan orang semacam ini. maka tulislah puisi sapardi djoko damono ini. Berikan kepada istri.
Aku ingin..
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat di ucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Pak...pak. bangun pak! Semua orang menatapku. Seorang security dihadapanku.Ternyata aku menangis di dalam tidur menderu-deru dan mengganggu. Astagfirullah hal'adziim..segera ku buka headseat di telingaku. Murottal kumatikan dari hpku. Ternyata sudah sampai surah maryam ayat 90. Ku ambil pensil dan buku. Kusambung tulisan yang tertunda waktu itu. Kuberi judul ik hou van jou.

"KETEMU" ANIS MATTA

at 17:49  |  No comments

Pesawat Garuda nomor 333 tujuan Jakarta, berangkat pukul 11.55 wiba. (Informasi yg tertera di layar tv bandara). Angin kencang menerjang mata. Kulihat matahari belum berani tampakkan muka. Terhijab awan menghalanginya. Setelah dua hari tercuci hujan begitu lama. Awan gelap masih setia mendampinginya. Cuaca pagi ini tidak jelas maunya apa. Alhamdulillah...

Pukul 08.33 aku tiba di bandara. Pagi-pagi sudah berangkat dari rumah. Aku khawatir pakaianku basah jika hujan turun tiba-tiba. Maklum, ke bandara hanya menggunakan kendaraan roda dua. Di temani 'ojek' yang selalu setia mengantar kemana saja.

Ya...Hari ini aku akan pergi ke jakarta. Meski datang keawalan aku selalu menikmatinya. Aku tak mempermasalahkannya. Karena sudah terbiasa berada disana, seolah-olah bandara sudah menjadi rumah yang kedua. Akhirnya berlama-lama disana suatu pekerjaan yang kusuka. Suka bisa melihat bermacam-macam perilaku manusia. Suka karena bisa melamun dan merenungkan sebuah makna. Dan yang terutama suka karena hati bahagia akan berjumpa seseorang yang jauh disana. Masih ada waktu dua jam setengah aku di bandara. Karena masih lama, kugunakan waktu yang ada agar tidak jadi sia-sia. Kugunakan untuk melanjutkan tulisan yang telah lama tertunda. Tertunda karena ide hilang entah kemana rimbanya. Kucoba mencarinya. Mungkin tersapu angin saat menuju bandara, atau tercecer di jalan raya, atau tinggal di saku celana. Ha..ha..hanya bercanda. Kembali ke cerita.

Kumulai semuanya dengan Bismillah. Kulihat tulisan pertama, masih bercerita tentang cinta. Dari halaman satu sampai halaman 3, kuedit kata-kata yang salah. Kutambah kata-kata yang terlupa. Tapi masih juga aku belum bisa meneruskannya. Kutunggu beberapa lama. Berharap bisa merangkai kata menjadi sebuah kalimat indah. Sambil mengamati pesawat garuda, apakah sudah tiba. Ternyata masih belum juga ada ide yg tercipta. Kalau sudah begini aku menyerah. Takkan kupaksa otak ini bekerja. Aku tak ingin membebaninya. Lagian kalau menulis disertai dengan paksaan hasilnya kurang memuaskan. Mengecewakan. Akhirnya aktivitas kualihkan. Kubuka tas dan kuambil buku yg akan kubaca. Buku yang ditulis oleh M. Anis matta. Aku suka membaca tulisannya. Aku senang dengan sosoknya.

Kata-katanya memotivasi. Tulisannya bergizi mengundang energi. Bahasanya tinggi tapi mudah dipahami. Gayanya natural tanpa politisasi. Kalau lama-lama diamati, perawakannya seperti jet Li. (Asumsi pribadi).  Ketika sedang asyik menikmati, kudengar ada yang ngaji dikursi sebelah kiri. Kusimak surah ini. Karena ku tahu beberapa arti didalamnya. Kucoba utk meresapi.

Kaaf Haa Yaa 'Ain Shaad.
(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.
Ia berkata "Yaa Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, yaa Tuhanku.
Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera,
Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, yaa Tuhanku, seorang yang diridhai".
Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.
Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua".
Tuhan berfirman: "Demikianlah". Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali".
Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat".

Kulihat siapa yang membaca surat ke 19 ini. Subhanallah!.. Itukan anis matta? Terkejut. Masih tak percaya. Syukurlah ada simbol nomor 3 dibajunya. Kudekati dan memberanikan diri untuk berbasa-basi. Assalamualaikum. Pak Jen, Astagfirullah. Maaf, Ust. Anis kan ya? Dari mana mau ke mana? Iya...saya Anis Matta. Ini dari pontianak mau pulang ke Jakarta. O iya..kenalkan saya aziz. Saya juga mau ke jakarta. Cuma nanti langsung ke surakarta. Menemui istri kuliah disana. 
 
(Ust anis menutup alqurannya) 
"maaf ustadz jadi terganggu tilawahnya."
" O..tidak apa-apa sudah selesai kok."
" Maaf ust. Emm...saya mau minta nasehat dari ustadz. Itupun kalau boleh"
" Bolehlah...Kenapa tidak. Nasehat apa?"
" Terserah ustadz, nasehat yang diberikan kepada anak ustadz ketika sedang galau juga bolehlah!"
" Ha..ha..bisa saja antum ini. Begini! Saya ingin mulai dari sebuah pertanyaan sederhana"
" Apa itu ustadz? "
" Berapa kali dalam sehari antum mengucapkan 'aku cinta padamu' pada istri? "
" Ha! Kok masalah ini sih?" Keluhku dalam hati. Seraya mengerutkan dahi. " Maaf ustadz seberapa pentingkah pertanyaan itu harus saya jawab? Perlukah ungkapan perasaan itu diketahui oleh istri? Bukankah rasa itu telah terwakilkan setiap hari? Dengan bekerjanya seorang suami, mengantarnya kepasar untuk belanja kebutuhan sehari-hari dan selalu mendampingi kemanapun ia pergi, apakah itu belum cukup bukti? "
 " Begini akhi...Kita semua dari waktu ke waktu, membutuhkan kepastian. Kepastian agar kita tidak salah menterjemahkan isyarat yang diberikan. Bukankah kepastian juga diminta nabi zakaria di surah yang tadi saya baca? ketika mengetahui Allah mengabulkan permintaannya untuk mendapatkan seorang putera, Nabi zakaria berkata "berikan aku tanda!". QS.19.10. Tidak hanya nabi zakaria, nabi Ibrahim pun sama. Ia juga meminta 'tanda' agar lebih yakin bahwa Tuhan maha kuasa. Kuasa menghidupkan dan mematikan setiap yang bernyawa. "

Akhi, antum harus mengerti. Dari suasana ketidakpastian itulah biasanya setan masuk ke hati. Karena salah satu misi besar setan kata ibnul qoyyim al jauzi adalah memisahkan orang yang saling mencintai. "Dan mereka belajar dari keduanya sesuatu yang dengannya mereka dapat memisahkan seseorang dari pasangannya."(QS.2:102).
 
Dari bab ini,ungkapan verbal berupa kata menemukan maknanya. Bahkan sesungguhnya, ada begitu banyak kekurangan dalam perbuatan yang 'beban psikologisnya' dapat terkurangi hanya dengan kata. Di dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa suatu ketika ada sahabat nabi yang sedang duduk disebelahnya. Kemudian ia berkata "ya rasulullah, sesungguhnya aku mencintai dia." 'Sudahkah engkau menyatakan cintamu ke padanya?'."Belum, ya rasulullah, kata sahabat itu."Pergilah menemui orang itu dan katakan bahwa kamu mencintainya. Kata rasulullah. Nah jika kepada sesama sahabat atau ikhwah saja rasa cinta harus diungkapkan secara verbal, dapatkah kita membayangkan, seperti apakah verbalnya ungkapan rasa cinta yang semestinya kita berikan kepada 'pasangan' (istri)? 
 
Mataku mulai berkaca-kaca. Tapi aku tidak mau ia melihatnya. Aku pura-pura. Seolah-olah ada serangga masuk ke mata, hingga aku bisa menyekanya. Ia lanjut berkata. Ditengah kesulitan ekonomi seperti sekarang ini, tidak banyak di antara kita yang sanggup memenuhi kebutuhan rumah tangga secara ideal. Kita harus lebih banyak berlapang dada dan toleransi. Minimal 'berkata lah yang baik' untuk mengurangi efek psikologi yang ditimbulkan oleh ketidakmampuan kita memenuhi kewajiban istri. Antum mungkin melihat, betapa lelahnya istri menyelesaikan pekerjaan rumah, kuliah, menjemput dan mengantar anak ke sekolah. 
 
Apakah kerja berat itu disertai dengan sarana teknologi yang mungkin memudahkannya, akhi? Apakah hanya karena istri kita seorang daiyah dan seorang mujahidah sehingga tak butuh ungkapan ini? (i love you). Atau kita sudah sama-sama tahu, sama-sama paham, atau karena kita sudah sama-sama tua dan karenanya tidak cocok menggunakan cara-cara 'anak muda' menyatakan cinta? Setan apakah yang telah membuat kita begitu rupa, pelit untuk memberikan sesuatu yang manis walaupun itu hanya sebatas 'kata'? Setan apakah yang telah membuat kita angkuh untuk merendah dan membuka rahasia hati kita yang sesungguhnya? Menyatakannya secara sederhana dan tanpa ada kepentingan dibelakangnya? Aku Terdiam. Aku menangis sejadi-jadinya. Di dalam hati beristighfar tak henti-hentinya. Sudah! cukup ustadz!. Cukup...cukup...cukup. !
 
Tapi mungkin juga ada situasi begini. Antum mencintai istri, tidak terhambat dengan keangkuhan untuk menyatakannya berulang-ulang. Masalahnya hanya satu. Antum tak bisa melakukan itu. Dan itu membuat antum jadi kaku. Jika antum adalah golongan orang semacam ini. maka tulislah puisi sapardi djoko damono ini. Berikan kepada istri.
Aku ingin..
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat di ucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Pak...pak. bangun pak! Semua orang menatapku. Seorang security dihadapanku.Ternyata aku menangis di dalam tidur menderu-deru dan mengganggu. Astagfirullah hal'adziim..segera ku buka headseat di telingaku. Murottal kumatikan dari hpku. Ternyata sudah sampai surah maryam ayat 90. Ku ambil pensil dan buku. Kusambung tulisan yang tertunda waktu itu. Kuberi judul ik hou van jou.

Read More

0 comments:

Friday, 10 January 2014

Alhamdulillah...
Sudah ada beberapa mobil di halaman...
Pekerjaan tetap sudah didapatkan...
Pendidikan sudah melebihi dari yang ditargetkan...
Sudah ada rumah mewah yang telah lama kuimpikan...
Rumah mewah dihiasi lukisan dan perabotan...
Di dalamnya ada taman dan kolam ikan...
Cukuplah untuk sekedar beristirahat dan menghilangkan beban.
Dibandingkan dengan yang lain, Rumah ku cukup lumayan...

Meskipun demikian, sepertinya masih ada yang kurang...
Sepertinya ada sesuatu yang telah hilang...
Membuat hati jadi tak tenang...
Bentuknya susah untuk didefinisikan...
Yang pasti, ia dicari semua orang...
Dan hanya orang-orang tertentu yang mendapatkan.

Kucoba merekonstruksi ulang...
Kemana barang itu kuletakkan...
Coba bertanya pada orang-orang disekitar...
Kukatakan, kalau bapak, ibu bisa menemukan dan mengembalikan...
Imbalannya ditukar dengan rumah yang telah lama saya idam-idamkan...
Atau dengan beberapa mobil yang berada di halaman.

Sehari, seminggu, sebulan
Masih belum kutemukan.
Orang-orang yang kumintai bantuan pun belum melaporkan perkembangan.
Akhirnya kucari sendirian.
Aku coba berfikir tenang.

Alhamdulillah...
Puja-puji langsung kupanjatkan...
Aku senang bukan kepalang.
Akhirnya barang yang hilang telah kutemukan...
Barang yang hilang itu adalah sumber kebahagian, ketenangan...
Barang itu adalah iman.
Dari sini kudapatkan suatu pelajaran.
Kekayaan tidak menjamin hadirnya kebahagiaan dan ketenangan...
Benarlah apa yang tercantum di dalam alquran.
'...dengan mengingat ku hati akan menjadi tenang'.

Iman Sumber Kebahagiaan

at 05:46  |  No comments

Alhamdulillah...
Sudah ada beberapa mobil di halaman...
Pekerjaan tetap sudah didapatkan...
Pendidikan sudah melebihi dari yang ditargetkan...
Sudah ada rumah mewah yang telah lama kuimpikan...
Rumah mewah dihiasi lukisan dan perabotan...
Di dalamnya ada taman dan kolam ikan...
Cukuplah untuk sekedar beristirahat dan menghilangkan beban.
Dibandingkan dengan yang lain, Rumah ku cukup lumayan...

Meskipun demikian, sepertinya masih ada yang kurang...
Sepertinya ada sesuatu yang telah hilang...
Membuat hati jadi tak tenang...
Bentuknya susah untuk didefinisikan...
Yang pasti, ia dicari semua orang...
Dan hanya orang-orang tertentu yang mendapatkan.

Kucoba merekonstruksi ulang...
Kemana barang itu kuletakkan...
Coba bertanya pada orang-orang disekitar...
Kukatakan, kalau bapak, ibu bisa menemukan dan mengembalikan...
Imbalannya ditukar dengan rumah yang telah lama saya idam-idamkan...
Atau dengan beberapa mobil yang berada di halaman.

Sehari, seminggu, sebulan
Masih belum kutemukan.
Orang-orang yang kumintai bantuan pun belum melaporkan perkembangan.
Akhirnya kucari sendirian.
Aku coba berfikir tenang.

Alhamdulillah...
Puja-puji langsung kupanjatkan...
Aku senang bukan kepalang.
Akhirnya barang yang hilang telah kutemukan...
Barang yang hilang itu adalah sumber kebahagian, ketenangan...
Barang itu adalah iman.
Dari sini kudapatkan suatu pelajaran.
Kekayaan tidak menjamin hadirnya kebahagiaan dan ketenangan...
Benarlah apa yang tercantum di dalam alquran.
'...dengan mengingat ku hati akan menjadi tenang'.

Read More

0 comments:

Aku butuh dukungan. Aku butuh keajaiban. Tunjukkan aku jalan. Suara lirih dari dalam hati. Akhirnya, datanglah waktu yang telah disepakati (7 hari). Murobbi datang menemui. Ketika matahari sepenggalahan tinggi. Sambil duduk dikursi. Dan tanpa basa-basi ia berkata begini "antum akan diproses dengan Reny Husnawati (istriku kini). Proposal yang pertama ditarik kembali. 'Ha..apa yang terjadi?' Pokoknya antum ikuti saja keputusan ini. Mengerti?

Masih terduduk di kursi. Kuberucap di dalam hati. Subhanallah! Maha Suci Engkau Yaa Robbi. Puja dan puji kupanjatkan kepada pemilik taqdir ini. Ternyata benarlah mimpiku dinihari tadi. Aku bermimpi orangtuamu tersenyum manis sekali, tanda merestui. Tiba-tiba kuterjaga oleh suara merdu. Kumendengar sayup-sayup sebuah lagu. Lagu yang terkenal saat masih mahasiswa dulu. Rasa-rasaya aku pernah mendengar lagu itu...

Desir pasir di padang tandus
segersang pemikiran hati
terkisah ku di antara
cinta yang rumit
bila keyakinanku datang
kasih bukan sekadar cinta
pengorbanan cinta yang agung
ku pertaruhkan
     reff:
     maafkan bila ku tak sempurna
     cinta ini tak mungkin ku cegah
     ayat-ayat cinta bercerita
     cintaku padamu
     bila bahagia mulai menyentuh
     seakan ku bisa hidup lebih lama
     namun harus ku tinggalkan cinta
     ketika ku bersujud
     bila keyakinanku datang
     kasih bukan sekedar cinta
     pengorbanan cinta yang agung
     ku pertaruhkan 
(Ayat-ayat Cinta - Rossa).
***
 
Istriku, Maafkan aku, kalau selama ini aku terkesan kaku. Maafkan aku kalau selama ini aku tak pernah mengatakan I Love You kepadamu. Bukan karena aku tak mau. Bukan, bukan itu. Tapi, Lidah ku kelu, mulutku gagu, dan membisu ketika menatap kedua bola matamu yang sayu. Aku berani bermain kata hanya di dunia maya saja. Tidak di alam nyata dan tidak juga 4 mata. Keberanianku di dunia maya ini pun terinspirasi dari tulisan ustadz Cahyadi yang berjudul 'pernak-pernik rumah tangga islami' yang sudah lama kau beli.

Di bab 2, hal 163 tema nyatakan cinta dengan bahasa.
Maafkan aku kalau selama ini aku terkesan kurang romantis seperti pasangan selebritis. Termasuk pada hari ini ku menulis. Seharusnya kuberikan tulisan ini bertepatan dengan jadwal dan tanggal berlangsungnya pernikahan. Tapi aku tak kuasa menahan. Menahan perasaan yang telah lama ingin kusampaikan. Meskipun hanya lewat tulisan. Semoga bisa mewakili perasaan.

Ik hou van jou-(belanda)
Ya tebya liubliu-(russia)
Ya tabe kahayu-(belarussia)
Es tave muliu-(lithuania)
Anata ga daisuki desu
Aishiteru-(jepang)
I love you-(inggris)
Saya cintakan kamu- (malaysia)
Aku cinta padamu-(Indonesia)
 
(selesai)

Ik Hou Van Jou (Bag. 2)

at 05:26  |  No comments

Aku butuh dukungan. Aku butuh keajaiban. Tunjukkan aku jalan. Suara lirih dari dalam hati. Akhirnya, datanglah waktu yang telah disepakati (7 hari). Murobbi datang menemui. Ketika matahari sepenggalahan tinggi. Sambil duduk dikursi. Dan tanpa basa-basi ia berkata begini "antum akan diproses dengan Reny Husnawati (istriku kini). Proposal yang pertama ditarik kembali. 'Ha..apa yang terjadi?' Pokoknya antum ikuti saja keputusan ini. Mengerti?

Masih terduduk di kursi. Kuberucap di dalam hati. Subhanallah! Maha Suci Engkau Yaa Robbi. Puja dan puji kupanjatkan kepada pemilik taqdir ini. Ternyata benarlah mimpiku dinihari tadi. Aku bermimpi orangtuamu tersenyum manis sekali, tanda merestui. Tiba-tiba kuterjaga oleh suara merdu. Kumendengar sayup-sayup sebuah lagu. Lagu yang terkenal saat masih mahasiswa dulu. Rasa-rasaya aku pernah mendengar lagu itu...

Desir pasir di padang tandus
segersang pemikiran hati
terkisah ku di antara
cinta yang rumit
bila keyakinanku datang
kasih bukan sekadar cinta
pengorbanan cinta yang agung
ku pertaruhkan
     reff:
     maafkan bila ku tak sempurna
     cinta ini tak mungkin ku cegah
     ayat-ayat cinta bercerita
     cintaku padamu
     bila bahagia mulai menyentuh
     seakan ku bisa hidup lebih lama
     namun harus ku tinggalkan cinta
     ketika ku bersujud
     bila keyakinanku datang
     kasih bukan sekedar cinta
     pengorbanan cinta yang agung
     ku pertaruhkan 
(Ayat-ayat Cinta - Rossa).
***
 
Istriku, Maafkan aku, kalau selama ini aku terkesan kaku. Maafkan aku kalau selama ini aku tak pernah mengatakan I Love You kepadamu. Bukan karena aku tak mau. Bukan, bukan itu. Tapi, Lidah ku kelu, mulutku gagu, dan membisu ketika menatap kedua bola matamu yang sayu. Aku berani bermain kata hanya di dunia maya saja. Tidak di alam nyata dan tidak juga 4 mata. Keberanianku di dunia maya ini pun terinspirasi dari tulisan ustadz Cahyadi yang berjudul 'pernak-pernik rumah tangga islami' yang sudah lama kau beli.

Di bab 2, hal 163 tema nyatakan cinta dengan bahasa.
Maafkan aku kalau selama ini aku terkesan kurang romantis seperti pasangan selebritis. Termasuk pada hari ini ku menulis. Seharusnya kuberikan tulisan ini bertepatan dengan jadwal dan tanggal berlangsungnya pernikahan. Tapi aku tak kuasa menahan. Menahan perasaan yang telah lama ingin kusampaikan. Meskipun hanya lewat tulisan. Semoga bisa mewakili perasaan.

Ik hou van jou-(belanda)
Ya tebya liubliu-(russia)
Ya tabe kahayu-(belarussia)
Es tave muliu-(lithuania)
Anata ga daisuki desu
Aishiteru-(jepang)
I love you-(inggris)
Saya cintakan kamu- (malaysia)
Aku cinta padamu-(Indonesia)
 
(selesai)

Read More

0 comments:

Tak terasa sudah 6 tahun waktu berlalu. Rasanya baru minggu lalu kita bertemu. Di rumah itu yang difasilitasi oleh murobbiahmu. Pukul 7 kau datang lebih dulu, memakai jaket berwarna biru. Aku juga datang memakai baju berwarna sama denganmu. Belakangan baru ku tau. Warna kesukaanmu dan kesukaanku, sama-sama biru. Saat dipertemuan itu, kau tak berani menatapku. Karena memang Tuhanmu dan Tuhanku melarang hal itu. 
 
Sambil tertunduk malu, kau bertanya, apa motivasiku ingin menikahi mu. Awalnya ingin kukatakan karena aku menyukai mu. Aku tak bisa membohongi diri. Aku jatuh hati ketika melihat mu pertama kali. Tapi aku tau diri. Kusembunyikan di dalam hati. Memilihmu adalah pilihan sadar tanpa ada sebuah paksaan. Pilihan sadar dari suara hati yang paling dominan. Tapi kutau bukan itu jawaban yg kau tunggu. Dan akupun takkan mampu mengungkap rasa itu. 
 
Menyebut namamu pun aku tak mampu. Tersihir oleh kharisma dan kedewasaanmu. Dengan sedikit ilmu dan ragu, karena aku belum pernah sekalipun membaca buku-buku tentang itu. Kupaksakan menjawab pertanyaanmu. "Untuk mengubah dunia yang penuh dengan kegelapan, harus ada tahapan yang kita lakukan. Salah satunya melalui pernikahan". Kulihat semua orang yang ada disitu tersenyum tersipu. Aku tak tau arti senyuman itu. Apakah tanda setuju atau 'menghina' jawabanku yang ambigu. Aku malu jika mengingat hal itu.Seharusnya kujelaskan satu persatu, agar kau tau arah dan maksud dari jawabanku. Tapi...ya sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu.

Mudah-mudahan jadi pelajaran untuk anak-cucu. Dalam kesendirian, kadang-kadang timbul pertanyaan, apa yang membuat dirimu menerima orang seperti ku? Padahal saat itu, dari segi ilmu kau melebihiku. Dari segi pendidikan dan kepintaran, kau lumayan. Dari segi pekerjaan kau sudah cukup mapan. Dari segi rizqi, gajimu lebih tinggi. Bahkan kau sudah jadi pegawai negeri. Emm...Apakah karena aku tampan? Atau waktu itu memang tak ada lagi pilihan? Ah..Mudah-mudahan bukan yang terakhir ini yang menjadi alasan. Mudah-mudahan alasan yang pertama dan semata-mata untuk beribadah kepada Tuhan.

Ah...sudahlah nanti saja langsung kutanya kan. O...iya, kukira ini adalah saat yang tepat untuk memberitahu tentang bagaimana perjalanan sebelum pertemuan yang pertama itu? Untuk mendapatkan persetujuan dari beberapa kalangan, bahwa engkaulah yang menjadi pilihan, aku harus melewati berbagai macam perjuangan. Perjuangan untuk sebuah keyakinan. Perjuangan untuk sebuah kepasrahan. Dari berbagai macam perjuangan yang kutemukan, satu yang sangat berat kurasakan. Yaitu ketika menyatukan kemauan dengan pemegang kebijakan. Kemauanku dan kemauan pemegang kebijakan pada saat itu ternyata berlainan. Aku sadar sebagai murid dan bawahan memang harus patuh atas segala macam keputusan. Namun, masalah rasa bisakah dipaksakan? Masalah selera bisakah disamakan? Sungguh pergolakan batin yang sangat menyengsarakan. Semuanya tak kusampaikan. Semuanya kupendam dalam-dalam. Biarlah aku saja dan Tuhan yang merasakan.

Aku diberi waktu seminggu untuk mempertimbangkan. Sejak kumengetahui bukan namamu yang direkomendasikan, aku langsung menghadap Tuhan seru sekalian alam. Selama seminggu, di waktu-waktu doa terkabulkan namamu kuajukan. Dengan berbagai cara namamu ku'dzikir'kan. Dengan berbagai alasan kucari pembenaran. Aku tak peduli apabila cara ini di luar tuntunan nabi. Saat itu hanya namamu yang terpatri. Kupasrahkan semua kepada Robbul Izzati. Wahai Yang Maha Mengetahui... (bersambung...)

Ik Hou Van Jou (Bag. 1)

at 05:10  |  No comments

Tak terasa sudah 6 tahun waktu berlalu. Rasanya baru minggu lalu kita bertemu. Di rumah itu yang difasilitasi oleh murobbiahmu. Pukul 7 kau datang lebih dulu, memakai jaket berwarna biru. Aku juga datang memakai baju berwarna sama denganmu. Belakangan baru ku tau. Warna kesukaanmu dan kesukaanku, sama-sama biru. Saat dipertemuan itu, kau tak berani menatapku. Karena memang Tuhanmu dan Tuhanku melarang hal itu. 
 
Sambil tertunduk malu, kau bertanya, apa motivasiku ingin menikahi mu. Awalnya ingin kukatakan karena aku menyukai mu. Aku tak bisa membohongi diri. Aku jatuh hati ketika melihat mu pertama kali. Tapi aku tau diri. Kusembunyikan di dalam hati. Memilihmu adalah pilihan sadar tanpa ada sebuah paksaan. Pilihan sadar dari suara hati yang paling dominan. Tapi kutau bukan itu jawaban yg kau tunggu. Dan akupun takkan mampu mengungkap rasa itu. 
 
Menyebut namamu pun aku tak mampu. Tersihir oleh kharisma dan kedewasaanmu. Dengan sedikit ilmu dan ragu, karena aku belum pernah sekalipun membaca buku-buku tentang itu. Kupaksakan menjawab pertanyaanmu. "Untuk mengubah dunia yang penuh dengan kegelapan, harus ada tahapan yang kita lakukan. Salah satunya melalui pernikahan". Kulihat semua orang yang ada disitu tersenyum tersipu. Aku tak tau arti senyuman itu. Apakah tanda setuju atau 'menghina' jawabanku yang ambigu. Aku malu jika mengingat hal itu.Seharusnya kujelaskan satu persatu, agar kau tau arah dan maksud dari jawabanku. Tapi...ya sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu.

Mudah-mudahan jadi pelajaran untuk anak-cucu. Dalam kesendirian, kadang-kadang timbul pertanyaan, apa yang membuat dirimu menerima orang seperti ku? Padahal saat itu, dari segi ilmu kau melebihiku. Dari segi pendidikan dan kepintaran, kau lumayan. Dari segi pekerjaan kau sudah cukup mapan. Dari segi rizqi, gajimu lebih tinggi. Bahkan kau sudah jadi pegawai negeri. Emm...Apakah karena aku tampan? Atau waktu itu memang tak ada lagi pilihan? Ah..Mudah-mudahan bukan yang terakhir ini yang menjadi alasan. Mudah-mudahan alasan yang pertama dan semata-mata untuk beribadah kepada Tuhan.

Ah...sudahlah nanti saja langsung kutanya kan. O...iya, kukira ini adalah saat yang tepat untuk memberitahu tentang bagaimana perjalanan sebelum pertemuan yang pertama itu? Untuk mendapatkan persetujuan dari beberapa kalangan, bahwa engkaulah yang menjadi pilihan, aku harus melewati berbagai macam perjuangan. Perjuangan untuk sebuah keyakinan. Perjuangan untuk sebuah kepasrahan. Dari berbagai macam perjuangan yang kutemukan, satu yang sangat berat kurasakan. Yaitu ketika menyatukan kemauan dengan pemegang kebijakan. Kemauanku dan kemauan pemegang kebijakan pada saat itu ternyata berlainan. Aku sadar sebagai murid dan bawahan memang harus patuh atas segala macam keputusan. Namun, masalah rasa bisakah dipaksakan? Masalah selera bisakah disamakan? Sungguh pergolakan batin yang sangat menyengsarakan. Semuanya tak kusampaikan. Semuanya kupendam dalam-dalam. Biarlah aku saja dan Tuhan yang merasakan.

Aku diberi waktu seminggu untuk mempertimbangkan. Sejak kumengetahui bukan namamu yang direkomendasikan, aku langsung menghadap Tuhan seru sekalian alam. Selama seminggu, di waktu-waktu doa terkabulkan namamu kuajukan. Dengan berbagai cara namamu ku'dzikir'kan. Dengan berbagai alasan kucari pembenaran. Aku tak peduli apabila cara ini di luar tuntunan nabi. Saat itu hanya namamu yang terpatri. Kupasrahkan semua kepada Robbul Izzati. Wahai Yang Maha Mengetahui... (bersambung...)

Read More

0 comments:

Thursday, 9 January 2014

Masih kisah di surakarta. Sepenggal peristiwa, di restoran spirit of java. Restoran asal surabaya, yang digemari kalangan tua dan muda. Digemari karena banyak menu pilihannya. Digemari karena aroma masakan yang menggugah selera. Digemari karena tempatnya indah menenangkan mata. Dan akhirnya hargapun tinggi di atas rata2.

Pengunjung di sana adalah orang2 kaya. Bisa dilihat dari mobil mewah yang mereka bawa. Land Cruiser, Fortuner, Hammer. Camry, MERCY, Audi, ada juga lamborghini. Sedangkan aku dan istri, sebenarnya tak sengaja berada di sini. Siang itu kami seharian mencari barang titipan kawan. Ee...pas mau pulang. Kehujanan. Dari siang sampai malam perut belum terisi makanan. Setelah melihat, menimbang dan memperhatikan, ternyata tak ada lagi pilihan. Ya...dari pada perut keroncongan, akhirnya kami memutuskan untuk singgah dan memesan.

Pukul 18.25 wiba disinilah kisah itu bermula. Satu keluarga yang terdiri dari 2 anak dan seorang ayah, tanpa sosok ibu didekatnya. Duduk di meja nomor 03. Keluarga ini memang sedikit berbeda. Tampang dan pakaiannya terkesan sedikit 'dipaksa'. Dipaksa menyesuaikan pengunjung yang ada di sana maksudnya. Mungkin keluarga itu sudah tau, siapa2 saja yang biasa berkunjung di restoran itu.Aku juga kurang tau. Apakah mereka datang karena terjebak hujan seperti ku. Atau hanya ingin merayakan sesuatu yang sudah diniatkan keluarga itu sedari dulu.

Ah sudahlah...bukankah semua orang berhak makan dimana saja? Yang penting uang ada, tak jadi masalah penampilan mau seperti apa. Pikirku sambil memejamkan mata. Tak banyak kata, setelah duduk dimeja nomor 03, pelayanpun tiba sebari menyodorkan buku menu yang telah dibawa. Si ayah menyerahkan buku menu itu kepada anaknya, 'Ayah pesan yang mana?' Kata anak yg rambutnya dikepang dua. kira2 11thn umurnya.Sepertinya ia anak yang pertama. Terserah kamu nak, ayah ikut saja! Tak perlu menunggu lama makanan yang dipesanpun sudah tiba.Tapi yang datang baru dua.Dengan serta merta anak2 itupun langsung melahapnya. Sedangkan si ayah menunggu disamping mereka, terlihat memainkan hp nokia model lama.

Setelah 10 menit berlalu, si ayah yang tadi menunggu,kini tertunduk membisu dan sepertinya sedang menikmati sesuatu. Coba lihat bapak itu! Bisik istriku,sambil mencubit lembut lenganku. Bapak yang pakai baju biru makan makanan sisa, ke 2 anak itu! Sebenarnya aku tau kejadian itu, tapi semuanya kuanggap angin lalu. Aku masih saja menikmati hidangan ku.

Setelah terdiam beberapa waktu, kulihat ada yang mengalir dimata istriku. Aku heran dan bertanya lugu, ada apa dengan mu? 'Diam tertunduk lesu'. Ya robbi...kenapa selalu harus diawali dengan tetesan air mata..Apakah itu memang syarat agar hati ini bisa terbuka? Ya robbi...sudah 2x melalui peristiwa kau ingatkan hamba...2x itu pula hamba lupa mengambil makna... Masih membekas di dalam dada. 20 september yang belum lama. Kini kau ingatkan lagi dengan sosok bapak di meja nomor 03. Ya...robbi apakah memang sudah sudah engkau rencanakan. Dengan cara ini engkau ingin mengatakan. Beginilah caranya menjaga amanah Tuhan! Beginiloh cara memberi kasih sayang! Prioritaskan anak dulu, baru pikirkan dirimu! Berikan apa yang terbaik untuk buah hati! Jangan tinggalkan generasi lemah dikemudian hari! Sejak saat itu aku baru tau, apa yang membuat istriku terharu. Seketika itu rasa 'cemburu' menyelimuti kalbu.

Cemburu atas kelebihan yang diperlihatkan bapak itu. Dan aku cemburu karena belum bisa seperti bapak yang berbaju biru. Buru2 kuhabiskan makanan ku. Segera aku pulang dan mengatakan sesuatu kepada kedua anakku, yang ternyata telah menunggu lama di depan pintu. Maafkan abi ya nak, abi belum bisa seperti bapak 'itu'. Abi belum bisa memberikan yang terbaik untuk mu. Berikan abi waktu! Semoga menjadi orangtua yang mengerti akan hak2 mu. Mudah2an tahun ini abi bisa lebih baik dari tahun lalu

Meja Kosong Tiga

at 00:01  |  No comments

Masih kisah di surakarta. Sepenggal peristiwa, di restoran spirit of java. Restoran asal surabaya, yang digemari kalangan tua dan muda. Digemari karena banyak menu pilihannya. Digemari karena aroma masakan yang menggugah selera. Digemari karena tempatnya indah menenangkan mata. Dan akhirnya hargapun tinggi di atas rata2.

Pengunjung di sana adalah orang2 kaya. Bisa dilihat dari mobil mewah yang mereka bawa. Land Cruiser, Fortuner, Hammer. Camry, MERCY, Audi, ada juga lamborghini. Sedangkan aku dan istri, sebenarnya tak sengaja berada di sini. Siang itu kami seharian mencari barang titipan kawan. Ee...pas mau pulang. Kehujanan. Dari siang sampai malam perut belum terisi makanan. Setelah melihat, menimbang dan memperhatikan, ternyata tak ada lagi pilihan. Ya...dari pada perut keroncongan, akhirnya kami memutuskan untuk singgah dan memesan.

Pukul 18.25 wiba disinilah kisah itu bermula. Satu keluarga yang terdiri dari 2 anak dan seorang ayah, tanpa sosok ibu didekatnya. Duduk di meja nomor 03. Keluarga ini memang sedikit berbeda. Tampang dan pakaiannya terkesan sedikit 'dipaksa'. Dipaksa menyesuaikan pengunjung yang ada di sana maksudnya. Mungkin keluarga itu sudah tau, siapa2 saja yang biasa berkunjung di restoran itu.Aku juga kurang tau. Apakah mereka datang karena terjebak hujan seperti ku. Atau hanya ingin merayakan sesuatu yang sudah diniatkan keluarga itu sedari dulu.

Ah sudahlah...bukankah semua orang berhak makan dimana saja? Yang penting uang ada, tak jadi masalah penampilan mau seperti apa. Pikirku sambil memejamkan mata. Tak banyak kata, setelah duduk dimeja nomor 03, pelayanpun tiba sebari menyodorkan buku menu yang telah dibawa. Si ayah menyerahkan buku menu itu kepada anaknya, 'Ayah pesan yang mana?' Kata anak yg rambutnya dikepang dua. kira2 11thn umurnya.Sepertinya ia anak yang pertama. Terserah kamu nak, ayah ikut saja! Tak perlu menunggu lama makanan yang dipesanpun sudah tiba.Tapi yang datang baru dua.Dengan serta merta anak2 itupun langsung melahapnya. Sedangkan si ayah menunggu disamping mereka, terlihat memainkan hp nokia model lama.

Setelah 10 menit berlalu, si ayah yang tadi menunggu,kini tertunduk membisu dan sepertinya sedang menikmati sesuatu. Coba lihat bapak itu! Bisik istriku,sambil mencubit lembut lenganku. Bapak yang pakai baju biru makan makanan sisa, ke 2 anak itu! Sebenarnya aku tau kejadian itu, tapi semuanya kuanggap angin lalu. Aku masih saja menikmati hidangan ku.

Setelah terdiam beberapa waktu, kulihat ada yang mengalir dimata istriku. Aku heran dan bertanya lugu, ada apa dengan mu? 'Diam tertunduk lesu'. Ya robbi...kenapa selalu harus diawali dengan tetesan air mata..Apakah itu memang syarat agar hati ini bisa terbuka? Ya robbi...sudah 2x melalui peristiwa kau ingatkan hamba...2x itu pula hamba lupa mengambil makna... Masih membekas di dalam dada. 20 september yang belum lama. Kini kau ingatkan lagi dengan sosok bapak di meja nomor 03. Ya...robbi apakah memang sudah sudah engkau rencanakan. Dengan cara ini engkau ingin mengatakan. Beginilah caranya menjaga amanah Tuhan! Beginiloh cara memberi kasih sayang! Prioritaskan anak dulu, baru pikirkan dirimu! Berikan apa yang terbaik untuk buah hati! Jangan tinggalkan generasi lemah dikemudian hari! Sejak saat itu aku baru tau, apa yang membuat istriku terharu. Seketika itu rasa 'cemburu' menyelimuti kalbu.

Cemburu atas kelebihan yang diperlihatkan bapak itu. Dan aku cemburu karena belum bisa seperti bapak yang berbaju biru. Buru2 kuhabiskan makanan ku. Segera aku pulang dan mengatakan sesuatu kepada kedua anakku, yang ternyata telah menunggu lama di depan pintu. Maafkan abi ya nak, abi belum bisa seperti bapak 'itu'. Abi belum bisa memberikan yang terbaik untuk mu. Berikan abi waktu! Semoga menjadi orangtua yang mengerti akan hak2 mu. Mudah2an tahun ini abi bisa lebih baik dari tahun lalu

Read More

0 comments:

Abi...
Air mata ku membasahi pipi.Ketika suara itu teringat kembali. Bahkan saat tulisan ini dibuat, air mataku tak kunjung berhenti. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi? Semuanya berawal dari sini...
Umar, seperti itulah ia kuberi nama. Nama yang sudah kusiapkan ketika masih berstatus mahasiswa. Aku berharap nama itu akan berguna ketika kelak ia tumbuh dewasa.

Ia anak ku yang pertama,tinggi-besar perawakannya.Ketika ia lahir aku tak bisa menemaninya. Karena melaksanakan tugas sebagai setengah abdi negara...Sekarang 4 thn sudah umurnya. Ia sekolah di tkit taqiya, kira-kira 20 menit-lah jaraknya dari rumah. Namun,sejak setahun yang lalu kami tak lagi hidup serumah, ia tinggal di surakarta beserta adik dan uminya yang sedang melanjutkan studi di sana...
20 Seprt 2013 aku tiba di surakarta, dengan maksud mengunjunginya. Karena ini kedatangan yang pertama, istri & anak2 rencananya akan menjemput ku di bandara.

Abi...
Di bandara Umar memanggil ku sambil berlari tunjukkan wajah yang sempurna. Abi capek ya? Ia tanya keadanku bagaimana? Ia tawarkan membawa tas yang ku bawa.Kujawab ia dengan anggukan dan gelengan kepala. Ya...Sebagai orang tua aku memang selalu menampilkan muka yang tak ramah. Jarang senyum dan terkadang keras kepadanya.Aku berharap dengan sikap seperti ini ia tumbuh menjadi anak berwibawa dan berkharisma seperti maksud dan tujuan ku memberi nama. Dan karena ini jualah aku jarang sekali mengajaknya bercanda, bercerita, jalan2 ketempat wisata, membelikan mainan yang ia suka, dan berusaha memahami, mendengarkan apa saja keinginannya.

Aku punya pemahaman, sikap kelemahlembutan seperti memberikan pelukan, memberikan ciuman, mengungkapkan ketakutan dan kesedihan hanya untuk anak perempuan. Tak ada dalam kamusku, laki2 harus diperlakukan seperti itu. Singkat kata, singkat cerita, tak terasa ternyata sudah 7 hari lamanya di surakarta. Artinya, aku harus pulang dan kembali bekerja. Segera kusiapkan barang2 yang akan di bawa. Nasi, buah dan sebotol aqua bawaan yang harus ada. Sebab kali ini, perjalanan ku akan memakan waktu yang cukup lama. Dari surakarta harus transit dulu di jakarta. Belum lagi masalah delay yang seperti membudaya..

Tibalah hari di mana aku harus meninggalkan kota spirit of java. Ketika hendak melangkah, umar marah2 tak tahu kenapa. Tidak mau mandi dan tidak mau ke sekolah. Padahal pagi itu aku harus segera ke bandara yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Umar masih saja bertingkah. Setelah sekian lama menunggu, ditawari ini dan itu ia masih tak mau melepaskan tangan dan kaki ku. Aku tak bisa berbuat apa2, ingin marah tak enak dengan tetangga sebelah. Istriku berkata cobalah peluk dan cium dia!. Cobalah sekali2 sikapi sikapnya dengan cinta!. Batin ku berkata "bukan begitu caranya! Nanti ia tumbuh menjadi anak yang manja!".
Tapi aku juga tak tahu harus bagaimana? Aku diam tak melakukan apa2. Kulihat waktu terus berlalu & membayangi pikiran ku. Akhirnya dengan sedikit terpaksa meski batin terus menolaknya, saran istriku akhirnya kulakukan juga.

Pertama2 aku menggendongnya. Kucoba bicara dengannya, kutanya keinginannya. kami saling bertatap mata. Ia memeluk dan mencium pipiku, dan berkata; "hati2 ya bi..., pulangnya jgn lama2. "Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Sambil melangkah ke dalam taxi yang sudah menunggu di depan rumah aku terdiam 1000 bahasa. Aku terbawa oleh suasana. Seketika pandangan ku kabur semua. Ada sesuatu yang menghalangi di kelopak mata. Lalu keluar dan ku tak kuasa menahannya. Dalam hatiku bertanya kenapa? Kenapa aku tak peka? Sudah begitu keras kah hati? Sampai2 keinginan anak sesederhana ini pun tak kau mengerti?. Kau ajarkan kemarahan apakah engkau menginginkan anakmu hidup dipenuhi rasa permusuhan? Kau ajarkan anakmu ketakutan apakah engkau menginginkan anakmu hidup dipenuhi rasa kegelisahan? Apakah kau lupa tak akan masuk syurga orang yang tidak menyayangi anaknya? Apakah kau lupa, seorang anak tumbuh menjadi dewasa tergantung bagaimana orang tua membiasakan mereka? Hatinya masih suci bagaikan tambang asli yang bersih dari corak dan warna. Astagfirullah hal 'adzim...Aku sampai di bandara dan Pesawat ku sudah dari tadi tiba. Dengan langkah hampa plus berkecamuknya perasaan bersalah, ku panjatkan doa "ya Tuhan kami, anugrahkan kepada kami istri2 kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati dan jadikan kami imam bagi orang2 yang bertaqwa".

Maafkan Abi Yaa Nak

at 00:00  |  No comments

Abi...
Air mata ku membasahi pipi.Ketika suara itu teringat kembali. Bahkan saat tulisan ini dibuat, air mataku tak kunjung berhenti. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi? Semuanya berawal dari sini...
Umar, seperti itulah ia kuberi nama. Nama yang sudah kusiapkan ketika masih berstatus mahasiswa. Aku berharap nama itu akan berguna ketika kelak ia tumbuh dewasa.

Ia anak ku yang pertama,tinggi-besar perawakannya.Ketika ia lahir aku tak bisa menemaninya. Karena melaksanakan tugas sebagai setengah abdi negara...Sekarang 4 thn sudah umurnya. Ia sekolah di tkit taqiya, kira-kira 20 menit-lah jaraknya dari rumah. Namun,sejak setahun yang lalu kami tak lagi hidup serumah, ia tinggal di surakarta beserta adik dan uminya yang sedang melanjutkan studi di sana...
20 Seprt 2013 aku tiba di surakarta, dengan maksud mengunjunginya. Karena ini kedatangan yang pertama, istri & anak2 rencananya akan menjemput ku di bandara.

Abi...
Di bandara Umar memanggil ku sambil berlari tunjukkan wajah yang sempurna. Abi capek ya? Ia tanya keadanku bagaimana? Ia tawarkan membawa tas yang ku bawa.Kujawab ia dengan anggukan dan gelengan kepala. Ya...Sebagai orang tua aku memang selalu menampilkan muka yang tak ramah. Jarang senyum dan terkadang keras kepadanya.Aku berharap dengan sikap seperti ini ia tumbuh menjadi anak berwibawa dan berkharisma seperti maksud dan tujuan ku memberi nama. Dan karena ini jualah aku jarang sekali mengajaknya bercanda, bercerita, jalan2 ketempat wisata, membelikan mainan yang ia suka, dan berusaha memahami, mendengarkan apa saja keinginannya.

Aku punya pemahaman, sikap kelemahlembutan seperti memberikan pelukan, memberikan ciuman, mengungkapkan ketakutan dan kesedihan hanya untuk anak perempuan. Tak ada dalam kamusku, laki2 harus diperlakukan seperti itu. Singkat kata, singkat cerita, tak terasa ternyata sudah 7 hari lamanya di surakarta. Artinya, aku harus pulang dan kembali bekerja. Segera kusiapkan barang2 yang akan di bawa. Nasi, buah dan sebotol aqua bawaan yang harus ada. Sebab kali ini, perjalanan ku akan memakan waktu yang cukup lama. Dari surakarta harus transit dulu di jakarta. Belum lagi masalah delay yang seperti membudaya..

Tibalah hari di mana aku harus meninggalkan kota spirit of java. Ketika hendak melangkah, umar marah2 tak tahu kenapa. Tidak mau mandi dan tidak mau ke sekolah. Padahal pagi itu aku harus segera ke bandara yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Umar masih saja bertingkah. Setelah sekian lama menunggu, ditawari ini dan itu ia masih tak mau melepaskan tangan dan kaki ku. Aku tak bisa berbuat apa2, ingin marah tak enak dengan tetangga sebelah. Istriku berkata cobalah peluk dan cium dia!. Cobalah sekali2 sikapi sikapnya dengan cinta!. Batin ku berkata "bukan begitu caranya! Nanti ia tumbuh menjadi anak yang manja!".
Tapi aku juga tak tahu harus bagaimana? Aku diam tak melakukan apa2. Kulihat waktu terus berlalu & membayangi pikiran ku. Akhirnya dengan sedikit terpaksa meski batin terus menolaknya, saran istriku akhirnya kulakukan juga.

Pertama2 aku menggendongnya. Kucoba bicara dengannya, kutanya keinginannya. kami saling bertatap mata. Ia memeluk dan mencium pipiku, dan berkata; "hati2 ya bi..., pulangnya jgn lama2. "Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Sambil melangkah ke dalam taxi yang sudah menunggu di depan rumah aku terdiam 1000 bahasa. Aku terbawa oleh suasana. Seketika pandangan ku kabur semua. Ada sesuatu yang menghalangi di kelopak mata. Lalu keluar dan ku tak kuasa menahannya. Dalam hatiku bertanya kenapa? Kenapa aku tak peka? Sudah begitu keras kah hati? Sampai2 keinginan anak sesederhana ini pun tak kau mengerti?. Kau ajarkan kemarahan apakah engkau menginginkan anakmu hidup dipenuhi rasa permusuhan? Kau ajarkan anakmu ketakutan apakah engkau menginginkan anakmu hidup dipenuhi rasa kegelisahan? Apakah kau lupa tak akan masuk syurga orang yang tidak menyayangi anaknya? Apakah kau lupa, seorang anak tumbuh menjadi dewasa tergantung bagaimana orang tua membiasakan mereka? Hatinya masih suci bagaikan tambang asli yang bersih dari corak dan warna. Astagfirullah hal 'adzim...Aku sampai di bandara dan Pesawat ku sudah dari tadi tiba. Dengan langkah hampa plus berkecamuknya perasaan bersalah, ku panjatkan doa "ya Tuhan kami, anugrahkan kepada kami istri2 kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati dan jadikan kami imam bagi orang2 yang bertaqwa".

Read More

0 comments:

Wednesday, 8 January 2014

Di suatu pagi, ketika sedang duduk2 dikursi,Pandanganku tertuju kesebuah lemari. Lemari kuning yg diatasnya terdapat hiasan kaligrafi. Hiasan kaligrafi yang berisi ayat kursi. Setelah lama menatapi lemari, setelah puas berdiskusi sendiri, setelah berusaha mendengarkan bisikan hati, apa yang akan dilakukan hari ini? akhirnya kuputuskan untuk mendekati lemari yang telah puluhan tahun berdiri.

Kubuka kaca lemari, kucari buku ringan, menyenangkan dan tentunya bisa memotivasi. O iya...Kupilih buku motivasi karena beberapa hari ini waktu seolah2 berhenti. Kebosanan menjadi teman setiap pagi. Pagi ke pagi terasa begitu lambat berganti.

Kembali ke lemari!
Dari sekian banyak buku motivasi, terselip buku yang berjudul 'karakteristik sahabat nabi'. Masih Sambil berdiri, kubuka daftar isi, ternyata ada 60 sahabat yang diceritakan dibuku ini. Tak termasuk Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali.

Saat itu juga kuputuskan buku yang akan dibaca pagi ini. Ku bawa buku itu ke kursi, ditemani sebotol air putih plus hp samsung galaxy mini (yang masih hutang sama bang jupri). Ku coba utk menikmati buku yg telah lama tersimpan rapi ini. Mudah2an buku ini bisa membuang jauh2 kebosanan yang menghantui. 'Lirihku dalam hati'.

Aku membaca dari sahabat yang bernama Salman Al Farisi. Di buku ini, ia digambarkan memiliki perawakan tinggi, rambutnya lebat dan sangat dihormati.Salman berasal dari desa yg bernama"JI". Ia termasuk warga negara yang disegani. Ia di beri tugas sebagai penjaga api. Simbol kepercayaan agama majusi. Sedangkan Bapaknya sendiri adalah seorang bupati. Saya tidak tau, jabatan apa yang membuat ia disegani. Apakah sebagai anak bupati ataukah sebagai penjaga api (mungkin jabatan seperti ini setara MUI. kali...). Kalau di Indonesia sendiri, anak seorang bupati tentu lebih disegani dibandingkan anak seorang pejabat MUI. Meskipun bapaknya bergelar KH.

Kita lanjutkan!
Perjalanan Salman menuju islam sungguh menakjubkan. Ia tinggalkan kampung halaman, ia tinggalkan pangkat dan kedudukan. Ia pergi ke tempat yang belum dikenal, menemui segala macam rintangan dan hambatan. Demi menjawab kegelisahan hati, ia tinggalkan kesenangan duniawi yang telah lama ia miliki. Padahal waktu itu ia cuma mendengar informasi yang belum pasti!

Bacaan ku terhenti. Otak dan hatiku berdiskusi. Aku berandai2, dan memposisikan diri. Misalkan sekarang posisiku seperti Salman. Jelas, ku tak mampu melakukan. Menempuh perjalanan jauh yang penuh rintangan. Seorang diri tanpa tau situasi dan kondisi daerah yang akan dikunjungi. Sungguh Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki. Betullah apa yang dikatakan imam Al Ghazali ' jika ingin membuktikan kebenaran, kita harus mengenalinya sendiri. Tidak melalui orang yang menekuni '. Contohlah Salman Al Farisi. Lamunan ku berhenti. Ternyata adzan zhuhur telah selesai dari tadi. Dengan sedikit berlari ku penuhi seruan ilahi. Sambil berdoa dalam hati. Ya robbi, beri aku kekuatan tuk meneladani sahabat nabi yang bernama salman al farisi...!!!

Inspirasi : Salman Al Farisi

at 23:58  |  No comments

Di suatu pagi, ketika sedang duduk2 dikursi,Pandanganku tertuju kesebuah lemari. Lemari kuning yg diatasnya terdapat hiasan kaligrafi. Hiasan kaligrafi yang berisi ayat kursi. Setelah lama menatapi lemari, setelah puas berdiskusi sendiri, setelah berusaha mendengarkan bisikan hati, apa yang akan dilakukan hari ini? akhirnya kuputuskan untuk mendekati lemari yang telah puluhan tahun berdiri.

Kubuka kaca lemari, kucari buku ringan, menyenangkan dan tentunya bisa memotivasi. O iya...Kupilih buku motivasi karena beberapa hari ini waktu seolah2 berhenti. Kebosanan menjadi teman setiap pagi. Pagi ke pagi terasa begitu lambat berganti.

Kembali ke lemari!
Dari sekian banyak buku motivasi, terselip buku yang berjudul 'karakteristik sahabat nabi'. Masih Sambil berdiri, kubuka daftar isi, ternyata ada 60 sahabat yang diceritakan dibuku ini. Tak termasuk Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali.

Saat itu juga kuputuskan buku yang akan dibaca pagi ini. Ku bawa buku itu ke kursi, ditemani sebotol air putih plus hp samsung galaxy mini (yang masih hutang sama bang jupri). Ku coba utk menikmati buku yg telah lama tersimpan rapi ini. Mudah2an buku ini bisa membuang jauh2 kebosanan yang menghantui. 'Lirihku dalam hati'.

Aku membaca dari sahabat yang bernama Salman Al Farisi. Di buku ini, ia digambarkan memiliki perawakan tinggi, rambutnya lebat dan sangat dihormati.Salman berasal dari desa yg bernama"JI". Ia termasuk warga negara yang disegani. Ia di beri tugas sebagai penjaga api. Simbol kepercayaan agama majusi. Sedangkan Bapaknya sendiri adalah seorang bupati. Saya tidak tau, jabatan apa yang membuat ia disegani. Apakah sebagai anak bupati ataukah sebagai penjaga api (mungkin jabatan seperti ini setara MUI. kali...). Kalau di Indonesia sendiri, anak seorang bupati tentu lebih disegani dibandingkan anak seorang pejabat MUI. Meskipun bapaknya bergelar KH.

Kita lanjutkan!
Perjalanan Salman menuju islam sungguh menakjubkan. Ia tinggalkan kampung halaman, ia tinggalkan pangkat dan kedudukan. Ia pergi ke tempat yang belum dikenal, menemui segala macam rintangan dan hambatan. Demi menjawab kegelisahan hati, ia tinggalkan kesenangan duniawi yang telah lama ia miliki. Padahal waktu itu ia cuma mendengar informasi yang belum pasti!

Bacaan ku terhenti. Otak dan hatiku berdiskusi. Aku berandai2, dan memposisikan diri. Misalkan sekarang posisiku seperti Salman. Jelas, ku tak mampu melakukan. Menempuh perjalanan jauh yang penuh rintangan. Seorang diri tanpa tau situasi dan kondisi daerah yang akan dikunjungi. Sungguh Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki. Betullah apa yang dikatakan imam Al Ghazali ' jika ingin membuktikan kebenaran, kita harus mengenalinya sendiri. Tidak melalui orang yang menekuni '. Contohlah Salman Al Farisi. Lamunan ku berhenti. Ternyata adzan zhuhur telah selesai dari tadi. Dengan sedikit berlari ku penuhi seruan ilahi. Sambil berdoa dalam hati. Ya robbi, beri aku kekuatan tuk meneladani sahabat nabi yang bernama salman al farisi...!!!

Read More

0 comments:

Muhammad bin Abdullah.
3 tahun diangkat menjadi nabi...
Di bukit shafa ia berorasi..
Untuk menjelaskan agama baru ini...
'Celakalah engkau hari ini,
Hanya utk inikah kau kumpulkan kami?'...
Kata yang keluar dari mulut pamannya sendiri...

Muhammad bin Abdullah.
Ia hidup sebatang kara... Tidak memiliki harta-tahta-senjata...
Marabahaya selalu mengintainya...
Namun, rakyat jelata berlindung kepadanya...

Muhammad bin Abdullah.
Ia menjanjikan penaklukan negara2 adidaya...
Padahal negaranya hanya ada pasir gersang dan tanah membara...
Batu panas bak lambaian neraka...
Pohon2 kering pucuknya seperti kepala setan yang dirajam siksa...
Namun, orang2 beriman selalu bertambah...
Bernaung di bawah panji2 bendera dakwah...

Muhammad bin Abdullah.
Suatu hari ia pergi ke thaif untuk berdakwah...
Ternyata penduduk thaif lebih kejam dari penduduk mekah...
Penduduk thaif mengepung dan melemparinya...
Seketika itu tangannya menengadah seraya berdoa: Ya Allah, kuadukan kepada Mu kelemahan tenaga, Kekurangan usaha...
Serta kerendahan ku dihadapan manusia...
Ya Allah Engkaulah pelindung orang2 lemah... Kepada siapa diri ini Kau serahkan aku pasrah... Apakah kepada orang bermuka masam atau kepada musuh yang kejam. Asal Kau tak murka aku rela..

Muhammad bin Abdullah.
Amr bin Ash berkata...
Disaat ajal kan menjemputnya...
Pada mulanya aku ini kafir harbi...
Orang yang amat keras permusuhannya kepada nabi...
Sampai nabi berdoa agar siksa menimpa kami...

Tapi...
Setelah di bai'at tidak ada seorang manusia pun yang lebih kucintai...
Bahkan dari diri ku sendiri..
Dialah sebaik2 manusia yang pernah kujumpai...
Dia lah sebaik2 sahabat yang kumiliki...

Jika aku diminta...
Tuk melukiskan kepribadiannya...
Aku tak kuasa menggambarkannya...
Aku tak sanggup menatap sepenuh mata...
Semoga sholawat tetap tercurah keatasnya...
Allah humma sholli'ala Muhammad.

Muhammad bin Abdullah

at 23:56  |  No comments

Muhammad bin Abdullah.
3 tahun diangkat menjadi nabi...
Di bukit shafa ia berorasi..
Untuk menjelaskan agama baru ini...
'Celakalah engkau hari ini,
Hanya utk inikah kau kumpulkan kami?'...
Kata yang keluar dari mulut pamannya sendiri...

Muhammad bin Abdullah.
Ia hidup sebatang kara... Tidak memiliki harta-tahta-senjata...
Marabahaya selalu mengintainya...
Namun, rakyat jelata berlindung kepadanya...

Muhammad bin Abdullah.
Ia menjanjikan penaklukan negara2 adidaya...
Padahal negaranya hanya ada pasir gersang dan tanah membara...
Batu panas bak lambaian neraka...
Pohon2 kering pucuknya seperti kepala setan yang dirajam siksa...
Namun, orang2 beriman selalu bertambah...
Bernaung di bawah panji2 bendera dakwah...

Muhammad bin Abdullah.
Suatu hari ia pergi ke thaif untuk berdakwah...
Ternyata penduduk thaif lebih kejam dari penduduk mekah...
Penduduk thaif mengepung dan melemparinya...
Seketika itu tangannya menengadah seraya berdoa: Ya Allah, kuadukan kepada Mu kelemahan tenaga, Kekurangan usaha...
Serta kerendahan ku dihadapan manusia...
Ya Allah Engkaulah pelindung orang2 lemah... Kepada siapa diri ini Kau serahkan aku pasrah... Apakah kepada orang bermuka masam atau kepada musuh yang kejam. Asal Kau tak murka aku rela..

Muhammad bin Abdullah.
Amr bin Ash berkata...
Disaat ajal kan menjemputnya...
Pada mulanya aku ini kafir harbi...
Orang yang amat keras permusuhannya kepada nabi...
Sampai nabi berdoa agar siksa menimpa kami...

Tapi...
Setelah di bai'at tidak ada seorang manusia pun yang lebih kucintai...
Bahkan dari diri ku sendiri..
Dialah sebaik2 manusia yang pernah kujumpai...
Dia lah sebaik2 sahabat yang kumiliki...

Jika aku diminta...
Tuk melukiskan kepribadiannya...
Aku tak kuasa menggambarkannya...
Aku tak sanggup menatap sepenuh mata...
Semoga sholawat tetap tercurah keatasnya...
Allah humma sholli'ala Muhammad.

Read More

0 comments:


Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Bukankah rizqi telah kuberikan dari bayi hingga sekarang?
Bahkan sudah sejak dari kandungan?
Dengan rizki itu kau penuhi kebutuhan sandang, pangan, papan?
Tapi kenapa kau masih meragukan?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Kebebasan telah Ku berikan.
Kau kuasai bumi yang Ku ciptakan.
Kau bebas tuk lakukan perbuatan baik atau kerusakan.
Aku tidak menghukummu kecuali dengan maksud dan satu tujuan. Kebaikan.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Kau minta Jabatan Aku berikan.
Agar kau leluasa beramar ma'ruf nahi mungkar.
Dengan jabatan itu kau ditinggikan.
Dengan jabatan itu pula kau khianati Tuhan.
Kau tebarkan kemiskinan, kelaparan, kebodohan dan ketakutan.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Ku halau engkau dari tempat yang membahayakan.
Ku tuntun engkau ketempat yang memuaskan.
Ku perlihatkan engkau hikmah dari setiap kejadian.
Aku hanya minta kau bersabar barang sebentar.
Kenapa engkau tidak memperhatikan?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Beberapa do'a telah Ku perkenankan.
Sebagian lagi Aku tangguhkan.
Untuk simpanan dikehidupan yang akan datang.
Engkau malah menganggap Ku yang bukan - bukan.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Orang lain kau sadarkan.
Sanak saudaramu kau biarkan.
Bukankah sudah Ku katakan. Jagalah diri dan keluarga mu dari siksaan?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Jumlah rakaat solat sudah Ku kurangkan.
Kalau tak bisa berdiri, duduk, berbaring sesuai kemampuan.
Jika dalam perjalanan kau bisa ringkas, diawalkan atau diakhirkan.
Masih berat kah untuk dilaksanakan?
Amalan apalagi yang bisa diandalkan.
Jika sholat pun dilalaikan?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Sudah kukatakan kepada kalian didalam alquran berulang-ulang.
Kalian tidak akan mampu melaksanakan perintah kalau bukan aku yang menggerakkan.
Mari sini mendekatlah kepada Ku.
Jangan malu-malu.
Minta tolonglah pasti Aku bantu.
Meskipun Aku sudah tau apa yang kau mau.
Tapi Aku ingin melihat engkau tertunduk rapuh di hadapan Ku.
Aku ingin mendengar engkau mengeluh.
Aku ingin mendengar engkau menangis tersedu2.
Kembali lah kepada Ku.
Wahai hamba Ku.

Maka Nikmat Tuhan Kamu Yang Manakah Yang Kamu Dustakan?

at 22:59  |  No comments


Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Bukankah rizqi telah kuberikan dari bayi hingga sekarang?
Bahkan sudah sejak dari kandungan?
Dengan rizki itu kau penuhi kebutuhan sandang, pangan, papan?
Tapi kenapa kau masih meragukan?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Kebebasan telah Ku berikan.
Kau kuasai bumi yang Ku ciptakan.
Kau bebas tuk lakukan perbuatan baik atau kerusakan.
Aku tidak menghukummu kecuali dengan maksud dan satu tujuan. Kebaikan.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Kau minta Jabatan Aku berikan.
Agar kau leluasa beramar ma'ruf nahi mungkar.
Dengan jabatan itu kau ditinggikan.
Dengan jabatan itu pula kau khianati Tuhan.
Kau tebarkan kemiskinan, kelaparan, kebodohan dan ketakutan.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Ku halau engkau dari tempat yang membahayakan.
Ku tuntun engkau ketempat yang memuaskan.
Ku perlihatkan engkau hikmah dari setiap kejadian.
Aku hanya minta kau bersabar barang sebentar.
Kenapa engkau tidak memperhatikan?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Beberapa do'a telah Ku perkenankan.
Sebagian lagi Aku tangguhkan.
Untuk simpanan dikehidupan yang akan datang.
Engkau malah menganggap Ku yang bukan - bukan.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Orang lain kau sadarkan.
Sanak saudaramu kau biarkan.
Bukankah sudah Ku katakan. Jagalah diri dan keluarga mu dari siksaan?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Jumlah rakaat solat sudah Ku kurangkan.
Kalau tak bisa berdiri, duduk, berbaring sesuai kemampuan.
Jika dalam perjalanan kau bisa ringkas, diawalkan atau diakhirkan.
Masih berat kah untuk dilaksanakan?
Amalan apalagi yang bisa diandalkan.
Jika sholat pun dilalaikan?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Sudah kukatakan kepada kalian didalam alquran berulang-ulang.
Kalian tidak akan mampu melaksanakan perintah kalau bukan aku yang menggerakkan.
Mari sini mendekatlah kepada Ku.
Jangan malu-malu.
Minta tolonglah pasti Aku bantu.
Meskipun Aku sudah tau apa yang kau mau.
Tapi Aku ingin melihat engkau tertunduk rapuh di hadapan Ku.
Aku ingin mendengar engkau mengeluh.
Aku ingin mendengar engkau menangis tersedu2.
Kembali lah kepada Ku.
Wahai hamba Ku.

Read More

0 comments:

Ya robbi...
Kami bukan Nabi.
Juga bukan orang suci.
Kami adalah orang yang selalu menzolimi...
Bahkan kepada diri kami sendiri...

Ya robbi...
Kami tau takdir telah di catat dengan rapi...
50rb thn sebelum penciptaan langit dan bumi...
Namun, kami berharap seraya merendahkan diri...

Di tahun baru nanti...
Anugerahkan kepada kami pemimpin yang mengayomi..
Pelayan negri yang menyayangi kami...
Tambahkan kepada kami kesabaran, ketaatan, keimanan...
Beri kami hati yang dipenuhi keikhlasan...
Untuk menerima segala sesuatu yang telah ditetapkan...
Beri kami kebahagiaan di awal, pertengahan, di akhir kehidupan...
Dan Hunian yang penuh kedamaian di masa depan...
Kabulkan segala doa dan harapan...
Keberkahan umur, rizki dan keturunan...
Kenikmatan melakukan apa yang Kau perintahkan...
Jauhkan kami dari hal kesia-siaan...

Ya robbi...
Tidak ada daya dan upaya yang dapat kulakukan kalau tidak Engkau beri kekuatan...

Doa : Malam Satu Muharram

at 22:57  |  No comments

Ya robbi...
Kami bukan Nabi.
Juga bukan orang suci.
Kami adalah orang yang selalu menzolimi...
Bahkan kepada diri kami sendiri...

Ya robbi...
Kami tau takdir telah di catat dengan rapi...
50rb thn sebelum penciptaan langit dan bumi...
Namun, kami berharap seraya merendahkan diri...

Di tahun baru nanti...
Anugerahkan kepada kami pemimpin yang mengayomi..
Pelayan negri yang menyayangi kami...
Tambahkan kepada kami kesabaran, ketaatan, keimanan...
Beri kami hati yang dipenuhi keikhlasan...
Untuk menerima segala sesuatu yang telah ditetapkan...
Beri kami kebahagiaan di awal, pertengahan, di akhir kehidupan...
Dan Hunian yang penuh kedamaian di masa depan...
Kabulkan segala doa dan harapan...
Keberkahan umur, rizki dan keturunan...
Kenikmatan melakukan apa yang Kau perintahkan...
Jauhkan kami dari hal kesia-siaan...

Ya robbi...
Tidak ada daya dan upaya yang dapat kulakukan kalau tidak Engkau beri kekuatan...

Read More

0 comments:

    Popular Posts

Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.