Abi...
Air mata ku membasahi pipi.Ketika suara itu teringat kembali. Bahkan saat tulisan ini dibuat, air mataku tak kunjung berhenti. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi? Semuanya berawal dari sini...
Umar, seperti itulah ia kuberi nama. Nama yang sudah kusiapkan ketika masih berstatus mahasiswa. Aku berharap nama itu akan berguna ketika kelak ia tumbuh dewasa.
Ia anak ku yang pertama,tinggi-besar perawakannya.Ketika ia lahir aku tak bisa menemaninya. Karena melaksanakan tugas sebagai setengah abdi negara...Sekarang 4 thn sudah umurnya. Ia sekolah di tkit taqiya, kira-kira 20 menit-lah jaraknya dari rumah. Namun,sejak setahun yang lalu kami tak lagi hidup serumah, ia tinggal di surakarta beserta adik dan uminya yang sedang melanjutkan studi di sana...
20 Seprt 2013 aku tiba di surakarta, dengan maksud mengunjunginya. Karena ini kedatangan yang pertama, istri & anak2 rencananya akan menjemput ku di bandara.
Abi...
Di bandara Umar memanggil ku sambil berlari tunjukkan wajah yang sempurna. Abi capek ya? Ia tanya keadanku bagaimana? Ia tawarkan membawa tas yang ku bawa.Kujawab ia dengan anggukan dan gelengan kepala. Ya...Sebagai orang tua aku memang selalu menampilkan muka yang tak ramah. Jarang senyum dan terkadang keras kepadanya.Aku berharap dengan sikap seperti ini ia tumbuh menjadi anak berwibawa dan berkharisma seperti maksud dan tujuan ku memberi nama. Dan karena ini jualah aku jarang sekali mengajaknya bercanda, bercerita, jalan2 ketempat wisata, membelikan mainan yang ia suka, dan berusaha memahami, mendengarkan apa saja keinginannya.
Aku punya pemahaman, sikap kelemahlembutan seperti memberikan pelukan, memberikan ciuman, mengungkapkan ketakutan dan kesedihan hanya untuk anak perempuan. Tak ada dalam kamusku, laki2 harus diperlakukan seperti itu. Singkat kata, singkat cerita, tak terasa ternyata sudah 7 hari lamanya di surakarta. Artinya, aku harus pulang dan kembali bekerja. Segera kusiapkan barang2 yang akan di bawa. Nasi, buah dan sebotol aqua bawaan yang harus ada. Sebab kali ini, perjalanan ku akan memakan waktu yang cukup lama. Dari surakarta harus transit dulu di jakarta. Belum lagi masalah delay yang seperti membudaya..
Tibalah hari di mana aku harus meninggalkan kota spirit of java. Ketika hendak melangkah, umar marah2 tak tahu kenapa. Tidak mau mandi dan tidak mau ke sekolah. Padahal pagi itu aku harus segera ke bandara yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Umar masih saja bertingkah. Setelah sekian lama menunggu, ditawari ini dan itu ia masih tak mau melepaskan tangan dan kaki ku. Aku tak bisa berbuat apa2, ingin marah tak enak dengan tetangga sebelah. Istriku berkata cobalah peluk dan cium dia!. Cobalah sekali2 sikapi sikapnya dengan cinta!. Batin ku berkata "bukan begitu caranya! Nanti ia tumbuh menjadi anak yang manja!".
Tapi aku juga tak tahu harus bagaimana? Aku diam tak melakukan apa2. Kulihat waktu terus berlalu & membayangi pikiran ku. Akhirnya dengan sedikit terpaksa meski batin terus menolaknya, saran istriku akhirnya kulakukan juga.
Pertama2 aku menggendongnya. Kucoba bicara dengannya, kutanya keinginannya. kami saling bertatap mata. Ia memeluk dan mencium pipiku, dan berkata; "hati2 ya bi..., pulangnya jgn lama2. "Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Sambil melangkah ke dalam taxi yang sudah menunggu di depan rumah aku terdiam 1000 bahasa. Aku terbawa oleh suasana. Seketika pandangan ku kabur semua. Ada sesuatu yang menghalangi di kelopak mata. Lalu keluar dan ku tak kuasa menahannya. Dalam hatiku bertanya kenapa? Kenapa aku tak peka? Sudah begitu keras kah hati? Sampai2 keinginan anak sesederhana ini pun tak kau mengerti?. Kau ajarkan kemarahan apakah engkau menginginkan anakmu hidup dipenuhi rasa permusuhan? Kau ajarkan anakmu ketakutan apakah engkau menginginkan anakmu hidup dipenuhi rasa kegelisahan? Apakah kau lupa tak akan masuk syurga orang yang tidak menyayangi anaknya? Apakah kau lupa, seorang anak tumbuh menjadi dewasa tergantung bagaimana orang tua membiasakan mereka? Hatinya masih suci bagaikan tambang asli yang bersih dari corak dan warna. Astagfirullah hal 'adzim...Aku sampai di bandara dan Pesawat ku sudah dari tadi tiba. Dengan langkah hampa plus berkecamuknya perasaan bersalah, ku panjatkan doa "ya Tuhan kami, anugrahkan kepada kami istri2 kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati dan jadikan kami imam bagi orang2 yang bertaqwa".
Air mata ku membasahi pipi.Ketika suara itu teringat kembali. Bahkan saat tulisan ini dibuat, air mataku tak kunjung berhenti. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi? Semuanya berawal dari sini...
Umar, seperti itulah ia kuberi nama. Nama yang sudah kusiapkan ketika masih berstatus mahasiswa. Aku berharap nama itu akan berguna ketika kelak ia tumbuh dewasa.
Ia anak ku yang pertama,tinggi-besar perawakannya.Ketika ia lahir aku tak bisa menemaninya. Karena melaksanakan tugas sebagai setengah abdi negara...Sekarang 4 thn sudah umurnya. Ia sekolah di tkit taqiya, kira-kira 20 menit-lah jaraknya dari rumah. Namun,sejak setahun yang lalu kami tak lagi hidup serumah, ia tinggal di surakarta beserta adik dan uminya yang sedang melanjutkan studi di sana...
20 Seprt 2013 aku tiba di surakarta, dengan maksud mengunjunginya. Karena ini kedatangan yang pertama, istri & anak2 rencananya akan menjemput ku di bandara.
Abi...
Di bandara Umar memanggil ku sambil berlari tunjukkan wajah yang sempurna. Abi capek ya? Ia tanya keadanku bagaimana? Ia tawarkan membawa tas yang ku bawa.Kujawab ia dengan anggukan dan gelengan kepala. Ya...Sebagai orang tua aku memang selalu menampilkan muka yang tak ramah. Jarang senyum dan terkadang keras kepadanya.Aku berharap dengan sikap seperti ini ia tumbuh menjadi anak berwibawa dan berkharisma seperti maksud dan tujuan ku memberi nama. Dan karena ini jualah aku jarang sekali mengajaknya bercanda, bercerita, jalan2 ketempat wisata, membelikan mainan yang ia suka, dan berusaha memahami, mendengarkan apa saja keinginannya.
Aku punya pemahaman, sikap kelemahlembutan seperti memberikan pelukan, memberikan ciuman, mengungkapkan ketakutan dan kesedihan hanya untuk anak perempuan. Tak ada dalam kamusku, laki2 harus diperlakukan seperti itu. Singkat kata, singkat cerita, tak terasa ternyata sudah 7 hari lamanya di surakarta. Artinya, aku harus pulang dan kembali bekerja. Segera kusiapkan barang2 yang akan di bawa. Nasi, buah dan sebotol aqua bawaan yang harus ada. Sebab kali ini, perjalanan ku akan memakan waktu yang cukup lama. Dari surakarta harus transit dulu di jakarta. Belum lagi masalah delay yang seperti membudaya..
Tibalah hari di mana aku harus meninggalkan kota spirit of java. Ketika hendak melangkah, umar marah2 tak tahu kenapa. Tidak mau mandi dan tidak mau ke sekolah. Padahal pagi itu aku harus segera ke bandara yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Umar masih saja bertingkah. Setelah sekian lama menunggu, ditawari ini dan itu ia masih tak mau melepaskan tangan dan kaki ku. Aku tak bisa berbuat apa2, ingin marah tak enak dengan tetangga sebelah. Istriku berkata cobalah peluk dan cium dia!. Cobalah sekali2 sikapi sikapnya dengan cinta!. Batin ku berkata "bukan begitu caranya! Nanti ia tumbuh menjadi anak yang manja!".
Tapi aku juga tak tahu harus bagaimana? Aku diam tak melakukan apa2. Kulihat waktu terus berlalu & membayangi pikiran ku. Akhirnya dengan sedikit terpaksa meski batin terus menolaknya, saran istriku akhirnya kulakukan juga.
Pertama2 aku menggendongnya. Kucoba bicara dengannya, kutanya keinginannya. kami saling bertatap mata. Ia memeluk dan mencium pipiku, dan berkata; "hati2 ya bi..., pulangnya jgn lama2. "Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Sambil melangkah ke dalam taxi yang sudah menunggu di depan rumah aku terdiam 1000 bahasa. Aku terbawa oleh suasana. Seketika pandangan ku kabur semua. Ada sesuatu yang menghalangi di kelopak mata. Lalu keluar dan ku tak kuasa menahannya. Dalam hatiku bertanya kenapa? Kenapa aku tak peka? Sudah begitu keras kah hati? Sampai2 keinginan anak sesederhana ini pun tak kau mengerti?. Kau ajarkan kemarahan apakah engkau menginginkan anakmu hidup dipenuhi rasa permusuhan? Kau ajarkan anakmu ketakutan apakah engkau menginginkan anakmu hidup dipenuhi rasa kegelisahan? Apakah kau lupa tak akan masuk syurga orang yang tidak menyayangi anaknya? Apakah kau lupa, seorang anak tumbuh menjadi dewasa tergantung bagaimana orang tua membiasakan mereka? Hatinya masih suci bagaikan tambang asli yang bersih dari corak dan warna. Astagfirullah hal 'adzim...Aku sampai di bandara dan Pesawat ku sudah dari tadi tiba. Dengan langkah hampa plus berkecamuknya perasaan bersalah, ku panjatkan doa "ya Tuhan kami, anugrahkan kepada kami istri2 kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati dan jadikan kami imam bagi orang2 yang bertaqwa".
0 comments: