Pesawat Garuda nomor 333 tujuan Jakarta, berangkat pukul 11.55 wiba. (Informasi yg tertera di layar tv bandara). Angin kencang menerjang mata. Kulihat matahari belum berani tampakkan muka. Terhijab awan menghalanginya. Setelah dua hari tercuci hujan begitu lama. Awan gelap masih setia mendampinginya. Cuaca pagi ini tidak jelas maunya apa. Alhamdulillah...
Pukul 08.33 aku tiba di bandara. Pagi-pagi sudah berangkat dari rumah. Aku khawatir pakaianku basah jika hujan turun tiba-tiba. Maklum, ke bandara hanya menggunakan kendaraan roda dua. Di temani 'ojek' yang selalu setia mengantar kemana saja.
Ya...Hari ini aku akan pergi ke jakarta. Meski datang keawalan aku selalu menikmatinya. Aku tak mempermasalahkannya. Karena sudah terbiasa berada disana, seolah-olah bandara sudah menjadi rumah yang kedua. Akhirnya berlama-lama disana suatu pekerjaan yang kusuka. Suka bisa melihat bermacam-macam perilaku manusia. Suka karena bisa melamun dan merenungkan sebuah makna. Dan yang terutama suka karena hati bahagia akan berjumpa seseorang yang jauh disana. Masih ada waktu dua jam setengah aku di bandara. Karena masih lama, kugunakan waktu yang ada agar tidak jadi sia-sia. Kugunakan untuk melanjutkan tulisan yang telah lama tertunda. Tertunda karena ide hilang entah kemana rimbanya. Kucoba mencarinya. Mungkin tersapu angin saat menuju bandara, atau tercecer di jalan raya, atau tinggal di saku celana. Ha..ha..hanya bercanda. Kembali ke cerita.
Kumulai semuanya dengan Bismillah. Kulihat tulisan pertama, masih bercerita tentang cinta. Dari halaman satu sampai halaman 3, kuedit kata-kata yang salah. Kutambah kata-kata yang terlupa. Tapi masih juga aku belum bisa meneruskannya. Kutunggu beberapa lama. Berharap bisa merangkai kata menjadi sebuah kalimat indah. Sambil mengamati pesawat garuda, apakah sudah tiba. Ternyata masih belum juga ada ide yg tercipta. Kalau sudah begini aku menyerah. Takkan kupaksa otak ini bekerja. Aku tak ingin membebaninya. Lagian kalau menulis disertai dengan paksaan hasilnya kurang memuaskan. Mengecewakan. Akhirnya aktivitas kualihkan. Kubuka tas dan kuambil buku yg akan kubaca. Buku yang ditulis oleh M. Anis matta. Aku suka membaca tulisannya. Aku senang dengan sosoknya.
Kata-katanya memotivasi. Tulisannya bergizi mengundang energi. Bahasanya tinggi tapi mudah dipahami. Gayanya natural tanpa politisasi. Kalau lama-lama diamati, perawakannya seperti jet Li. (Asumsi pribadi). Ketika sedang asyik menikmati, kudengar ada yang ngaji dikursi sebelah kiri. Kusimak surah ini. Karena ku tahu beberapa arti didalamnya. Kucoba utk meresapi.
Kaaf Haa Yaa 'Ain Shaad.
(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.
Ia berkata "Yaa Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, yaa Tuhanku.
Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera,
Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, yaa Tuhanku, seorang yang diridhai".
Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.
Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua".
Tuhan berfirman: "Demikianlah". Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali".
Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat".
Kulihat siapa yang membaca surat ke 19 ini. Subhanallah!.. Itukan anis matta? Terkejut. Masih tak percaya. Syukurlah ada simbol nomor 3 dibajunya. Kudekati dan memberanikan diri untuk berbasa-basi. Assalamualaikum. Pak Jen, Astagfirullah. Maaf, Ust. Anis kan ya? Dari mana mau ke mana? Iya...saya Anis Matta. Ini dari pontianak mau pulang ke Jakarta. O iya..kenalkan saya aziz. Saya juga mau ke jakarta. Cuma nanti langsung ke surakarta. Menemui istri kuliah disana.
(Ust anis menutup alqurannya)
"maaf ustadz jadi terganggu tilawahnya."
" O..tidak apa-apa sudah selesai kok."
" Maaf ust. Emm...saya mau minta nasehat dari ustadz. Itupun kalau boleh"
" Bolehlah...Kenapa tidak. Nasehat apa?"
" Terserah ustadz, nasehat yang diberikan kepada anak ustadz ketika sedang galau juga bolehlah!"
" Ha..ha..bisa saja antum ini. Begini! Saya ingin mulai dari sebuah pertanyaan sederhana"
" Apa itu ustadz? "
" Berapa kali dalam sehari antum mengucapkan 'aku cinta padamu' pada istri? "
" Ha! Kok masalah ini sih?" Keluhku dalam hati. Seraya mengerutkan dahi. " Maaf ustadz seberapa pentingkah pertanyaan itu harus saya jawab? Perlukah ungkapan perasaan itu diketahui oleh istri? Bukankah rasa itu telah terwakilkan setiap hari? Dengan bekerjanya seorang suami, mengantarnya kepasar untuk belanja kebutuhan sehari-hari dan selalu mendampingi kemanapun ia pergi, apakah itu belum cukup bukti? "
" Begini akhi...Kita semua dari waktu ke waktu, membutuhkan kepastian. Kepastian agar kita tidak salah menterjemahkan isyarat yang diberikan. Bukankah kepastian juga diminta nabi zakaria di surah yang tadi saya baca? ketika mengetahui Allah mengabulkan permintaannya untuk mendapatkan seorang putera, Nabi zakaria berkata "berikan aku tanda!". QS.19.10. Tidak hanya nabi zakaria, nabi Ibrahim pun sama. Ia juga meminta 'tanda' agar lebih yakin bahwa Tuhan maha kuasa. Kuasa menghidupkan dan mematikan setiap yang bernyawa. "
Akhi, antum harus mengerti. Dari suasana ketidakpastian itulah biasanya setan masuk ke hati. Karena salah satu misi besar setan kata ibnul qoyyim al jauzi adalah memisahkan orang yang saling mencintai. "Dan mereka belajar dari keduanya sesuatu yang dengannya mereka dapat memisahkan seseorang dari pasangannya."(QS.2:102).
Dari bab ini,ungkapan verbal berupa kata menemukan maknanya. Bahkan sesungguhnya, ada begitu banyak kekurangan dalam perbuatan yang 'beban psikologisnya' dapat terkurangi hanya dengan kata. Di dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa suatu ketika ada sahabat nabi yang sedang duduk disebelahnya. Kemudian ia berkata "ya rasulullah, sesungguhnya aku mencintai dia." 'Sudahkah engkau menyatakan cintamu ke padanya?'."Belum, ya rasulullah, kata sahabat itu."Pergilah menemui orang itu dan katakan bahwa kamu mencintainya. Kata rasulullah. Nah jika kepada sesama sahabat atau ikhwah saja rasa cinta harus diungkapkan secara verbal, dapatkah kita membayangkan, seperti apakah verbalnya ungkapan rasa cinta yang semestinya kita berikan kepada 'pasangan' (istri)?
Mataku mulai berkaca-kaca. Tapi aku tidak mau ia melihatnya. Aku pura-pura. Seolah-olah ada serangga masuk ke mata, hingga aku bisa menyekanya. Ia lanjut berkata. Ditengah kesulitan ekonomi seperti sekarang ini, tidak banyak di antara kita yang sanggup memenuhi kebutuhan rumah tangga secara ideal. Kita harus lebih banyak berlapang dada dan toleransi. Minimal 'berkata lah yang baik' untuk mengurangi efek psikologi yang ditimbulkan oleh ketidakmampuan kita memenuhi kewajiban istri. Antum mungkin melihat, betapa lelahnya istri menyelesaikan pekerjaan rumah, kuliah, menjemput dan mengantar anak ke sekolah.
Apakah kerja berat itu disertai dengan sarana teknologi yang mungkin memudahkannya, akhi? Apakah hanya karena istri kita seorang daiyah dan seorang mujahidah sehingga tak butuh ungkapan ini? (i love you). Atau kita sudah sama-sama tahu, sama-sama paham, atau karena kita sudah sama-sama tua dan karenanya tidak cocok menggunakan cara-cara 'anak muda' menyatakan cinta? Setan apakah yang telah membuat kita begitu rupa, pelit untuk memberikan sesuatu yang manis walaupun itu hanya sebatas 'kata'? Setan apakah yang telah membuat kita angkuh untuk merendah dan membuka rahasia hati kita yang sesungguhnya? Menyatakannya secara sederhana dan tanpa ada kepentingan dibelakangnya? Aku Terdiam. Aku menangis sejadi-jadinya. Di dalam hati beristighfar tak henti-hentinya. Sudah! cukup ustadz!. Cukup...cukup...cukup. !
Tapi mungkin juga ada situasi begini. Antum mencintai istri, tidak terhambat dengan keangkuhan untuk menyatakannya berulang-ulang. Masalahnya hanya satu. Antum tak bisa melakukan itu. Dan itu membuat antum jadi kaku. Jika antum adalah golongan orang semacam ini. maka tulislah puisi sapardi djoko damono ini. Berikan kepada istri.
Aku ingin..
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat di ucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Aku ingin..
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat di ucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Pak...pak. bangun pak! Semua orang menatapku. Seorang security dihadapanku.Ternyata aku menangis di dalam tidur menderu-deru dan mengganggu. Astagfirullah hal'adziim..segera ku buka headseat di telingaku. Murottal kumatikan dari hpku. Ternyata sudah sampai surah maryam ayat 90. Ku ambil pensil dan buku. Kusambung tulisan yang tertunda waktu itu. Kuberi judul ik hou van jou.
0 comments: