Sunday, 8 June 2014

Merapi Effect

at 03:52  |  No comments

Bulan purnama mestinya indah dilihat mata. Utuh sempurna tebarkan pesona. Meremajakan syaraf-syaraf di kepala kita. Menginspirasi semua yang bernyawa. Menentramkan hati yang gundah galau gulana. Pelipur lara,resah dan gelisah. Merayu menggoda seluruh makhluk ciptaanNya. Bulan purnama seharusnya menentramkan jiwa. Apalagi dinikmati bersama seseorang yang kita cinta. Bisa keluarga, bisa teman bervisi sama. Atau bisa juga pasangan yang tak sempat pacaran setelah nikah seperti saya. Intinya, Purnama adalah lukisan indah sang pencipta. Dan akan memberi kedamaian kepada siapa saja yang menatapnya. 

Tapi Ternyata oh ternyata. Tak kusangka tak kuduga. Ku lihat di sana, purnama di surakarta sepertinya berbeda. Cahaya purnama, tertutup awan gunung merapi yang terbangun dari tidur panjangnya. Menghembuskan angin panas yang berbahaya. Cahaya berganti hawa panas di mana-mana. Udara membawa hawa panas masuk di setiap rumah warga. Jadilah malam yang seharusnya indah, bertepatan dengan ulang tahun si dia berubah makna. Rencana ingin menghatamkan malam bersama keluarga, jadi tertunda. Sebagai hamba kami hanya bisa pasrah. Ketika malam yang indah diambil pemilikNya, Allah Subhanahuwwata'ala. 

Sebelumnya memang sudah ada kabar berita bahwa beberapa hari ke depan semua gunung akan mulai bergairah. Diantaranya, Gunung Selamet di spirit of java/surakarta (tak jauh dari tempat ku berada). Begitu pula gunung merapi di jogjakarta. Masuk dalam status siaga.

Saat itu, pendingin ruangan sudah seharian bekerja. Berusaha menstabilkan suasana. Jendela rumah semua terbuka. Hawa panas masih saja terasa. Istriku berkata, kondisi seperti ini, mandi 5x sehari, adalah kegiatan yang biasa. Hawa panas ini berbeda dengan panas di daerah garis katulistiwa. O iya.. saya coba sedikit mengilustrasikanya. Air mendidih, kemudian letakkan tangan anda di atasnya. Rasakan uap air yang membakar dikulit anda. Begitulah kira-kira rasanya. Di tambah lagi dengan kondisi rumah yang berdempetan jaraknya, nyaris tidak ada tanah yang tersisa diantara  tetangga. Akibatnya sirkulasi udara jadi kurang baik kualitasnya. Kedepan mungkin Agus DR harus mengenalkan produk m-panelnya disana (saran saya,mudah-mudahan ia membaca). 

Dalam hatiku bersuara, akhirnya ku menikmati juga bagaimana rasanya hawa panas yang biasa ku dengar di media massa. Ya robbi..dahsyat sekali hawa ini. Detak jantung terasa pindah di ujung jari. Inikah hawa panas yg paling ditakuti dari letupan gunung merapi? Hawa inikah yang mengakhiri nyawa si juru kunci? Batuk, pilek mulai menghampiri.Tenggorokan kering, terasa sakit sekali. Seperti sedang menelan duri. Serasa ada Neraka di rumah sendiri. Obat kimiawi yang biasa muncul di televisi, tuk mengobati rasa sakit ini sudah lama kujauhi. Aku lebih cocok obat alami,yang biasa kugunakan untuk terapi meredakan rasa nyeri. Buah, sayur,dan air putih rupa-rupanya tak juga bereaksi. 

Ya robbi..wahai penguasa langit dan bumi, lindungilah kami. Turunkan hujan, hentikan musibah ini. Pukul 21.00 wib Alhamdulillah, anak-anak sudah bisa tidur dengan kipas mengarah ke muka. Digeser sedikit saja ia terbangun mencari kipasnya. Tak tega. Tapi, lahaulawala kuwwataillaabillah.. Syukurlah rasa kantuk mengobati penderitaannya walau hanya sementara. Cukuplah.

Sungguh, pengalaman yang sangat berharga ini akan selalu teringat sampai mati. Maksud hati ingin menuliskannya segera agar anda para pembaca, bisa merasa dan bantu sambil berdoa. Namun apalah daya, ku tak mampu merangkai kata. Di tambah lagi hampir berbulan-bulan lamanya, ku tak berinteraksi dengan ide dan tulisan yang sudah menumpuk di kepala. Dalam kondisi seperti itu, otak pun tak mampu bekerja paksa. Meski di ajak menulis dan membaca. Membayangkan sesuatu yang indah-indah. Kuyakinkan harapan itu masih ada. Kuyakinkan aku pasti bisa. Masih belum bisa. 

Sungguh malam yang luar biasa. Pukul 00.00 wib aku bisa sedikit memejamkan mata. Aku tak tahu rasa kantuk ataukah hujan yang turun begitu lebatnya, mengakhiri penderitaan kami semua. Ataukah hanya bermimpi melihat fatamorgana. Karena air hujan hanya sedikit menyapu hawa. Tidak panasnya. Tapi Syukur alhamdulillah bumi ternyata basah.

Kalau gak salah 3 hari kami merasakan hawa panasnya. Kalau tidak ada hujan kami tak berani mengira-ngira. Apa yang akan terjadi selanjutnya. Sungguh Allah maha kuasa. Ia tidak akan memberi beban di luar kemampuan setiap hamba. Setelah hujan yang pertama, berturut-turut Allah turunkan hujan berikutnya. Bersamaan dengan itu pula, setelah sekian lama tertunda, beberapa tulisan yang sudah tersimpan lama di kepala, akhirnya ada dihadapan anda. Allhamdulilah...eh salah. alhamdulillah..

Share
Posted by Unknown
About the Author

Write admin description here..

0 comments:

    Popular Posts

Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.