Bulan purnama mestinya indah dilihat mata. Utuh sempurna tebarkan
pesona. Meremajakan syaraf-syaraf di kepala kita. Menginspirasi semua
yang bernyawa. Menentramkan hati yang gundah galau gulana. Pelipur
lara,resah dan gelisah. Merayu menggoda seluruh makhluk ciptaanNya. Bulan
purnama seharusnya menentramkan jiwa. Apalagi dinikmati bersama
seseorang yang kita cinta. Bisa keluarga, bisa teman bervisi sama. Atau
bisa juga pasangan yang tak sempat pacaran setelah nikah seperti
saya. Intinya, Purnama adalah lukisan indah sang pencipta. Dan akan
memberi kedamaian kepada siapa saja yang menatapnya.
Tapi Ternyata oh
ternyata. Tak kusangka tak kuduga. Ku lihat di sana, purnama di
surakarta sepertinya berbeda. Cahaya purnama, tertutup awan gunung
merapi yang terbangun dari tidur panjangnya. Menghembuskan angin panas
yang berbahaya. Cahaya berganti hawa panas di mana-mana.
Udara membawa hawa panas masuk di setiap rumah warga. Jadilah malam yang
seharusnya indah, bertepatan dengan ulang tahun si dia berubah
makna. Rencana ingin menghatamkan malam bersama keluarga, jadi tertunda.
Sebagai hamba kami hanya bisa pasrah. Ketika malam yang indah diambil
pemilikNya, Allah Subhanahuwwata'ala.
Sebelumnya memang sudah ada kabar
berita bahwa beberapa hari ke depan semua gunung akan mulai bergairah.
Diantaranya, Gunung Selamet di spirit of java/surakarta (tak jauh dari
tempat ku berada). Begitu pula gunung merapi di jogjakarta. Masuk dalam
status siaga.
Saat itu, pendingin ruangan sudah seharian bekerja. Berusaha menstabilkan suasana. Jendela rumah semua terbuka. Hawa panas masih saja terasa. Istriku berkata, kondisi seperti ini, mandi 5x sehari, adalah kegiatan yang biasa. Hawa panas ini berbeda dengan panas di daerah garis katulistiwa. O iya.. saya coba sedikit mengilustrasikanya. Air mendidih, kemudian letakkan tangan anda di atasnya. Rasakan uap air yang membakar dikulit anda. Begitulah kira-kira rasanya. Di tambah lagi dengan kondisi rumah yang berdempetan jaraknya, nyaris tidak ada tanah yang tersisa diantara tetangga. Akibatnya sirkulasi udara jadi kurang baik kualitasnya. Kedepan mungkin Agus DR harus mengenalkan produk m-panelnya disana (saran saya,mudah-mudahan ia membaca).
Dalam hatiku
bersuara, akhirnya ku menikmati juga bagaimana rasanya hawa panas yang
biasa ku dengar di media massa. Ya robbi..dahsyat sekali hawa ini. Detak
jantung terasa pindah di ujung jari. Inikah hawa panas yg paling ditakuti
dari letupan gunung merapi? Hawa inikah yang mengakhiri nyawa si juru
kunci? Batuk, pilek mulai menghampiri.Tenggorokan kering, terasa sakit
sekali. Seperti sedang menelan duri. Serasa ada Neraka di rumah sendiri.
Obat kimiawi yang biasa muncul di televisi, tuk mengobati rasa sakit
ini sudah lama kujauhi. Aku lebih cocok obat alami,yang biasa kugunakan
untuk terapi meredakan rasa nyeri. Buah, sayur,dan air putih rupa-rupanya tak juga bereaksi.
Ya robbi..wahai penguasa langit dan
bumi, lindungilah kami. Turunkan hujan, hentikan musibah ini. Pukul 21.00
wib Alhamdulillah, anak-anak sudah bisa tidur dengan kipas mengarah ke
muka. Digeser sedikit saja ia terbangun mencari kipasnya. Tak tega.
Tapi, lahaulawala kuwwataillaabillah.. Syukurlah rasa kantuk mengobati
penderitaannya walau hanya sementara. Cukuplah.
Sungguh, pengalaman yang
sangat berharga ini akan selalu teringat sampai mati. Maksud hati ingin
menuliskannya segera agar anda para pembaca, bisa merasa dan bantu
sambil berdoa. Namun apalah daya, ku tak mampu merangkai kata. Di tambah
lagi hampir berbulan-bulan lamanya, ku tak berinteraksi dengan ide dan
tulisan yang sudah menumpuk di kepala. Dalam kondisi seperti itu, otak
pun tak mampu bekerja paksa. Meski di ajak menulis dan membaca.
Membayangkan sesuatu yang indah-indah. Kuyakinkan harapan itu masih ada.
Kuyakinkan aku pasti bisa. Masih belum bisa.
Sungguh malam yang luar
biasa. Pukul 00.00 wib aku bisa sedikit memejamkan mata. Aku tak tahu
rasa kantuk ataukah hujan yang turun begitu lebatnya, mengakhiri
penderitaan kami semua. Ataukah hanya bermimpi melihat fatamorgana.
Karena air hujan hanya sedikit menyapu hawa. Tidak panasnya. Tapi Syukur
alhamdulillah bumi ternyata basah.
Kalau gak salah 3 hari kami merasakan hawa panasnya. Kalau tidak ada hujan kami tak berani mengira-ngira. Apa yang akan terjadi selanjutnya. Sungguh Allah maha kuasa. Ia tidak akan memberi beban di luar kemampuan setiap hamba. Setelah hujan yang pertama, berturut-turut Allah turunkan hujan berikutnya. Bersamaan dengan itu pula, setelah sekian lama tertunda, beberapa tulisan yang sudah tersimpan lama di kepala, akhirnya ada dihadapan anda. Allhamdulilah...eh salah. alhamdulillah..
0 comments: